Aminuddin Ponulele dan Karier yang Paripurna

Luwukpost.id -

PALU, LUWUK POST–Pada 5 Juli 1939 lahir seorang pemimpin di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Ia adalah Prof Emeritus Aminuddin Ponulele. Kini, ia tutup usia.

Almarhum “kembali” di usia 82 tahun, di Rumah Sakit Budi Agung, Rabu (27/1) pukul 10.55 Wita karena lanjut usia. Kabar duka itu menyebar cepat di seantero Provinsi Sulawesi Tengah. Sekitar pukul 14.00 Wita, rumah duka di Jalan Lasoso Palu Barat Kota Palu dipenuhi pelayat.

Di pintu pagar, berjejer karangan bunga ucapan duka. Mobil pelat merah dan hitam berjejer hampir di sepanjang Jalan Lasoso yang ditutup, tenda pun didirikan untuk para pelayat yang datang.

Gubernur Sulteng, Longki Djanggola, terlihat mendatangi rumah duka, sebelumnya juga hadir Gubernur Sulteng terpilih Rusdy Mastura, dan Wakil Gubernur Sulteng Rusli Baco Dg Palabbi. Beberapa pejabat teras Pemprov Sulteng dan anggota DPRD Sulteng juga terlihat di rumah duka. Masyarakat dan tokoh-tokoh lain terus berdatangan melepas Sang Profesor.

Aminuddin Ponulele dikenal sebagai manusia dengan karier sempurna. Tiga jabatan prestisius di Provinsi Sulteng pernah didudukinya.  Ia pernah menjabat Rektor Universitas Tadulako tahun 1994-1997, selanjutnya menjabat Ketua DPRD Sulteng pada periode transisi orde baru ke reformasi tahun 1997-2001. Setelahnya, ia terpilih menjadi Gubernur Sulteng periode 2001-2006, bersama wakilnya Rully Azis Lamadjido.

Pada pemilihan gubernur tahun 2006-2011, ia kalah dan digantikan B. Paliudju sebagai Gubernur Sulteng terpilih. Kemudian Aminuddin Ponulele terpilih kembali menduduki Ketua DPRD Sulteng Periode 2009-2014, menggantikan Murad Nasir, politisi asal Kabupaten Banggai.

Pada pemilihan legislatif 2014-2019, ia terpilih kembali melalui Partai Golkar yang dibesarkannya. Pada pemilihan legislatif 2019, era Aminuddin Ponulele berakhir, dan digantikan Nilam Sari Lawira.

Aminuddin Ponulele meniti kariernya dari bawah. Ia pernah menjadi wartawan olahraga pada tahun 1970-an—yang saat itu masih menggunakan mesin ketik. Karier wartawannya dijalani, saat dirinya sudah berstatus PNS berpangkat pengatur perbendaharaan pada tahun 1958.

Para kolega dan orang yang mengenalnya, merasa kehilangan atas kepergian almarhum. Salah satunya Wakil Ketua DPRD Sulteng, Muharram Nurdin. Ia mengenal Aminuddin Ponulele sejak menjadi mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) pada tahun 1990. Saat itu, almarhum adalah Pembantu Rektor I yang membidangi akademik sebelum dipercayakan menjadi Rektor Untad.

“Selepas jadi mahasiswa, saya kembali bertemu dengan almarhum di DPRD Provinsi Sulteng. Saya ingat betul, tahun 1999 saya menjadi pimpinan sementara DPRD, almarhum adalah salah satu anggota DPRD yang taat pada aturan tata tertib, almarhum selalu hadir tepat waktu dan mengikuti persidangan sampai selesai,” katanya.

“Kepiawaian dia mengelola politik, mengantar almarhum dipilih secara aklamasi menjadi ketua DPRD, sementara tiga wakilnya dipilih melalui proses voting tertutup,” imbuhnya.

Menurut Muharram, karier almarhum sangat  paripurna karena semasa hidupnya pernah mengabdi sebagai guru, dosen, dan rektor. Sementara jabatan politiknya di eksekutif sebagai gubernur, dan empat kali di legislatif sebagai Ketua DPRD Sulteng.

Selain sebagai Ketua Golkar Sulteng, almarhum pernah jadi ketua PSSI Sulteng, Ketua PWI Sulteng, dan menjadi pendiri beberapa yayasan sosial.

“Saya merasa kehilangan seorang figur pemimpin, guru, dan tokoh panutan. PDI Perjuangan Sulteng mengucapkan belasungkawa yang dalam atas kepergian beliau,” kata Muharram.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan masyarakat sangat kehilangan sosok tokoh dan panutan yang memiliki jasa begitu besar di dalam membangun bangsa, Negara dan daerah Sulawesi Tengah.

Olehnya itu, Gubernur Longki Djanggola meminta kepada seluruh kantor pemerintah di Sulawesi Tengah menaikkan bendera setengah tiang selama tiga hari, mulai tanggal 28 hingga 30 Januari 2021. (bas/awi)