Dalam Buku “Marabahaya Terbit Dari Timur”, JATAM Sentil Pembangunan PLTMG di Banggai

Redaksi Luwuk Post
Tampilan e-book “Marabahaya Terbit Dari Timur”

LUWUK, LUWUK POST.id – Dalam buku yang dirilis Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) di wilayah Kabupaten Banggai dikaji dan dikritik lewat laporan hasil investigasi yang ditulis seorang Pemuda Batui bernama Aulia Fiqran Hakim.

Dalam laporannya, ia memaparkan sepak terjang mulai dari tahapan pembebasan lahan hingga pembangunan yang dilakukan beberapa perusahaan dalam proyek milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Desa Nonong, Kecamatan Batui tersebut.

Pria yang akrab disapa tulus itu menuliskan, Pembangun proyek PLTMG dan PLTGU ini menuai banyak protes, dikarenakan lokasi yang bakal menjadi tapak proyek adalah tempat wisata dan konservasi mangrove. Di sisi lain, masyarakat banyak yang tidak mengizinkan karena khawatir lahan kelapa mereka yang berdekatan dengan tapak proyek akan terganggu produktivitasnya.

Lanjut, masih terkait dampak negatif proyek pembangunan pembangkit listrik PLN tersebut, ia menerangkan dalam tulisannya, PLTMG membuat  pendapatan dari hasil tangkapan laut terus menurun. Sebelumnya, menurut keterangan seorang nelayan, dia bisa membawa pulang tangkapan ikan hingga satu bakul (cool box) dalam satu hari. Namun semenjak adanya aktivitas proyek di pesisir dan perairan Desa Nonong, dia hanya bisa membawa pulang beberapa ekor ikan saja setiap harinya.

Tidak hanya itu, Tulus juga menjelaskan, kurang lebih 500 meter dari tapak pembangunan PLTMG dan PLTGU, terdapat satu situs masyarakat Adat Batui yang setiap tahunnya digunakan untuk Monsawe, sebuah upacara adat sebagai bentuk syukur karena telah melaksanakan Molabot Tumpe, ritual pengantaran telur Burung Maleo dari Batui ke Banggai.

“Beberapa tokoh adat menyebutkan bahwa aktivitas perusahaan sejak pembangunan hingga saat ini menuai banyak konflik dari pembebasan lahan hingga terganggunya ritual adat yang diakibatkan aktivitas alat-alat perusahaan ketika ritual sedang berlangsung,” ujar Tulus menguatkan apa yang ada di dalam tulisannya.

Aulia Fiqran Hakim, Peserta Sekolah JATAM 2020 asal Kabupaten Banggai

Masih membahas permasalahan yang ditimbulkan proyek proyek PLTMG dan PLTGU, Tulus juga menuturkan,  kehadiran perusahaan membuat sebagian masyarakat melepaskan lahannya karena faktor dari hasutan atau dorongan pihak pemerintah setempat, baik pemerintah desa, kecamatan dan kabupaten. Pemerintah mengatakan ke masyarakat agar menjual saja tanah mereka daripada tidak bisa digarap nantinya. Seorang warga menyebutkan bahwa lahan yang bakal dibebaskan oleh pihak perusahaan yakni 40 hektare. Namun hingga saat ini belum mencapai kesepakatan harga karena dari pembeli lahan hanya mau membeli dengan harga murah atau lebih rendah dari harga yang ditawarkan pemilik lahan. Dari beberapa kasus industri yang masuk di Desa Nonong, mulai dari Pertamina, PLTMG hingga PLTGU, sering kali terjadi hasutan hingga paksaan pada pemilik lahan untuk menjual lahan murah karena mengikuti masyarakat lainnya yang telah setuju dengan harga murah yang ditawarkan pihak perusahaan.

“Buku ini juga memuat laporan investigasi permasalahan industri ekstraksi di wilayah Indonesia timur yang ditulis peserta Sekolah JATAM 2020, PDFnya bisa diperoleh di situs website JATAM,” ungkapnya di sela-sela sesi wawancara (12/10).

Koordinator Nasional Rumah Perlawanan JATAM, Merah Johansyah menuliskan dalam kata pengantar buku tersebut, kumpulan tulisan investigasi yang merupakan buah tangan dari para alumni Sekolah JATAM itu mereka rangkum dan rapikan sebagai sebuah catatan investigasi awal mereka. Terdapat 10 tulisan investigasi awal mengenai daya rusak pertambangan dan ekstraktivisme yang relevan dengan kondisi mutakhir laju kerusakan dan krisis lingkungan hidup dan karenanya perlu diketahui khalayak lebih luas. (abd)


Komentar

Berita Berikutnya

Kenali Tanda dan Bahaya Gagal Ginjal Kronik

OLEH: dr. I Wayan Hendra Gunadi (Dokter umum UPTD Puskesmas Tangeban) Permasalahan kesehatan di dunia yang masih menjadi prioritas adalah Penyakit Tidak Menular (PTM). Penyakit Ginjal Kronik (PGK) merupakan salah satu dari PTM, kasus PTM ini terus mengalami peningkatan dimana penyebab tidak langsung dipengaruhi oleh tingginya tingkat stress, perubahan pola […]