Terhadap “Peternakan” Orwell

Luwukpost.id -

Resensi Buku 

 

Judul Buku        : Animal Farm

Penulis              :  George Orwell   

Penerbit            : Bentang Pustaka

Tahun Terbit      :  2016

Tebal Halaman  : 140 Halaman

 

Oleh: Agung Saadjad

Animal Farm adalah mahakarya yang mendapat penghargaan Retro Hugo Award (1996) dan Promatheus Hall of Fame Award (2011) untuk kategori novela terbaik.

Tentu saja ini akan menjadi sebuah pertanyaan, untuk apa penganugerahan itu diberikan pada seorang penulis yang setengah abad lalu telah mati karena tuberkulosis. Orwell berusia 48 tahun saat meninggal.

Saya sekarang memahami popularitas buku ini. Juga kepopuleran si penulis, Orwell yang merupakan nama pena dari “Eric Arthur Blair”. Patungnya yang diabadikan di halaman kantor pusat BBC London, Inggris, menandai jejak kepenulisannya.

Setelah membaca buku ini untuk kedua kalinya belum lama ini, saya membayangkan Orwell lebih seperti pesulap ketimbang penulis. Melakui novela yang berdurasi kurang lebih 140 halaman, iamerangkum sejarah dan sifat manusia secara ringkas, dan secara keseluruhan menggunakan hewan sebagai simbol.

Saya menggambarkannya sebagai “fiksi” sejarah sengaja memakai topeng. Menjadi dongeng ketika disajikan kepada anak-anak, meskipun sesungguhnya Animal Farm bukan fabel dengan sasaran pembaca anak-anak. Buku ini merupakan novel alegori politik yang ditulis setelah Perang Dunia II, sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesianya, Animal Farm akan berarti “Peternakan Hewan”. Saya pribadi lebih senang dengan sebutan judul dalam tanda petik. Novela ini ditulis pada tahun 1944, oleh pesulap berkeyakinan sosialis (maksud saya Orwell) dalam bentuk alegori kehidupan untuk mengkritik rezim penguasa dan kebijakan-kebijakannya.

Novel ini menggambarkan betapa korup dan tamak tokoh di dalamnya. Sindiran ini ditujukan di masa revolusi Rusia. Ke depannya novela ini entah merujuk pada siapa. Menurut saya, sederhananya bahwa penulis memperkenalkan satire ini, karena ia ingin memerangi dan menelanjangi para pemimpin rezim tersebut melalui tulisan.

Judulnya mungkin menyesatkan orang banyak, yang memunculkan dugaan bahwa itu adalah buku untuk anak-anak. Namun, jangan menilai buku sebeljm membacanya. Buku ini menggambarkan segala sesuatu yang salah dengan masyarakat, dan kita sendiri.

Sekarang saya mengatakan “serba salah”. Maksud saya, novela ini tidak memamerkan masalah seperti pemanasan global, polusi, penebangan liar dan sebagainya. Tidak, ini hanya perilaku atau konsekuensi dari mentalitas, dan ras tertentu atau kelas sosial untuk mendapatkan kekuatan utama. Masalah itu terletak pada pekerjaan, kedudukan dan pastinya muatan isu-isunya.

Saya pikir, ini yang cukup menarik, setingnya  diformat di sebuah peternakan di suatu tempat di Inggris, yang penuh dengan binatang domestik.

Pada suatu malam si babi tua, Major yang bijaksana, mengumpulkan para binatang di peternakan untuk menceritakan mimpinya.

Setelah sekian lama hidup di bawah tirani manusia, yang kita ketahui bersama bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa menghasilkan. Si Major mendapati mimpi, ketika kelak pemberontakan dilakukan binatang terhadap manusia, akan menciptakan dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.

Akhirnya pemberontakan itu benar-benar terjadi. Kekuasaan manusia digulingkan di bawah pimpinan dua babi cerdas: Snowball dan Napoleon. Namun, kekuasaan sungguh memabukkan. Demokrasi yang selalu digaung-gaungkan berbelok kembali menjadi tiran, di mana pemimpin harus selalu benar.

Dualisme kepemimpinan tak bisa dibiarkan. Salah satunya harus disingkirkan, walaupun dengan kekerasan.

Peternakan Hewan merupakan bacaan tepat saat ini, mengingat banyak negara telah mengalaminya.

Akankah sejarah terulang kembali? Sementara saya berharap tidak. Saya merefleksikan,  alegori tersebut juga berlaku untuk organisasi, intistusi, tempat kerja atau bahkan keluarga. Apakah orang-orang akan senang dengan peran yang dijalankan, apakah ada tujuan bersama, apakah semua orang benar-benar memikirkan kesejahteraan bersama?

Terhadap kepemilikan, manusia merumuskan masyarakat mereka sendiri, yang bekerja dengan tata kelola tertentu. Sementara hal-hal tampak sederhana pada awalnya, masalah tidak terduga muncul pada waktu-waktu yang tidak diketahui.

Buku ini memamerkan berbagai aspek negatif kehidupan manusia, ketidaktahuan, sifat memanipulatif dan tentunya licik, sungguh banyak komentar politik yang sangat berani.

Ini semacam Tontonan yang ingin ditawarkan masa depan. Membuat saya seperti seorang bocah yang belum merasakan gelinya orgasme, dilahirkan sebagai korban, dilahirkan untuk hidup di tengah konflik dan kehidupan liar. Keadaan telah sedemikian kacau. Sampai sekarang saya belum benar-benar bisa tertawa, melihat semua persamaan antara dunia dan kita, binatang dan kita, dan sebaliknya.

Saya berpendapat jika binatang-binatang itu menyadari kekuatan mereka, maka tidak akan ada (manusia) berkuasa di atas mereka, dan tidak akan ada seekor sapi di dunia ini yang menjadi penarik gerobak. Memang terdengar sedikit liar, jika ditarik dari sudut pandang binatang. Dan saya rasa, manusia akan mempertimbangkan setiap tindakan mereka.

Tidak banyak yang bisa dilaporkan hari ini, secara normal saya perlu berolahraga dan sarapan pagi. Tetapi saya memilih menulis, kemudian pergi untuk beberapa batang rokok dan sebotol kopi.

“Peternakan Hewan” sudah setengah jalan untuk ketiga kalinya. Binatang-binatang telah mengusir manusia, tidak ada lagi pembantaian dan pelecehan. Mereka semua bisa bekerja untuk diri mereka sendiri sekarang. Ini tampaknya akan berjalan lancar untuk sementara waktu, tetapi binatang-binatang seperti babi, keledai, dan anjing akan mengambil perannya masing-masing.

Ada sebuah kutipan menarik pada esai “Politics and the English Language” milik Orwell, yang pertama kali dimuat di Horizon pada tahun 1946 yang cukup terkenal itu.  “Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuh tampak dihormati”. Karena sudah bertambah umur, saya menjadi lebih sadar menanggapi bahasa politik, paling tidak sudah mulai berhati-hati pada omong kosong yang sedemikian lantangnya terdengar.

Jika berandai-andai menjadi politikus, mungkin saja saya akan korup karena terpaksa oleh kepentingan dan mungkin akan mati kelaparan karena mempertahan sebuah idealisme. Pandangan ini memang tidak menginspirasi, hanya membuat banyak orang beranggapan ini sebagai lelucon yang pantas ditertawakan. Tetapi, sungguh ini tidak lucu, ini sudah menjadi kebudayaan yang kurang lebih sama.

Di luar dari itu semua, di luar sana ada begitu banyak buku dan pengarang yang memasukkan keterlibatan masa depan dalam tulisan, serta mendorong kita untuk mempertimbangkan mengapa mereka ditulis, dan mengingat kekuatan apa yang terkandung di dalamnya.

Mereka(pengarang dan bukunya) layak diperiksa. Ini membuat saya berpikir dalam-dalam pada sebuah benda kecil (buku), yang diperlakukan sebagai cermin, refleksi dan titik dari segalah sesuatu yang terjadi sekarang ini.

Yang digunakan Orwell sangat besar dan mendalam, membutuhkan banyak pengamatan untuk dapat diuraikan, dan seolah-olah dirinya hadir sebagai penghormatan bagi rak baku, dan pustaka mini kami. “Animal Farm“ pendek tapi membutuhkan banyak napas di dalamnya. (*)