LUWUK, LUWUK POST – Berawal dari aktivitas rutinnya dari sejak masih kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar pada tahun 1991, sosok Hj Syamsuarni yang merupakan Ketua TP PKK Banggai senantiasa menaruh perhatian serius pada pengelolaan pertanian dan perkebunan masyarakat.
Khususnya program perpaduan antara Pertanian dan Pariwisata atau biasa disebut dengan istilah Agrowisata, istri Bupati Banggai, Amirudin Tamoreka pun mempunyai visi terhadap pengembangan agrowisata di Kabupaten Banggai.
“Agrowisata merupakan salah satu bentuk ekonomi kreatif dalam sektor pertanian yang dapat memberikan nilai tambah bagi usaha agribisnis dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar,” jelasnya kepada Luwuk post saat menghadiri acara reuni SMAN 1 Luwuk, Minggu (22/5).
Untuk di Kabupaten Banggai, lanjut Syamsuarni, potensi pengembangan Agrowisata sebagai sumber PAD sangat mungkin diwujudkan, mengingat daerah Banggai mempunyai Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, baik itu meliputi kesuburan tanah serta nilai eksotis wilayah geografis dari berbagai daerah di Kabupaten Banggai.
“Melihat potensi Agrowisata Banggai, jika dikembangkan saya yakin dapat menarik wisatawan dan dapat memberikan tambahan pemasukan bagi PAD,” tandasnya.
Hj. Syamsuarni mencontohkan, misalnya di daerah Salodik, Kecamatan Pagimana yang menyajikan udara sejuk serta panorama alam (gugusan sungai) jika dibandingkan dengan wisata daerah lain seperti Kota Bunga Malino di Sulawesi Selatan dan Berastagi Medan, Sumatra Utara yang menurutnya tak kalah saing jika dikelola secara tepat, bahkan dapat menjadi destinasi wisata unggulan berskala nasional.
Selain daerah Salodik, Kecamatan Pagimana, wilayah lainnya yang juga mempunyai potensi pengembangan agrowisata yakni pada daerah perkotaan Luwuk. Dimana wisata pantai kilo lima yang terletak di Kecamatan Luwuk Selatan ini dapat dipadukan dengan berbagai kegiatan pertanian/perkebunan diantaranya, budidaya tanaman hias (bunga,red) yang nantinya dapat memberikan implikasi bagi lingkungan sekitar serta menambah keindahan kota.
Walaupun hal tersebut (agrowisata) saat ini telah terbuka peluang dengan sokongan dan dukungan berbagai program dari pemerintah daerah-pusat, seperti pengembangan Kawasan Industri Khusus dan Terpadu, Integrated farming (Dinas Pertanian), Kelompok Sadar Wisata/Pokdarwis (Dinas Pariwisata). Dirinya pun senantiasa menghimbau dalam berbagai kesempatan agar masyarakat Banggai turut andil, berperan mengembangkan potensi agrowisata.
“Sebab, tanpa dukungan peran serta masyarakat Banggai, potensi pengembangan agrowisata sulit terwujud secara maksimal,” pungkasnya.
Sebelum menutup pembicaraan, Hj Syamsuarni pun kembali menegaskan harapannya. “Semoga dengan pengembangan agrowisata di Kabupaten Banggai dapat menjadikannya sebagai daerah idola para wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri, sehingga dapat memberikan sumbangsih bagi PAD serta meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat.” (*)
