Budaya Literasi Masih Rendah

Luwukpost.id -

PALU, LUWUK POST–Fenomena bermedia sosial di zaman ini mengkhawatirkan ulama mengenai budaya literasi bagi generasi Indonesia di masa yang akan datang.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama, Provinsi Sulawesi Tengah Sulteng, Dr H Rusman Langke, menyatakan, sangat jelas budaya baca masyarakat Indonesia sangat rendah.

“Minat baca masyarakat Indonesia memprihatinkan. Lebih senang bertutur, menonton dan mendengar. Padahal ayat yang pertama turun Iqra artinya baca,” kata Rusman Langke pada seminar Internasional  “Menalar Pesan Spiritual Alquran Untuk Mengejawantahkan Misi Pendidikan dan Dakwah Yang Rahmatan Lil ‘Alamin”, Jumat (5/2).

Kegiatan tersebut diselenggarakan Pengurus Wilayah (PW) Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) Sulawesi Tengah bersama Jam’iyyatul Qurro Wal Huffadz (JQH) Nahdlatul ulama (NU) secara virtual.

Menurut Rusman, dari data Unesco, minat baca masyarakat Indonesia 0,001 persen. Dari 1.000 orang Indonesia cuma 1 orang yang rajin membaca.

“Ini mengindikasikan rendahnya literasi bagi generasi saat ini. Masyarakat muslim Indonesia lebih suka kopi paste dari pada menulis, lebih suka mendengar ceramah di youtube daripada membaca. Lebih suka yang instan ketimbang proses,” kata Rusman.

Menurutnya bila kembali kepada spirit Alquran, wahyu pertama mengindikasikan betapa pentingnya membaca dalam arti luas menyampaikan, menelaah, menggalang meneliti mengetahui.

“Fenomena ini dikhawatirkan menyebabkan kematian kepakaran keahlian di bidang keilmuan seolah tidak lagi dibutuhkan masyarakat. Umat tidak lagi menganggap tidak penting kepakakaran, toh menganggap bisa mendapat dari internet,” kata Rusman.

Yang dilakukan DDI bekerjasama dengan NU Sulteng satu hal positif bagi generasi masa yang akan datang.

Kegiatan tersebut juga mengundang pembicara  Ketua PW DDI Sulteng Prof M Asy ‘ari, Ketua PW NU Sulteng KH Abdullah Latopada, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah DR Rusli Baco Dg Pallabi, Ketum PP JQH NU Jakarta KH Saifullah Ma’shum dan Sekjen PB DDI di Jakarta Drs KH Helmi Ali Yafie.

Sementara kegiatan tersebut diikuti peserta dari luar negeri selain Indonesia yaitu dari Brunei Darussalam dan Malaysia. (bas)