Dari Hamparan Kelapa Menjadi Landasan Pesawat, Pembangunan Bandara Balut Belum Setengah Perjalanan

Luwukpost.id -

HARSON memicingkan mata di bawah paparan matahari Selasa (15/9) siang. Perlahan, pria 47 tahun itu, melintas dari sebuah tenda menuju tempat tinggal pekerja pembangunan bandar udara.

Alisan, Luwuk Post

Tanah yang di pijaknya hari ini, dulu merupakan hamparan perkebunan rakyat milik warga tiga desa di Kecamatan Banggai Utara, Kabupaten Banggai Laut. Termasuk lahan milik Harson.  “Saya punya ada kelapa, jambu mete,” katanya menjelaskan lahannya yang kurang dari 1 hektare.

Atas nama kepentingan publik, Herson rela perkebunan kelapanya digusur untuk pembangunan bandar udara. Dibeli dengan harga Rp10 ribu per meter. “(Uang pembebasan lahan) untuk bangun rumah, (beli lahan) tidak lagi. Di tempat lain saya punya juga ada kelapa,” tuturnya.

Harson, satu dari sekian petani yang juga merelakan lahannya dibebaskan untuk pembangunan bandara. Total lahan yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur perhubungan udara itu, 235 hektare. Di tanah itu, tersebar tanaman petani Desa Kendek, Lokotoy, hingga Desa Paisumosoni di Kecamatan Banggai Utara.

Setelah merampungkan lahan, pembangunan infrastruktur bandara dimulai tahun 2019. Kemudian berlanjut tahun 2020 ditandai dengan penandatanganan kontrak pekerjaan Februari lalu.

Tahun kedua ini Kementerian Perhubungan RI mengucurkan dana sebesar Rp 30,1 miliar. Bupati Banggai Laut Wenny Bukamo menuturkan, tahun 2020 terdapat dua item pengerjaan yang dibiayai APBN, yakni cut and fill dan pemagaran.

“Tahun ini dua yang kita kerjakan, semua dari dana APBN dalam hal ini yang dikelola Kementerian Perhubungan,” tutur bakal calon petahana kepala daerah itu di lokasi pembangunan bandara, kemarin (15/9).

Selain dari APBN, pembangunan bandar udara juga mendapat intervensi APBD Provinsi Sulawesi Tengah. Tahun 2020 Pemprov Sulteng mengucurkan sekitar Rp6 miliar untuk meningkatkan ruas jalan menuju bandar udara. “Untuk diketahui, ruas jalan Banggai-Lokotoy itu sudah dibangun oleh pemerintah provinsi. Itu yang sudah kita lewati itu sampai di pintu masuk bandara,” tuturnya.

Dari pintu masuk bandar udara menuju landasan pacu dan terminal kedatangan nantinya, telah direncanakan. Wenny menawarkan agar rute curam itu dibangun jembatan. Di bawah jembatan itu menjadi tempat penampungan air. “Pak gubernur sangat merespons itu, mudah-mudahan kita bisa laksanakan, sehingga kelihatan lebih artistik, lebih indah,” katanya.

Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola mengatakan, pembanguna fisik telah dijanjikan Kementerian Perhubungan untuk diselesaikan. “Nanti tugas kita bersama-sama untuk mendesak Kementerian Perhubungan menyelesaikan bandara ini,” tuturnya di lokasi yang sama.

Meski tidak mudah, kata dia, tetapi sangat monumental bagi Kabupaten Banggai Laut. Bisa meng-cover calon penumpang dari Provinsi Maluku Utara dan Kabupaten Banggai Kepulauan. “Kalau jadi luar biasa, bandara ada di antara pulau-pulau di Banggai Laut, sangat strategis bandara ini,” ujar dia.

Di masa pembebasan lahan, pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah juga mengucurkan anggaran. Gubernur mengakui, sempat tersendat-sendat, tetapi akhirnya selesai. “Maklumlah, namanya juga dana bantuan hibah kabupaten pembebasan lahan itu,” jelasnya.

Di sisa waktunya menjabat sebagai orang nomor 1 di Provinsi Sulawesi Tengah, Longki akan ikut mendorong Kementerian Perhubungan terkait kelanjutan pembangunan bandar udara di Kabupaten Banggai Laut. “Di sisa waktu saya, masih bisa membantu meyakinkan pemerintah pusat,” terangnya.

Bupati Wenny Bukamo juga menaruh harapan yang sama. Ia mengakui pembangunan bandar udara yang terletak 15 kilometer dari pusat kota itu, belum setengah perjalanan. Karena itu, pihaknya membutuhkan bantuan ataupun supervisi dari pemerintah Provisni Sulawesi Tengah.

“Pak Gubernur ini seingat kami mengakhiri masa jabatan masih pertengahan tahun depan. Masih lama. Masih ada kebijakan-kebijakan yang bisa dibuat Pak Gubernur. Kita berharap tahun depan minimal sudah bisa test landing,” ujar dia.

Pantauan Harian Luwuk Post, landasan pacu bandar udara yang direncanakan memiliki panjang 1.600 meter tengah digarap. Di ujung landasan, terlihat birunya Laut Maluku. “Banyak batu,” kata Harson yang lama bercocok tanam di lahan yang kelak didarati burung besi itu. (*)