Secerca Asa Di Puncak Berkabut Monggolit

Redaksi Luwuk Post

Anak-Anak Monggolit : Anak-anak di Monggolit, di usia sekolah tak bersekolah lantaran jauhnya jarak sekolah dengan pemukiman Monggolit yang berada di puncak bukit. Mereka berfoto di depan sebuah rumah kosong yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya [FOTO : ISTIMEWA]
SALAKAN, LUWUK POST-Langit masih tampak gelap, walau hujan deras baru saja meninggalkan gerimis. Kabut tebal pun berganti menyelimuti deretan rumah tua, pemukiman yang dikelilingi hutan dan perkebunan. Siulan burung-burung yang bersahutan dari arah hutan memecah heningnya suasana Monggolit, Minggu pagi (23/5)

Iya, Monggolit, begitu orang-orang setempat menyebutnya. Sebuah pemukiman yang terletak di dalam kawasan hutan, di sebuah dataran puncak bukit Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep). Berjarak sekitar 12 Kilometer dari desa induknya, Desa Talas-talas, menempuh jalan desa.

Tanahnya subur. Di samping rumah, Pisang, Ubi, Sayuran dan hasil pertanian lainnya tumbuh subur di sana. Tapi ketiadaan sumber air, membuat satu demi satu keluarga terpaksa meninggalkan tanah subur itu. Rumah yang ditinggalkan pun dibiarkan jadi hunian laba-laba, burung-burung, serta hewan lainnya. Hingga kini rumah-rumah itu sebagian telah bersisa puing-puing.

Dari 75 unit rumah yang ada, saat ini tersisa hanya 15 kepala keluarga yang memilih bertahan di masing-masing hunian.

Cuaca dingin perbukitan yang masuk melalui celah-celah dinding rumah, terasa hingga di persendian, dihadapi santai Om Satalia Yotupe untuk mengisi semua wadah penampungan air di dapurnya. Ia khawatir kalau besoknya hujan tak lagi turun. Sehingga, semua wadah sudah digunakannya untuk mandi dan mencuci selama beberapa hari kedepan.

“Yang tingal sekarang di Monggolit kami yang sudah biasa hidup dengan kekurangan air dan menghemat dalam pemakaian air, jika musim kemarau,” tutur Satalia dalam Bahasa Banggai kepada Amos Porodisa, pemerhati Komunitas yang masih kental dengan kultur Banggai tradisional itu.

Hujan di Monggolit, layaknya sebuah hadiah tak ternilai dari Tuhan. Dengan begitu semua wadah yang bisa dipakai untuk menampung air hujan akan diisi penuh. Beberapa kepala keluarga masih mendingan, menggunakan drum, karena daya tampungnya cukup besar. Tapi yang lainnya hanya menggunakan jeriken, tempayan, dan ember kecil.

Hanya pada musim hujan warga Monggolit bisa berpuas-puas memakai air. Setelah musim hujan mereka harus kembali berpuasa untuk berpuas-puas. Dan memang, hujan baru saja menyapa daerah Bangkep dan sekitarnya di akhir bulan Mei ini, setelah musim panas panjang yang mulai sejak awal tahun.

“Kalau orang dari pantai tingal disini disaat ada air atau musim hujan masih betah, tapi kalau sudah tidak ada air, langsung Kase tinggal lagi ini kampung” kata Satalia.

Mereka bertahan, bukan karena tebalnya ketabahan, melainkan tak berkecukupan untuk mendapatkan tanah dan membangun hunian baru di desa lain. Faktor jarak dekat dengan lahan perkebunan menjadi alasan lain bagi warga untuk bertahan.

Amos menuturkan, saat musim kemarau berlangsung, air harus dimanfaatkan sehemat mungkin. Sehingga dalam sehari, maksimal 5 liter, pemakaian. Sebab untuk mendapatkan air, warga Monggolit harus berjalan kaki menempuh jarak 6 Kilometer ke Eben Heazer, kampung terdekat ke arah utara dari Monggolit.

Selama kemarau mereka membawa anak-anaknya meninggalkan pemukiman menuju Dedengan selama berhari-hari. Karena Dedengan, merupakan lahan perkebunan yang disana tersedia sumber air. Mereka juga harus sudah kembali di Monggolit pada hari Minggu untuk beribadah.

Pun tidak ada Gereja disana, pelaksanaan Ibadah ditempatkan di Balai Pertemuan yang juga sama tuanya dengan bangunan rumah di pemukiman tersebut.

Untuk sampai kesana harus melewati dusun Eben Heazer, sekitar 4 sampai 5 Kilometer. Sehingga jarak yang ditempuh dari Monggolit ke Dedengan adalah sejauh 10 Kilometer.

Amos sendiri merasa sangat prihatin dengan kondisi disana. Ia mendengar langsung keluhan Om Yoses Boikot, salah seorang tokoh yang dari awal pemukiman dibuka sudah menetap disana. Om Yoses, kata dia, memintanya agar keluhannya disampaikan ke pemerintah.

Om Yoses, lanjut Amos, mengakui besarnya anggaran yang harus dihabiskan untuk mendatangkan air disana. Karena itu mereka hanya meminta agar disediakan bak penampungan air yang lebih memadai dan bisa digunakan selama berhari-hari.

“Saya yakin, dengan adanya wadah penampungan air, warga yang meninggalkan pemukiman itu akan kembali,” kata dia.

Menurut dia, Om Yoses amat merasa prihatin dengan kondisi anak-anak yang tak bisa mengakses sekolah formal. Tak ada yang mengenyam pendidikan, karena jarak dari Monggolit ke Sekolah yang ada di desa lain berkilo-kilometer, melewati kawasan hutan.

Anak-anak berdarah Sea-sea itu menghabiskan waktu dengan orang tua mereka mulai dari bertani, Memelihara Sapi, dan Mencari Hasil Hutan seperti Madu, dll dalam memenuhi kehidupan sehari-hari.

Sebagai pemerhati, Amos akan memulai langkahnya dengan meminta dukungan dari berbagai pihak. Dari sisi pendudikan u tulis, buku bacaan, pensil dan Polen. Buku Alkitab, Kidung, dan sebagainya.

Kemudian untuk penyediaan air, ia hanya berharap pemerintah bisa menyediakan wadah penampung berupa bak besar yang bisa dimanfaatkan selama berhari-hari. (Rif)


Komentar

Berita Berikutnya

Desa Baka Mulai Tahap 'Input' Data SDGs

SALAKAN, LUWUK POST-Usai menyelesaikan pendataan lapangan, Pokja Relawan Desa Baka, Kecamatan Tinangkung Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) mulai memasuki tahap penginputan, sejak beberapa hari terakhir. Tris Linggamo, Kepala Desa setempat mengatakan, Pokja Relawan Desa telah tuntas melaksanakan pengumpulan data lapangan sejak beberapa hari sebelumnya. Verifikasi pun demikian. Data-data yang dianggap tak […]