Geliat dari Gugusan Labobo

Luwukpost.id -

TANPA aba-aba, armada dari kayu itu melesat keluar dari Pelabuhan Rakyat Banggai, Kabupaten Banggai Laut. Sebagai pemberitahuan adalah waktu. Setiap pukul 11.00 kapal telah bersiap membelah lautan menuju Pelabuhan Mansalean, Kecamatan Labobo.

Alisan, Luwuk Post

SATU jam di atas laut, sebuah kapal terlihat sedang bekerja menancapkan tiang besi. Di sana, dermaga berkapasitas besar tengah digarap Kementerian Perhubungan dengan anggaran belasan miliar.

Kelak, daerah ini punya dua pelabuhan besar, tetapi itu bukan hal baru. Konon memang Banggai Laut jalur perdagangan sejak dahulu kala.

“Iya sudah itu jembatan yang didatangi Pak Gubernur kemarin,” kata seorang penumpang kapal laut itu.

Air laut yang cukup tenang memandu perjalanan. Berhadapan dengan Pulau Banggai, membuat Pulau Labobo hanya ditempuh 2 jam dari ibukota kabupaten.

Jika menggunakan speed boat tak sampai satu jam, tetapi mesti mengeluarkan ongkos Rp 50 ribu. Sementara kapal reguler hanya Rp 30 ribu per penumpang.

Kapal-kapal kayu menjadi urat nadi perekonomian. Mengangkut bahan pokok hingga kendaraan roda dua. Sebelum didistribusikan ke seluruh desa di wilayah tersebut atau mengaspal di jalanan.

Sebaliknya, mengangkut hasil bumi seperti cengkih.

Kapal yang awalnya menarik pelatuk gas, tiba-tiba berjalan perlahan. Itu karena nahkoda segera melego tali di Dermaga Mansalean.

Begitu tiba di ibukota Kecamatan Labobo ini, memaksa untuk segera mengelilingi gugusan pulau. Tak dinyana, infrastruktur jalan sudah cukup baik untuk sebuah kecamatan. Meski ukurannya lebih kecil.

Desa Lipu Lalongo menjadi tujuan awal. Ke sana, melewati Desa Tengkel dan Alasan, sebelum naik ke Bukit Matanggalan.

Gugusan berbatu ini memerlihatkan luasnya Laut Maluku dan hijaunya hutan bakau di sekitar Lipu Lalongo. “Iya dibangun pemerintah desa,” kata Aswan Basir, seorang warga setempat.

Pemerintah Desa Lipu Lalongo membangun tempat peristirahatan dan menyediakan kursi bagi yang ingin melepas lelah.

Bagi mereka yang melempar jauh rencana di seberang dengan menumpangi kapal-kapal yang setia menunggu di dermaga setengah beton itu.

MASIH ALAMI: Air laut berwarna hijau yang dihimpit pohon lebat di sisi kiri dan kanan di Desa Lalong, Kecamatan Labobo. [Foto: Alisan/Harian Luwuk Post]
MASIH ALAMI: Air laut berwarna hijau yang dihimpit pohon lebat di sisi kiri dan kanan di Desa Lalong, Kecamatan Labobo. [Foto: Alisan/Harian Luwuk Post]

Dari Lipu Lalongo sebenarnya terdapat jalan ke Pantai Binotik. Destinasi berkonsep literasi yang dirintis Erni Aladjai.

Peserta residensi Makassar International Writers Festival di Perth, Australia Barat. Erni memang berasal dari desa ini.

Dari Desa Lipu Lalongo, saatnya bergerak ke Desa Lalong, kemudian menembus lagi Desa Mansalean.

Sepanjang jalan, proyek-proyek dengan anggaran miliaran rupiah digelontorkan, misalnya pembangunan jalan di Lalong Kansim.

Yang menarik, di penghujung Desa Lalong, terdapat air laut berwarna hijau yang dihimpit pohon lebat di sisi kiri dan kanan.

Sementara kapal-kapal tua hanya teronggok, sampan dan rakit berlabuh. Perkakas, pukat, hingga tali-temali meriung di bawah bangunan berkayu beralaskan tanah.  “Iya dikelola pemdes, tetapi di sebelah yang ada gerbangnya,” kata Anto, warga Desa Mansalean.

Mengelilingi gugusan Pulau Labobo hanya membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam.

Itu sudah termasuk singgah sebentar membeli ikan rowa di tempat pengasapan untuk menyantapnya dengan Ubi Banggai sebagai menu makan malam. (*)