Tangguhnya Bidan di Desa Batangono, mempertaruhkan nyawa saat rujuk pasien

Luwukpost.id -

Tataba (LuwukPost.id) – Tantangan yang dihadapi oleh Bidan di Desa Batangono, Kecamatan Tataba, Kabupaten Banggai Kepulauan, sungguh tak main-main. Selain kemampuan keilmuan kesehatan dan pelayanan perawatan pasien yang mumpuni, keberanian pun menjadi tuntutan utama.
Sebagai kawasan yang mempunyai karakteristik daerah 3 T (Tertinggal Terdepan dan Terluar) dari Kecamatan Tataba, Kabupaten Bangkep. Desa Batangono bersama sejumlah daerah tertinggal lainnya dalam pembangunan infrastruktur prasarana termasuk bidang kesehatan belum dapat memenuhi kebutuhan medis masyarakat.
Untuk itu, dalam memenuhi kebutuhan tindakan darurat atau emergency, rata-rata pasien Desa Batangono dirujuk ke Rumah Sakit Luwuk, Kabupaten Banggai, dikarenakan hanya membutuhkan 2 jam waktu perjalanan dibandingkan dengan 3 jam lebih perjalanan menuju RSUD di Banggai Kepulauan.
Walau begitu, persoalan yang dihadapi justru risikonya semakin besar, sebab jarak tersebut hanya bisa dilalui jalur laut. Oleh karena itu, menjadi tenaga kesehatan khususnya Bidan Desa Batangono membutuhkan nyali yang besar dan kestabilan emosi dalam menghadapi situasi kritis atau darurat, di antaranya menghadapi gelombang tinggi di musim-musim tertentu di Selat Peling.
Sebagaimana diceritakan salah satu Bidan Desa Batangono, Ayu Wahyuni, yang berbagi pengalamannya saat membawa salah satu pasien dan melahirkan di tengah laut, “Kondisinya pada waktu itu cukup menegangkan, disaat perahu yang ditumpangi dihantam gelombang tinggi selat peling, pasien yang akan kami rujuk ke RSUD Luwuk menunjukkan gejala akan segera melahirkan,” tandasnya di sela giat merujuk pasien bersama kepala Puskesmas Tataba, Siyanti, Jumat (29/12/2023).
Dengan menggunakan alat medis seadanya, dan tetap berpegang pada SOP, rinci Ayu, ia berhasil membantu proses persalinan ibu tersebut.
Ayu menegaskan, walau dengan kondisi medan yang terbilang berat, dan bertaruh nyawa, akan tetapi tidak menyurutkan keinginannya dan teman sejawatnya untuk berakti kepada masyarakat.
“Bagi kami tenaga Kesehatan di Banggai Kepulauan dan Banggai Laut, walau dihantam ombak tinggi, tetap tak menyurutkan bakti kesehatan yang terpatri dalam sumpah kami,” imbuhnya.
Lanjut, untuk transportasi yang biasa digunakan saat merujuk pasien adalah bodi kecil yang disewa dari masyarakat setempat dengan biaya 2 Juta untuk sekali jalan membawa pasien menuju RSUD Luwuk. Jarak yang ditempuh sekitar 60 kilometer dengan durasi perjalanan sekitar 2 jam.
Ia mengeluhkan kondisi sarana dan prasarana khususnya mendukung bidang Kesehatan, seperti dalam setiap aktifitasnya merujuk pasien menggunakan kapal katinting yang di sewa.
“Kami berharap kepada pemerintah Propinsi Sulawesi Tengah dapat memberikan atensinya menyelesaikan persoalan sarana dan prasarana pendukung Kesehatan kepada masyarakat Desa Batangono,” tutupnya.(*/Asw)