Lulus Seleksi, 12 Penulis Banggai Bersaudara Ikuti Kelas ASB

Luwukpost.id -
Pimpinan Yayasan Generasi Emas Indonesia, Baginda Muda Bangsa yang merupakan salah satu Inisiator Akademi Sastra Banggai

LUWUK, LUWUK POST.id – 12 penulis muda yang berasal dari wilayah Banggai bersaudara, berhasil lolos tahapan seleksi dan berhak mengikuti Akademi Sastra Banggai (ASB), wadah pengembangan keterampilan menulis yang digelar oleh Yayasan Generasi Emas (GE) Indonesia dan Yayasan Babasal Mombasa .

Seleksi ASB berupa penerimaan tulisan pada tanggal 17 Mei 2021 hingga 10 Juni 2021. Proses penilaian dilakukan oleh kurator yang telah malang melintang di dunia kepenulisan, dan secara aktif masih menggeluti dunia sastra dan literasi. Mereka adalah, Pemimpin Redaksi Basabasi, Reza Nufa, penulis dan founder Nemu Buku, Neni Muhidin, serta Ama Achmad seorang   penulis dan juga Ketua Yayasan Babasal Mombasa.

“Saat ini Ada 12 orang yang terpilih untuk dibina dan mengikuti proses ASB. Di ASB ada dua jenis kelas, pertama adalah kelas kepenulisan, ini  khusus untuk 12 orang terpilih. Kedua, ada kelas tematik/isu yang kami buka untuk umum dengan kuota terbatas,” ujar salah satu Inisiator ASB, Baginda Muda Bangsa.

Baginda, kepada Pewarta menuturkan, keinginan belajar dan komitmen yang besar merupakan indikator mengapa anak-anak muda tersebut dipilih untuk mengikuti ASB, karena proses di ASB sangat panjang dan butuh banyak energi. Diantara yang lain, mereka adalah yang paling berkomitmen.

“Sebelum mengikuti kelas di ASB, tingkat pemahaman mereka soal sastra cukup beragam, ada yang sudah terbiasa menulis, sehingga hanya perlu dipoles sedikit, ada juga yang harus belajar lebih ekstra,” sambung Chief Operation Officer GE itu.

Terkait kelas yang telah diikuti peserta, ia menuturkan, ada kelas “Feminisme di Tengah Kondisi Sosial dan Budaya Masyarakat Indonesia” yang difasilitasi Direktur Makasar International Writer Festival (MIWF), Lily Yulianti Farid, kemudian kelas “Mengenal Sosialisme dan Kapitalisme, serta Perkembangannya di Indonesia,” yang disampaikan oleh Chief of Research di Kontekstual dan  Researcher di InMind Institute, Farhan Abdul Majid.

“Kami menyelenggarakan kelas tematik karena percaya bahwa menulis perlu juga mengolah rasa dan pikiran. Kelas tematik ini hadir untuk membekali setiap peserta dengan kerangka berpikir yang kokoh, sehingga mampu menilai dan memahami setiap peristiwa dengan baik,” tambah dia.

Berikut daftar materi yang akan diajarkan kepada peserta: Kelas Swasunting, Kelas Histori Geografi, Kelas Ekologi dan Kelas Feminisme 2. Beberapa kelas masih menunggu konfirmasi dari narasumber, seperti kelas dengan tema bencana alam, pendidikan, dan Bahasa.

“Sampai dengan bulan Januari, kami akan terus melaksanakan kelas tematik. Disela-sela kelas tersebut juga akan dilaksanakan mentoring kepenulisan,” tutup Pemuda Banggai yang merupakan alumni Universitas Indonesia itu. (abd)