Bambu, Tali-temali, dan Pucuk-pucuk Cengkih

Luwukpost.id -

PANEN cengkih mesti dipersiapkan sejak jauh hari. Petani masih mempertahankan bambu untuk memetik komoditas berjuluk emas hitam itu.

Alisan, Harian Luwuk Post

PULUHAN ruas bambu terbaring di dermaga Desa Paisumosoni, Kecamatan Banggai Utara, Kabupaten Banggai Laut. Di balik perkampungan ini, pucuk cengkih terlihat goyang tak tentu arah.

Bambu dan cengkih dua sisi tak terpisah. Bambu-bambu itu dibiarkan mengering sebelum akhirnya digunakan untuk memanjat cengkih. “Masih tetap pakai bambu,” jelas seorang petani setempat, Syaridin Kader, Senin (25/8/2020) malam.

Sebagai salah satu daerah sentra cengkih, terdapat dua jenis tangga yang digunakan. Petani menyebutnya tangga I dan II. Artinya, tangga I hanya terdiri dari satu bambu kemudian dilubangi, lalu diisi kayu tempat berpijak.

Tangga I ini menggunakan bambu yang ukurannya lebih besar agar mampu menopang beban cengkih yang dipetik dan petani yang menaikinya. “Kalau jenis talinya sama,” tutur dia.

Sementara tangga II terdiri dari 2 bambu yang dilubangi. Di antara keduanya terdapat bambu berukuran kecil yang telah dibentuk sebagai tempat pijakan. Ukuran bambunya lebih kecil daripada tangga I.

Dari puluhan desa penghasil cengkih, terdapat perbedaan penggunaan tangga. Syarifudin menyebutkan, di desanya misalnya menggunakan tangga II. Bergeser ke Desa Tolise Tubono hingga Potil Pololoba, Kecamatan Banggai telah menggunakan tangga I.

Ia berpendapat, penggunaan tangga berkaitan erat dengan kebiasaan sejak masa lampau ketika awal cengkih dibudidayakan di Kabupaten Banggai Laut. “Iya, kebiasaan. Orang yang biasa naik tangga II takut naik tangga I,” tuturnya.

Di Kecamatan Banggai Tengah misalnya, menggunakan tangga I. Sebab, sejak dulu masyarakat di wilayah ini tak terbiasa menggunakan tangga II. “Itu yang sementara dibikin tangga I,” ujar Ahmad P. Rajab, petani Cengkih di Desa Monsongan.

Syarifudin yang juga tenaga pendidik ini mengakui, tangga I lebih berat ketika dipindahkan. Namun, kini tantangan itu tidak lagi dialami banyak petani, karena telah hadir katrol. “Sekarang sudah agak bagus,” jelas dia.

Sejumlah petani yang ditemui Harian Luwuk Post sepakat bahwa populasi bambu kian menurun saban tahun. Karena itu, ketika mendekati panen cengkih, mereka mengupah petani untuk mencari jenis bambu yang bisa digunakan untuk tangga cengkih.
“Iya karena diambil setiap tahun, sementara bambu butuh waktu lama untuk besar,” kata Syarifudin. (*)