MALEO TERANCAM PUNAH KRITIS

Luwukpost.id -

Oleh : ALIANSI KONSERVASI TOMPOTIKA (ALTO)

“Maleo sayang. Maleo malang. Maleo berkembang. Itulah situasi Maleo sekarang. Dan pada Hari Maleo Sedunia 21 November 2022 ini, saat yang tepat untuk kita bertanya: “Quo vadis, Maleo?” Lebih pas barangkali: “Kemana KITA akanmembawa pergi Maleo?”. Apa yang harus kita lakukan?”

MALEO SAYANG

Macrocephalon maleo, burung megapoda endemik, hanya ada di Sulawesi ini di lindungi oleh hukum istimewa, Undang Undang No. 5/1990 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 106/2018.

“…Barang siapa mengambil telur, menangkap dan/atau membunuh Maleo, maka dapat dikenakan denda sebesar Rp100.000.000,- atau hukuman penjara hingga 5 tahun”.

Aset Indonesia, maskot Sulawesi, dan ikon Banggai ini merupakan kebanggaan masyarakat Kepala Burung Tompotika, Sulawesi Tengah.

Memang, belum ada, namun dalam proses perumusan, Peraturan Daerah yang mengatur perlindungan Maleo, tetapi siapapun yang berkunjung ke Kabupaten Banggai, semua dapat mencium aroma kebanggaan masyarakat setempat atas Maleo.

Patung, baliho, gapura, hingga pernak-pernik souvenir, tidak ada yang tanpa Maleo. Tua muda berlalulalang dengan kaus “I love Maleo”. Nampak sekali, simbol-simbol Maleo tersebut ada dimana-mana, bahkan hingga kesanubari insan-insan Banggai. Torangpe Maleo!

Pasiar ke Timur Kepala Burung Tompotika, orang-orang, bahkan dari mancanegara, tidak akan melewatkan untuk mampir di Kawasan Konservasi Maleo Libuun, DesaTaima, Kecamatan Bualemo.

Dikelola oleh Alliansi Konservasi Tompotika (AlTo) berkerjasama dengan masyarakat Taima sejak tahun 2006, sesuai mandate Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, Kawasan Konservasi Maleo Libuun memiliki nesting ground yang dinyatakan oleh komunitas ilmuwan internasional sebagai yang TERSEHAT di dunia.

Hal ini karena, pertama, ada jauh lebih banyak burung Maleo yang datang bertelur di lokasi tersebut, dibandingkan dengan semua lokasi lain di Sulawesi dan dunia; dan kedua, burung Maleo di lokasi tersebut dapat bertelur dalam kondisi 100% alami, tanpa campur tangan manusia sama sekali.

Maleo sayang. Memang, Maleo sangat disayangi, khususnya oleh masyarakat Banggai. Anda Indonesia? Anda Sulawesi? Anda menyayangi Maleo juga kan? Tentunya kita semua menyayangi Maleo dengan beragam alasan.

MALEO MALANG

Namun, dalam 40 tahun terakhir (mewakili 3 generasi Maleo), populasi Maleo telah menurun lebih dari 80%. Sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh The International Union for Conservation of Nature (IUCN), kondisi itu menyebabkan Maleo, sejak tahun 2021, ditetapkan berstatus TERANCAM PUNAH KRITIS (Critically Endangered).

Maleo telah terancam punah kritis di seluruh Sulawesi disebabkan oleh penurunan populasinya yang cepat dan drastis! Jika hal ini berlanjut, Maleo akan punah (Extinct) dari muka bumi!

Bagaimana bisa? Menurut Marcy Summers, Direktur AlTo sekaligus peneliti Maleo, melalui komunikasi pribadi: Pertama dan terutama, pengambilan telur oleh manusia menyebabkan penurunan populasi Maleo;

Kedua dan tidak kalah penting, kerusakan habitat. Jadi, untuk mencegah Maleo menuju kepunahan, sederhana saja: Hentikan pengambilan telur Maleo!; Lindungi hutan, nesting ground, yang menjadi habitat Maleo!

Berhenti jo torang baambe Maleo pe telur! Torang harus balindungi hutan, nesting ground, depe habitat Maleo!

Cukup dua upaya itu? Sesederhana itu? Bagaimana bisa? AlTo punya bukti berbasis penelitian.

MALEO BERKEMBANG

Nah, ini khabar bagusnya. AlTo telah membuktikan cara terbaik dan terefektif untuk melindungi Maleo, meningkatkan populasi Maleo secara alami. Pertama, ajak masyarakat, libatkan mereka semua, untuk menghentikan pengambilan telur Maleo. Kedua, ajak masyarakat, libatkan mereka semua, untuk melindungi habitat Maleo.

Kedua upaya tersebut telah terbukti menyembuhkan populasi Maleo yang sakit dengan sendirinya. Tidak ada upaya lain yang diperlukan. Populasi Maleo akan pulih, meningkat secara alami.

Pencapaian AlTo di Kawasan Konservasi Maleo Libuun, memulihkan populasi Maleo, meningkat hingga 7x lipat dalam 16 tahun terakhir (2006-22), telah menjadikan Libuun sebagai LOKASI MALEO TERBAIK DI DUNIA!

Masih ada lagi. Kawasan Konservasi Maleo Kaumosongi dan Panganian, juga dikelola oleh AlTo dengan model kerjasama dengan masyarakat setempat, menjanjikan pemulihan populasi Maleo yang serupa dengan Libuun. Dalam beberapa tahun kedepan, Kaumosongi dan Panganian, melihat tandatanda perkembangan hingga saat ini, akan mari kita lihat bersama-sama sespektakuler Libuun.

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

Model ada. Contoh pemulihan terbukti. Hentikan pengambilan telur Maleo! Lindungi habitat Maleo! Populasi Maleo meningkat dengan sendirinya. Sekarang, tergantung kita. Mau Maleo yang terancam punah kritis sekarang menjadi punah nanti, atau kita segera kerjakan dua langkah sederhana tersebut, hentikan pengambilan telur Maleo, dan lindungi habitat Maleo?

Model yang AlTo kerjakan: Ajak masyarakat, libatkan mereka semua, untuk menghentikan pengambilan telur Maleo; Ajak masyarakat, libatkan mereka semua, untuk melindungi hutan, nesting ground, habitat Maleo perlu diterapkan di seluruh Sulawesi dalam upaya perlindungan Maleo.

Kesana KITA akan membawa pergi Maleo!. (*)