Melihat Produksi Sambal Roa di Banggai Laut

Redaksi Luwuk Post

RUMAH PRODUKSI: Rahma Saule bersama anggota UMKM lainnya saat membuat sambal roa di Desa Lampa, Kecamatan Banggai, Kabupaten Banggai Laut, Minggu (4/4). Dikelola sejak tahun 2015, produksi sambal roa telah menghasilkan Rp 6 juta dalam satu bulan. [Foto: Purnomo/Harian Luwuk Post]

DESING
mesin paking sudah terdengar sejak di balik daun pintu rumah semi permanen itu. Bisingnya seperti berkejaran dengan waktu yang masuk dari lubang-lubang jendela. Dewa surya bersiap kembali ke peraduan, pertanda tak lama lagi harus istirahat dari rutinitas.
Hari yang semakin sempit, tangan Rahma Saule, juga kian lincah. Mengatur kemasan sambal roa yang dari tadi dimasak didapur rumahnya di Jalan Pala Indah, Desa Lampa, Kabupaten Banggai Laut.

Dari ruangan sekitar 3 x 3 meter itu, Rahma kemudian memasukan satu persatu sambal roa ke kemasan yang telah disiapkannya. Aktivitas ini telah dilakukan sekitar 6 tahun lalu. “Sekitar tahun 2015 kami memulai UMKM ini, tapi hanya sebatas lingkungan keluarga saja,” tuturnya memulai perbincangan dengan Harian Luwuk Post.

Sambil bercerita, tangannya tak berhenti, malah kian ringan digerakkan mengatur susunan kemasan sambal roa. Rahma tampak santai menjalani bisnisnya ini. Tak ada beban baginya, apabila ada anggota UMKM yang tidak bisa membantunya, pasti akan dimaklumi. Sejumlah produk berhasil dibuat usaha kecil ini. Sambal roa hanya salah satu buah tangan dari Rahma dan kawan-kawan. “Biasanya yang dibuat keripik, abon ikan, dan sambal roa,” jelas perempuan 50 tahun itu.
Perlahan tapi pasti, kini anggota UMKM miliknya telah berjumlah 7 orang. Yang paling aktif berjumlah 5 orang. “Yang paling banyak meminat sambal roa,” sela Sulastri, anggota UMKM yang turut membantu Rahma sore itu. Apabila memproduksi keduanya, sambal roa lebih cepat laku dibanding abon ikan. “Abon biasanya yang pesan ibu-ibu yang punya anak kuliah di luar kota,” ujarnya.

Dengan sumber daya yang terbatas, bukan berarti langkah UMKM ini pendek. Hadirnya media sosial membuat pemasaran menjangkau banyak orang. Selain menginformasikan dari mulut ke mulut. “Saya share di grup WhatApp pengajian, Facebook, dan titip di kios-kios,” terang Sulastri.
Sebenarnya, kata Sulastri produk UMKM yang dibuatnya tinggal menunggu izin edar agar bisa dipasarkan secara luas, tetapi terkendala label paten. “Kami belum memiliki itu,” jelasnya.
Produksi sambal roa yang dibuat Rahma bahannya dari 2 kilogram ikan roa kering. Ikan roa ini ditumbuk, lalu dibersihkan. Setelah itu, menghasilkan sekitar 10 kilogram sambal yang siap dikemas. “Itu sudah termasuk dengan rempahnya dan minyak,” ucapnya. UMKM ini menjual sambal roa Rp 25 ribu per 100 gram. Dalam satu bulan, mereka bisa menghasilkan sekitar Rp 6 juta.

Mencari bahan baku ikan roa di Kabupaten Banggai Laut tidak sulit Pengolahan ikan roa tersebar di Kecamatan Bokan Kepulauan dan Bangkurung. Desa Bungin Luwean misalnya, nelayan rutin mengolah ikan roa, kemudian dijual ke luar daerah dan memenuhi pasar lokal. Biasanya, di pasaran dijual Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per rak. (tr-02)


Komentar

Berita Berikutnya

Hari Paskah Dirayakan dengan Sukacita

Gita puja terdengar lirih di Jalan Nyiur, Desa Tompudau, Kecamatan Tinangkung, Kabupaten Banggai Kepulauan. Dua gereja yang berdiri kawasan ini menyambut sukacita datangnya Jumat Agung, Jumat (2/3/2021) pagi. Kedua gereja itu yakni Gereja Protestan Indonesia Banggai Kepulauan (GPIBK) anggota PGI Klasis Salakan, Jemaat Toksion Tompudau, dan Gereja Pantekosta di Indonesia […]