Burhan Labelo, Dirikan Museum untuk Koleksi Benda Bersejarah

Redaksi Luwuk Post
MUSEUM PRIBADI: Koleksi piring zaman dahulu Burhan Labelo yang telah pecah. Di bagian lain, terdapat piring zaman dahulu yang masih utuh dan sejumlah benda bersejarah lainnya. [Foto: Purnomo/Harian Luwuk Post]

Burhan Labelo menyimpan sejumlah benda-benda peninggalan sejarah. Memilih mengoleksi atas kesadaran pelestarian sejarah Banggai. Burhan memberi nama Lipu Tumbuno untuk museum pribadinya itu.

Awal mula pembuatan museum pribadi ini sekitar empat tahun lalu dan merupakan inisiatif sendiri. “Saya merasa terpanggil untuk ini,” kata Burhan.

Dari luar, bangunan itu tak berbeda dari yang lain. Dari ruas jalan jalur II di Desa Lampa, Kecamatan Banggai, harus masuk ke sebuah lorong baru terlihat papan nama museum. Burhan Labelo membangun museum ini masih satu area dengan rumah pribadinya. Ia merelakan lahannya untuk mendirikan bangunan yang menyimpan berbagai benda-benda bersejarah.

Nama museum Lipu Tumbuno diberikan oleh sesepuhnya dari Sea-Sea. Koleksi museum Lipu Tumbuno berasal dari berbagai daerah di Banggai Laut dan Banggai Kepulauan. “Kalau dari luar tidak ada,” ujarnya.

Banyak koleksi yang dibelinya dalam bentuk pecahan dan jumlahnya sekitar 3 ton yang berada di museumnya. “Jam buka museum tergantung yang datang saja,” jelasnya.

Burhan mengaku yang datang berkunjung ke museumnya itu dari berbagai kalangan mulai dari akademisi, Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo, hingga jurnalis dari Kompas TV. “Ada juga dari pecinta barang antik,”jelasnya.

Selain memiliki koleksi pecahan, ia juga memiliki koleksi yang masih utuh. “Untuk struktur yang kecil sampai besar sekitar 400 koleksi,” jelasnya.

Burhan menjelaskan perbedaan koleksi piring dan mangkuk dari dinasti satu kedinasti lainnya. “Biasanya peralihan dinasti itu dilihat dari bentuk piring dan mangkuknya, saya pelajari itu enam bulan,” tutur Burhan.

Tahun 2017 lalu, ada beberap orang yang menawarkan untuk membeli koleksi ini. Diakui dia ada kebanggaan tersendiri untuk tidak menjual koleksi di museumnya. “Artinya masih ada bukti yang bisa kita pelajari,” jelasnya.

Jumlah koleksi yang disimpan Burhan jika ditaksir sekitar Rp 100.000.000, sementara untuk bangunannya menghabiskan Rp 10.000.000. “Hampir setiap hari saya bersihkan koleksi ini,” pungkasnya.

Pembuatan musem Lipu Tumbuno atas dasar rasa sayang Burhan terhadap Banggai. Baginya, negeri tanpa sejarah, tak memiliki arti. Ia mencontohkan, bahasa daerah yang kian pudar dalam pembicaraan-pembicaraan sehari-hari. “Dan saat ini banyak,” jelasnya.

Jika mencintai budaya, ujar dia, tidak akan meninggalkan sejarah, tata krama itu penting apalagi bukti sejarah.  Burhan menganalogikan membuat sebuah musem pribadi bukan hanya sekadar mencintai, tapi untuk menyimpan sabagai tanda mencintai Banggai. “Saya mengoleksi menyimpan begitu besar dan menjadikan musem pribadi,” tuturnya. (tr-02)


Komentar

Berita Berikutnya

Satlantas Polres Palu Gencar Razia Balapan Liar Selama Ramadan

PALU, LUWUK POST—Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Palu menggencarkan razia rutin di bulan Ramadan. Razia rutin dikhususkan mengantisipasi balapan liar yang kian marak belakangan ini. Peningkatan razia serta patroli rutin dilaksanakan, menyusul banyaknya laporan masyarakat terkait aksi balapan liar yang terjadi di cumi cumi taman ria. Razia balapan liar ini […]