30 Desa di Banggai Laut Masih Tertinggal

Redaksi Luwuk Post
BELUM DIKELOLA: Garis pantai berpasir putih di Desa Kelapa Lima, Kecamatan Banggai Selatan, Kabupaten Banggai Laut, yang sering dikunjungi Sabtu (9/1). Sejumlah desa mengembangkan sektor pariwisata untuk membuka lapangan kerja, tetapi Desa Kelapa Lima yang masih tertinggal justru enggan mengelola potensi pariwisatanya. [Foto: Alisan/Harian Luwuk Post]
BELUM DIKELOLA: Garis pantai berpasir putih di Desa Kelapa Lima, Kecamatan Banggai Selatan, Kabupaten Banggai Laut, yang sering dikunjungi Sabtu (9/1). Sejumlah desa mengembangkan sektor pariwisata untuk membuka lapangan kerja, tetapi Desa Kelapa Lima yang masih tertinggal justru enggan mengelola potensi pariwisatanya. [Foto: Alisan/Harian Luwuk Post]

BANGGAI, LUWUK POST-Seluruh pemangku kepentingan terkait terbukti belum bekerja maksimal mendorong pertumbuhan dari akar rumput. Indeks Desa Membangun (IDM) tahun 2020 menjadi cermin masih buruknya pengelolaan dana desa enam tahun terakhir.

IDM tahun 2020 menunjukkan, masih terdapat 30 desa tertinggal dari total 63 desa di Kabupaten Banggai Laut. IDM merupakan indeks Komposit yang dibentuk berdasarkan ketahanan sosial, ketahanan ekonomi, dan indeks ketahanan ekologi atau lingkungan.

Desa tertinggal tersebar di Kecamatan Banggai Utara, Banggai Selatan, Labobo, Bangkurung, dan Bokan Kepulauan. Sedangkan desa-desa di Kecamatan Banggai dan Banggai Tengah masuk dalam tahapan berkembang.

Pantauan Harian Luwuk Post, sejumlah infrastruktur yang dibangun pemerintah desa justru tak bermanfaat. Di Desa Popisi, Kecamatan Banggai Utara yang juga berstatus tertinggal terdapat pasar desa dan lapangan sepak bola yang telah menelan sekitar Rp 600 juta tak produktif.  Adapun di sejumlah desa di Kecamatan Bangkurung, Harian Luwuk Post membelanjakan dana desa untuk papan tenis meja dan kini perlahan mengalami kerusakan tanpa menghasilkan atlet.

Di Desa Kelapa Lima, Kecamatan Banggai Selatan yang juga berstatus tertinggal terdapat destinasi wisata yang justru dibiarkan tanpa dikelola. Di Desa Paisumosoni, Kecamatan Banggai Utara yang menyandang status berkembang terdapat program peternakan ayam yang telah menghabiskan sekitar Rp 257 juta, tetapi mengalami kegagalan sejak awal.

Tahun 2015 tercatat, dana desa yang mengucur ke daerah ini sebesar Rp 17.487.476.000, kemudian meningkat lagi tahun 2016 menjadi Rp 39.240.030.000, dan tahun 2017 melonjak drastis menjadi Rp 50.423.497.000.

Tahun 2018 sempat mengalami penurunan, sehingga menyisakan Rp 47.192.680.000, tetapi 2019 kembali naik hingga mencapai Rp 55.056.531.000, dan tahun 2020 kembali meningkat menjadi Rp 57.097.434.000. Tahun 2021 dana desa sebesar Rp 57.128.912.000, sehingga terdapat penambahan Rp 31.478.000 dari tahun sebelumnya.

Evaluasi secara rutin justru bukan datang dari Dinas PMD-P3A Kabupaten Banggai Laut, tetapi dimulai dari kepala wilayah. Camat Labobo Muhamad Nuh H. N. Ndura, mengatakan, Januari 2021 mengumpulkan pemerintah desa dan BPD untuk mengevaluasi realisasi program tahun 2020. “Kita terapkan protokol kesehatan. Setiap beberapa bulan juga ada, tapi ada Covid-19,” jelas dia, Senin (11/1).

Sejak masuk menjadi Camat Labobo, ia menggalakan pelestarian lingkungan dengan melarang pembuangan sampah di laut. “Sekarang di Desa Paisu Lamo ada Viar (kendaraan roda tiga) yang jemput sampah di rumah,” tuturnya.

Sementara di Desa Lalong, saat ini fokus mengembangkan sektor pariwisata. Di desa itu terdapat air laut yang berwarna hijau yang dihimpit pohon lebat di sisi kiri dan kanan. “Itu tempat baru,” katanya. Desa Lalong masih berstatus tertinggal bersama Desa Padingkian, Lipu Talas, Bontosi, dan Alasan. (ali)


Komentar

Berita Berikutnya

Pemda Banggai Bentuk Tim Terpadu Penanganan Sosial

LUWUK,LUWUK POST-Pemerintah daerah kabupaten Banggai akan melakukan penertiban terhadap sejumlah orang yang selama ini meresahkan warga. Asisten II Sekteraris Daerah, Alfian Djibran menuturkan, sebelum penertiban dilakukan, pemda melalui Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Sosial, BRSUD, Camat dan lurah dalam kota Luwuk akan melakukan pendataan pengemis berkedok sebagai pemulung dan orang […]
Alfian Djibran