Jalan Sunyi Melestarikan Mangrove

Luwukpost.id -

LUWUK, LUWUK POST– Di sudut Desa Bone Baru, rumah panggung itu berdiri membelakangi bakau. Siang itu, angin bertiup sepoi sejurus gerimis yang membasahi pasir putih di sela pohon kelapa.

Di sisi rumah yang teduh ini, bibit-bibit bakau disemai sebelum ditanam untuk memenuhi pesisir desa yang terletak di Kecamatan Banggai Utara, Kabupaten Banggai Laut itu.

Bagi Abdul Rahman B. Ngoning, bibit bakau bukan hal baru. Sejak lama ia terlibat upaya pelestarian mangrove di desanya. Bahkan, Abdul sejak duduk di bangku SMA. “Di kelompok Khatulistiwa Alam Lestari, awal itu sekitar 2012,” katanya saat ditemui Harian Luwuk Post, Minggu (24/1).

Ia menceritakan, saat itu kondisi mangrove cukup memprihatinkan. Bakau banyak ditebang untuk dijadikan kayu bakar. “Tantangan berat itu sosialisasi. Mengubah mindset masyarakat,” tuturnya.

Meski saat itu hanya menjadi anggota kelompok, Abdul sangat aktif membantu sosialisasi membangun kesadaran pentingnya bakau hingga soal bahaya membuang sampah di laut. “Setelah itu, baru masuk penanaman,” jelas dia.

Kini, upaya yang panjang itu tampak. Bakau kembali rimbun seiring tumbuhnya kesadaran warga. Di dalam perkampungan maupun di pojok desa. Bahkan, jika hendak ke Bone Baru dari arah Banggai, Ibu Kota Kabupaten Banggai Laut, rimbun bakau yang dilihat lebih dulu.

Saat ini, tiga spesias mangrove tumbuh di Desa Bone Baru, yakni Bruguiera, Rhizophora, dan Avvicenia.  “Brugeria tidak terlalu banyak tapi ada. Saya belum cari yang lain-lain. Rhizophora yang dominan,” katanya.

Meski begitu, penanaman tak henti dilakukan Abdul dan kawan-kawannya di Khatulistiwa Alam Lestari yang kini telah berkembang menjadi yayasan. Pada Hari Bumi 22 April 2020, mereka menanam kembali mangrove.

Abdul mengatakan, di lokasi yang berdekatan dengan ruas jalan itu akan terus ditanam, hal ini untuk menghindari abrasi. “Yang ada abrasi di Tikungan, itu waktu Hari Bumi kita buat kegiatan,” tuturnya. (ali)