
Kabupaten Banggai merupakan kabupaten dengan luas wilayah daratan 9,63 km2 dan 20,31 km2 perairan laut, serta panjang garis pantai mencapai 613 km. Dengan cakupan wilayah perairan yang lebih luas dari daratan, Banggai memiliki potensi perikanan yang tinggi, apalagi dengan dimasukannya Banggai menjadi salah satu kabupaten dalam kawasan industri maritim di Sulawesi Tengah.
Pada tahun 2019, produksi perikanan tangkap di Kabupaten Banggai mencapai 19.174 ton dengan nilai produksi mencapai 347,28 miliar rupiah. Tangkapan laut yang dihasilan penduduk Kabupaten Banggai sangat bervariasi dari jenis ikan karang, seperti kerapu dan kakap, sampai dengan tangkapan selain ikan, seperti cumi dan sotong.
Berdasarkan publikasi Sulawesi Tengah dalam Angka 2022, tahun yang sama, produksi perikanan tangkap sebesar 15.456 ton dengan nilai produksi sebesar 346,05 miliar rupiah. Volume produksi selama periode tersebut menurun sebesar 3,7 ton atau sebanyak 20 persen. Tentu angka ini merupakan penurunan yang cukup besar.
Sayangnya, potensi sektor perikanan di Kabupaten Banggai masih belum dikelola dengan baik. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banggai pada tahun 2021 menyebutkan bahwa terdapat indikasi kebocoran pendapatan dari tempat pelelangan ikan. Sebagai contoh nelayan dari Kabupaten Tojo Una-Una pergi menangkap ikan di wilayah perairan Kecamatan Bunta, Kabupaten Banggai. Akan tetapi pembongkaran dilakukan di Tojo Una-Una.
Bahkan ada pula nelayan dari Provinsi Gorontalo yang menangkap ikan di perairan Kecamatan Balantak dan langsung membawa pulang tanpa mendaratkan ikan di tempat pelelangan ikan yang ada di Kabupaten Banggai. Tentu saja hal ini akan mempengaruhi nilai produksi di Provinsi Sulawesi Tengah.
Tidak hanya perikanan tangkap, perikanan budidaya juga memberikan andil dalam produksi perikanan di Kabupaten Banggai.
Nilai produksi perikanan budidaya tahun 2019 mencapai 34,46 miliar rupiah. Sementara pada tahun 2020, volume perikanan tangkap Kabupaten Banggai mencapai 3.295 ton dengan nilai produksi sebesar 40,80 miliar rupiah.
Komoditas perikanan yang dibudidayakan oleh mayoritas penduduk Kabupaten Banggai antara lain udang, rumput laut dan ikan mas. Berbeda halnya dengan perikanan tangkap yang nilai produksinya turun, nilai produksi perikanan budidaya mengalami kenaikan. Hal ini bisa menjadi potensi yang perlu diberi perhatian lebih, agar perikanan budidaya di Kabupaten Banggai bisa meningkat setiap tahunnya.
Jika kita melihat potensi sektor perikanan di Indonesia, Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir 2021 menyebutkan bahwa terdapat pertumbuhan yang positif pada produk domestik bruto (PDB) perikanan, menjadi capaian yang cukup baik dan secara tidak langsung akan berimplikasi terhadap aspek ekonomi kesejahteraan nelayan.
Hasil perikanan menyumbang 63 triliun rupiah untuk PDB atau sebesar 2,37 persen dari total PDB.
Kembali ke fakta bahwa luas perairan di Kabupaten Banggai lebih besar daripada luas daratan, serta dari 337 desa/kelurahan terdapat 168 desa/kelurahan yang merupakan desa/kelurahan pesisir. Dengan kata lain, sebagai wilayah pesisir yang kaya akan sumber daya perikanan, komoditas hasil perikanan ini seringkali dijadikan sumber gizi alternatif yang harganya terjangkau.
Dengan demikian pada umumnya, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir akan memiliki tingkat konsumsi ikan yang tinggi.
Protein sebagai kunci nutrisi penting, berguna untuk pembentukan sel-sel baru dalam tubuh. Protein bisa kita dapatkan dari unsur hewani, seperti daging sapi, telur dan makanan laut, serta unsur nabati, seperti tahu dan tempe.
Bagi masyarakat pesisir, tentu akan lebih mudah untuk memenuhi asupan protein dengan mengonsumsi makanan laut.
Konsumsi penduduk Kabupaten Banggai dapat kita lihat pada publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Banggai. Berdasarkan publikasi tersebut, rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk kategori makanan laut (ikan, kerang, cumi dan kerang) sebesar Rp 50.000. Pengeluaran ini merupakan pengeluaran keempat terbesar, setelah padi-padian, makanan jadi dan rokok.
Akan tetapi. jika kita lihat proporsi konsumsi protein, makanan laut merupakan kategori kedua tertinggi setelah padi-padian. Proporsi konsumsi protein untuk makanan laut sebesar 12,96 persen. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan laut menjadi salah satu komoditas pokok dalam masyarakat.
Pada dasarnya sebagian besar masyarakat Kabupaten Banggai, mengonsumsi ikan dan makanan laut lainnya, hanya dijadikan sebagai alternatif sumber gizi. Karena harga makanan laut yang cukup terjangkau jika dibandingkan sumber protein hewani lainnya. Ditambah lagi, sebagian penduduk yang bekerja sebagai nelayan, membuat ikan menjadi makanan wajib dalam menu makanan sehari-hari.
Dalam pengembangan perikanan di Indonesia khususnya di Kabupaten Banggai, serta dalam rangka mendukung Kabupaten Banggai masuk dalam kawasan industri maritim, dibutuhkan data yang akurat dan tepat waktu. Akan tetapi, data dan informasi perikanan saat ini belum bersinergis. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan data dan perbaikan penyampaian informasi ke masyarakat luas.
Sensus Pertanian 2023, yang didalamnya mencakup pertanian tanaman pangan, hortikulturan, perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan, diharapkan mampu menjawab tantangan besar tersebut. Mari kita sukseskan Sentus Pertanian 2023. (*)

