Seba

Redaksi Luwuk Post

Karya, Ama Achmad

 

Setiap kali hal-hal penting dan genting akan terjadi, Tomundo mengumpulkan semua perangkatnya untuk melaksanakan seba. Seba adalah perundingan setingkat raja dengan melibatkan perangkat adat lainnya. Biasanya seba dilakukan di rumah Tomundo, yang jaraknya semalam perjalanan dengan kapal laut. Sudah lama, keraton hanya jadi tempat upacara dan museum yang menyimpan sedikit sekali peninggalan sejarah para Tomundo sebelumnya.

“Assalamualaikum, Panabela.” Ucapan salam dijawab dengan pelan. Panabela tua sedang duduk membaca buku di ruang tengah, kakinya bengkak karena asam urat.

“Saya ada perlu.”

“Apa?” ucapan utusan Tomundo dibalas dengan dingin oleh Panabela.

“Tuan Raja, ada minta Papa Tua datang ke rumahnya.”

“Saya te bisa datang. Ko liat, ini kaki ada bangkak.”

“Tapi…”

“Titip salam. Saya te bisa datang.”

Utusan Tomundo pulang dengan lesu ke rumahnya. Ia sadar betul dengan kedua kaki bengkak, Panabela pasti akan kesulitan melakukan perjalan dengan kapal cepat atau kapal motor biasa. Sementara untuk menunggu pemulihannya, tidak mungkin. Seba harus dilaksanakan secepatnya. Ia juga sadar betul, penjelasannya itu akan percuma saja di hadapan Tomundo.

***

Suksesi pilkada di kota kabupaten dan provinsi, membuat suasana politik di kota kecil itu sedikit memanas. Sudah sejak lama, Panabela tidak tertarik untuk mengambil jabatan politik, meski ia cakap dan dicintai banyak orang. Sebagai Panabela, ia lebih didengar dari Tomundo. Tinggal dekat dengan rakyat membuatnya disenangi dan sering dijadikan tempat “bertanya” oleh banyak orang. Ia tahu tadi, Awir, utusan Tomundo meminta kehadirannya untuk seba. Kondisi kakinya sangat tidak memungkinkan untuk berlayar ke Luwuk. Belum lagi, seba yang dilaksanakan kali ini akan diadakan di kecamatan lain. Masalah kaki sebenanrnya bukan masalah berarti baginya. Ia hanya tidak senang dan merasa tidak perlu hadir di seba yang akan dilaksanakan itu. Ia sudah bertanya, pada pamannya yang menjabat sebagai Djogugu dan bermukim di Jakarta. Keduanya sepakat untuk tidak terlibat dalam politik praktis seperti dahulu. Sudah cukup politik memecah tanah lahirnya, membelah saudara dengan saudara lain dan memotong hampir semua rasa persaudaraan.

“Seharusnya, Tomundo tidak lagi memanggil kita dan lainnya untuk seba. Toh keputusan saya sudah jelas, tidak ingin dan tidak mendukung,” ucap Djogugu lewat telepon.

“Iya. Saya lelah membahas ini.”

“Ini urusan macam paku yang menusuk di kaki, bikin tetanus kaki sendiri dan bikin kacau satu kampung.”

***

Malam Senin, di kediaman Tomundo sudah berkumpul dengan beberapa orang; dua orang adiknya, sepupu-sepupu dan orang-orang partai. Awir yang baru tiba, juga duduk di sana. Sedikit cemas dan berkeringat dingin. Rumah megah itu hening meski ada begitu banyak orang berkumpul. Tomundo memasuki ruangan dengan senyuman. Sosoknya yang tinggi, suaranya yang berat dan wajahnya yang dingin, semakin membuatnya disegani.

“Saya ingin dengar kabar dari pembawa pesan kita” katanya tanpa mengucap salam mengawali pertemuan itu. Di tempat duduknya, Awir semakin cemas.

“Assalamualaikum, semuanya. Saya sudah mendatangi Panabela dan memberitahukan undangan untuk seba. Tetapi, Panabela mohon izin tidak hadir, karena ia sakit.”

“Sakit apa?” tanya salah satu adik Tomundo

Depe kaki bangkak dua-dua. Tidak bisa ba jalan.”

Forum itu hening. Jika seba dilaksanakan tanpa Panabela dan sudah pasti tanpa Djogugu, maka keputusan mutlak ada di tangan Tomundo. Tidak dilaksanakan pun karena ketidakhadiran perangkat raja lainnya, keputusan itu sah.

“Bagaimana?” seorang Bosanyo bertanya memecah diam.

“Seba tidak perlu dilaksanakan lagi. Ini berarti Panabela dan Djogugu tidak setuju dengan keinginan Tomundo,” jelas Bosanyo Batui.

“Begini…” Tomundo berdeham sebelum melanjutkan kalimatnya. “Saya bisa memutuskan sendiri sesuai dengan kata hati. Saya tahu juga keinginan saudara-saudara kita, untuk maju di Banggai Laut dan di Palu. Saya hanya perlu diam beberapa saat untuk mengambil keputusan.”

“Tapi… Ini harus segera diputuskan, kakak mau diam berapa lama?” seorang adik Tomundo bertanya dengan sedikit panik.

“Ngana tunggu saja. Saya tahu jika dorang dua tidak mau datang seba, itu berarti tanda tidak setuju. Ada apa di balik ketidaksetujuan ini, itu yang perlu saya pertimbangkan.”

Pertemuan itu ditutup tanpa suguhan teh dan kopi. Saudara-saudara kandung Tomundo pulang. Para Bosanyo juga pulang. Tersisa Tomundo dan Awir. Mereka tidak bercakap, sebagai abdi, Awir akan tetap di situ sampai Tomundo memutuskan masuk kamar.

“Bagaimana ini, San?” Hasyim, adik Tomundo bertanya pada kakaknya.

“Mon harus maju, begitu juga Irwan. Kesepakatan kita dengan partai, bukan dengan keluarga dan kerajaan.

Hasan dan Hasyim adalah dua adik Tomundo, sedang Mon dan Irwan adalah dua saudara lain ibu yang berencana maju pilkada. Keduanya orang partai yang memang mendukung penuh dua saudaranya untuk maju di pilkada. Keduanya juga paham, akan ada proses panjang, ketidaksetujuan dan benturan untuk mewujudkan ini.

Di Banggai, Panabela dan Djogugu bertemu setelah sekian lama tidak bertemu. Djogugu memilih langsung ke Banggai dan tidak mengabarkan  kedatangannya pada Tomundo. “Saya khawatir sekali. Banggai ini semua bersaudara. Kalau Mon maju di sini, bagaimana dengan kak Rusli?”

“Itu juga yang saya khawatirkan. Sudah cukup pilkada lalu torang ta pisah, baru berbaikan lebaran ini dan akan terpisah lagi. Mana ada saudara sabalah datang ke Tumpe atau datang ke acara lain.”

Keduanya mengobrolkan semua kemungkinan. Termasuk melihat kembali kejadian-kejadian di belakang, perkelahian massa antara mereka dan saudara sabalah (sepupu). Sudah cukup darah tertumpah;  Pian yang mati ditebas parang, dua orang kena tembakan polisi yang mengamankan dan pintu-pintu rumah yang tak lagi menerima kedatangan saudara lain. Sudah cukup kecurigaan dan kebencian tertanam.

Di akhir obrolan keduanya memutuskan untuk menelepon Tomundo. Menyatakan sebaiknya memerintahkan adik-adiknya untuk tidak maju.  Keduanya juga meminta Rusli—saudara sepupu—untuk memikirkan kembali keinginan maju pilkada.

Suasana Banggai memanas. Polisi dari Luwuk diturunkan untuk membantu perkelahian massa. Dua korban tewas di massa pendukung Irwan. Belum ada korban di massa pendukung Rusli. Montolutusan kembali berdarah.

Malam itu, di beranda bulan tidak tampak, awan tebal menutupi Banggai. Dari kamarnya, Panabela menelepon Djogugu.

“Kita kembali terbelah.” (*)


Komentar

Berita Berikutnya

RDP DANA PDAM Diwarnai Aksi Gebrak Meja, DPRD Minta Inspektorat Selesaikan Audit Sisa Dana PMP

    LUWUK, LUWUK POST.id – Komisi 3 menggelar rapat dengar pendapat (RDP) pada Selasa (14/9) terkait dugaan penyelewengan dana Penyertaan Modal Pemerintah (PMP) pada PDAM sebesar 9 Milyar yang dilaksanakan dengan agenda untuk mendengar penjelasan dari Inspektorat Daerah Kabupaten Banggai terkait progress pemeriksaan khusus atau audit yang dilakukan kepada […]