Yang Muda Yang Bertani

Luwukpost.id -

SETELAH lewat separuh siang, Muhamad Nuzul Rahman bergegas ke lahan perkebunan holtikulturannya. Aktivitas itu sekitar tiga bulan terakhir dijalani.

Alisan, Luwuk Post

LAHAN holtikultura itu masih di wilayah Desa Lampa, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut. Tak jauh dari kawasan perkantoran. Sehingga sangat mudah dijangkau.

Lahan yang diolahnya dulu belum bersih seperti sekarang. “Lalu banyak rumput, rimbun, ada lima batang kelapa. Beruntung dibantu eksavator,” ucapnya.

Lahan sekitar 20 X 20 meter persegi itu, mulai digarap awal Juni 2020. Penanaman dilakukan 8 Juni 2020. “Awal tanam sawi dan kangkung, panen sawi 25 Juni,” tuturnya.

Proses penggarapan lahan tidak mudah. Setelah dibersihkan harus dibuat demplot. Kini terbentuk 30 demplot berukuran 80 sentimeter x 9 meter. “Enam bedeng atau demplot itu sekitar Rp600 ribu per minggu,” papar Nuzul.

Namun, yang bisa dilayani Nuzul hanya dua pedagang di Pasar Baru Banggai. Padahal, di tempat transaksi tradisional itu berjumlah ratusan. “Dua saja itu  sudah kewalahan untuk penuhi,” katanya.

Padahal, ia telah mengupayakan dalam sebulan maksimal dua kali panen. Sejumlah petani holtikultura di daerah ini hanya sekali panen. Akibatnya stok sering kosong. Akhirnya, produk dari luar daerah mendominasi. “Kami buat dua kali panen dalam sebulan. Caranya metode penanaman,” jelasnya.

Metode penanaman itu tidak sekaligus, tetapi bertahap. Sehingga bisa dua kali panen. “Tantangannya hama dan cuaca. Yang paling menantang itu hama,” tutur anak muda 29 tahun itu.

Nuzul sebenarnya bisa menjual hasil holtikulturanya melalui platform media sosial, tetapi langsung ke konsumen. Tanpa melibatkan pedagang. “Ini bukan hanya soal bisnis semata, tapi lebih ke percontohan,” terang dia.

Kini, di lahannya telah tumbuh cabai, baya, dan beberapa jenis holtikultura lainnya. “Untuk mendorong kemandirian pangan bukan hanya tugas pemerintah, tapi banyak pemangku kepentingan. Termasuk teman-teman alumni pertanian,” tutur alumni Fakultas Hukum Universitas Sawerigading, Sulawesi Selatan itu.(*)