Momentum Setahun Omnibus Law, Pemuda Batui Sampaikan Kritik Keras Terhadap Oligarki di Banggai

Redaksi Luwuk Post
Pemuda Batui saat membentangkan spanduk protes terhadap Oligarki di Banggai dalam refleksi setahun penerapan Omnibus Law. [Foto:Istimewa]

LUWUK, LUWUK POST.id – Sekelompok Pemuda Kecamatan Batui menyampaikan protes dan kritik keras terhadap kekuasaan oligarki yang kian mengakar dan membuat masyarakat Kabupaten Banggai menderita. Kritik tersebut disampaikan dalam aksi refleksi setahun pelaksanaan Undang-Undang Omnibus Law di Indonesia, pada hari Rabu (6/10).

Aksi refleksi tersebut dilaksanakan di area persawahan Kelurahan Sisipan, Kecamatan Batui. Pemuda Batui membentangkan spanduk besar bertuliskan “Cabut Omnibus Law”, “Oligarki Berpesta, Rakyat Menderita”, “Oligarki VS Rakyat” dan “Bertani atau Mati.

Dilansir dari halaman kompas.com, oligarki sendiri adalah struktur kekuasaan yang dikendalikan oleh sejumlah kecil orang, yang dapat terkait dengan kekayaan, ikatan keluarga, bangsawan, kepentingan perusahaan, agama, politik, atau kekuatan militer.

Menurut keterangan koordinator aksi, Wahyudi, kenapa ia dan kawan-kawan mengatakan Banggai berada dibawah cengkram oligarki, karena hari ini, mereka menilai Banggai tengah berada dalam kondisi carut marut baik dari sisi sosial,ekonomi politik dan lingkungan.

“Saya melihat di Banggai, oligarki hanya membuat rakyat menderita, contoh nya kami di Batui, yang senang hanya para investor saja,begitu pula daerah yang lain, tidak ada kemajuan yang signifikan di daerah investasi,” sambung anggota Kelompok Pemerhati Lingkungan Boloi itu.

 

Wahyudi di kesempatan yang sama juga menekankan, bertani tidak bertanah adalah istilah halus dari buruh tani. Petani tanpa tanah pertanian bagaikan supir tanpa mobil, sungguh pahit hidupnya, Atas dasar itu, petani tanpa tanah untuk bertani sulit disebut sebagai petani.

“Banyak orang menyebutkan tanah adalah hak asasi petani, tanpa tanah kehidupan seseorang sebagai petani akan tenggelam, oleh karena itu, sudah seharusnya kita berjuang untuk kepemilikan lahan bagi petani sebagai alat produksi, makannya dalam aksi ini, kami membawa spanduk bertuliskan, bertani atau mati,” tegas dia.

Sejalan dengan pernyataan Wahyudi, Tulus Hakim, salah satu Pemuda yang turut melakukan protes mengungkapkan, kehadiran industri di Banggai, khususnya di Batui, sejak awal, dampak positif yang mereka sampaikan hanyalah angin surga buat warga, tetapi sejatinya, industri tersebut malah  menimbulkan lebih banyak masalah. Di batui terdapat beberapa situs budaya, yang hari ini berdampingan dengan beberapa industri, sehingganya industri yang ada menghilangkan identitas masyarakat batui.

“Batui tidak perlu industri, karena sejak awal budaya disini bertani dan berkebun, lantas kenapa negara mendatangkan budaya yang baru hanya karena kepentingan modal, dan yang terpenting ukuran kesejahteraan bukan tergantung pada banyak nya industri, tapi ukuran kesejahteraan adalah bagaimana lingkungan serta alam kita tetap asri dan lestari,” tegas Ketua Gerakan Mandiri Pembela Rakyat (Gempar) itu.

Kembali ke permasalahan Omnibus Law yang dievaluasi dalam refleksi tersebut, Wahyudi menerangkan, pelaksanaan omnibus law seharusnya memperluas lapangan kerja dan meningkatkan kesempatan kerja supaya masyarakat Banggai dapat hidup sejahtera, tapi sampai sekarang masyarakat Banggai malah makin menderita karena harga barang makin mahal, sebaliknya lapangan kerja dipersempit. (abd)


Komentar

Berita Berikutnya

Boneka Rara

Karya, Try Mayang Tunekon   Aku baru saja pulang setelah seharian pergi mencari pekerjaan. Itu yang aku lakukan satu bulan terakhir ini. Setelah menghilangnya suamiku tiga bulan yang lalu, hidupku terasa lebih berat. Pergi jam enam pagi dan pulang jam tujuh malam. Namun pekerjaan tak kunjung aku dapatkan. Hari ini […]