Lewat Pentas Teater, Athena Kritik Nepotisme Dalam Dunia Pendidikan

Luwukpost.id -
Salah satu adegan dalam pentas teater “Sarjana Gadungan” yang dibawakan kawan-kawan Sanggar Teater Athena

LUWUK, LUWUK POST.id – Kesenian selain sebagai  media hiburan dan objek keindahan  yang dinikmati para penikmat seni, ia juga dapat menjadi alat untuk menyampaikan kritik dan mengutarakan keresahan, seperti yang dilakukan Sanggar Teater Athena saat  menyentil nepotisme dalam dunia pendidikan lewat pentas teater yang berjudul “Sarjana Gadungan” belum lama ini.

Naskah tersebut dipentaskan saat acara “Malam Apresiasi  Pemuda” yang digelar Dewan Pimpinan Daerah (DPD) KNPI Kabupaten Banggai di aula Bonua Pemuda Tanjung, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk.

Pementasan tersebut disutradarai langsung oleh Ketua Sanggar Teater Athena, Ikbal Maulana Aziz, sedangkan naskahnya ditulis oleh sesama rekan pendiri, Abdy Gunawan dan dilakonkan oleh Puput Oktaviani dan Tasya Widyantari, diiringi oleh alunan musik Samuel Yukulan, serta disaksikan oleh pengurus organisasi-organisasi kepemudaan se Kabupaten Banggai dan masyarakat umum yang ingin menikmati pementasan.

“Mayoritas pemuda hari ini sedang, atau telah selesai menempuh pendidikan, dan berdasarkan pengalaman, kajian dan diskusi teman-teman Athena, masih banyak yang menggunakan cara-cara instan, seperti mengandalkan relasi kekuasaan dan uang untuk memperoleh kemudahan dengan cara-cara yang curang, yah oleh karenanya Athena mencoba mengingatkan kawan-kawan lewat pertunjukan teater,” ujar penulis naskah, Abdy Gunawan.

Ikbal Maulana Aziz selaku sutradara dan ikut pula menjadi pelakon pada malam itu berujar, naskah ini dipilih untuk menjelaskan keadaan pemuda hari ini, dimana secara empirik dia ingin menyampaikan kegelisahan yang tengah dihadapi.

“Naskah ini mengandung kritik sosial yang berhubungan dengan pemuda, lebih tepatnya para sarjana muda yang hari ini seperti kehilangan arah dalam hidupnya,” sambung alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu.

Dengan dipentaskannya naskah itu, Ikbal berharap, dapat menjadi acuan atau landasan berpikir pemuda kedepannya untuk melihat suatu hal dari banyak sudut pandang, agar tercipta pemuda yang berintegritas guna melanjutkan apa yang telah dimulai para pendahulu.

Perihal proses persiapan pentas, ia melanjutkan,  hal yang paling menjadi kendala dalam memahami naskah dan coba menginterpretasikan, baik sebagai aktor maupun sebagai sutradara, adalah  tanggung jawab yang harus diambil secara bersamaan, terkadang ada  ruang-ruang  sutradara yang tidak boleh diganggu oleh aktor maupun sebaliknya.

“Menjaga konsistensi itu yang menjadi kendala utama, dimana sebagai aktor saya juga harus menjaga kestabilan karakter yang saya mainkan apalagi dalam bentuk komedi, namun dikarenakan saya bermain dengan partner yang cukup mengerti apa yang saya inginkan, jadi selama proses dapat terbantu,” tambah dia.

Dilain pihak, Puput Oktaviani yang juga menjadi pelakon pada pementasan “Sarjana Gadungan” juga ikut berpendapat. Ia menuturkan, perasaan senang tapi campur takut juga dirakasannya, karna naskah yang dibawakan lumayan berat dan kritis.

“Jujur semasa latihan agak kesusahan, karena saya memainkan karakter ibu-ibu sosialita yang cerewet, dimana dialog panjang harus dibacakan dalam 1 nafas, tapi alhamdulillah meskipun dengan waktu latihan yang sangat singkat sekali, semua berjalan dengan lancar, ya harapannya yang hadir malam itu bisa paham dengan naskah yang kami bawakan,” tutup dia. (abd)