Jauh dari aktifitas pusat pemerintahan Kabupaten, sebuah dusun terletak di pulau Peleng Barat, Desa Leme-leme Darat, Kecamatan Buko, Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), sukses membuat berbagai program hingga berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat.
Dusun Kokolomboi, memilki tanah nan subur bak surga kecil ini, terletak di ketinggian 600 meter dari permukaan laut, berjarak 4 Kilometer (km) untuk bisa sampai ke pusat pemerintahan Desa Leme-leme dan 120 km menuju pusat pemerintahan Kabupaten.
Dahulu masyarakat Kokolomboi hanya berprofesi sebagai petani, namun aktifitas tersebut tak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, demi bertahan bersama keluarga, mereka harus bekerja lebih ekstra dengan cara berburu, seperti satwa endemik burung, babi hutan dan kuskus.
Seiring waktu berjalan, tahun 2013 pemerintah masuk hingga kemudian tertarik dengan aktifitas masyarakat Kokolomboi, terlebih di kawasan itu memiliki satwa endemik yaitu Gagak Banggai.
Kehadiran pemerintah kala itu bertujuan untuk membangun kerjasama dan memberikan pemahaman terhadap masyarakat dalam melestarikan hutan, serta bagaimana cara melindungi satwa endemik.
Namun demikian, masyarakat Kokolomboi masih saja tetap bergantung dari hasil berburu serta melakukan penebangan pohon. Apalagi berbicara soal kebutuhan pendapatan.
“Jika pendapatan kami cukup, kami berhenti untuk beraktifitas penebangan dan berburu, sebaliknya, jika tidak, kami kembali untuk melakukan aktifitas awal,” kata Labi Mopok, warga Kokolomboi yang juga penggiat wisata dan Koordinator Budidaya Madu, pada Senin, 21 April 2025.
Tetapi perlahan-lahan aktifitas perburuan dan penebangan itu seketika berubah pada tahun 2020-2021 dengan adanya kehadiran perusahaan Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF).

Labi mengaku kehadiran pihak perusahaan banyak memberikan dampak dari pembelajaran, pemahaman dan cara bagaimana melindungi atau menyelamatkan hutan.
“Banyak ilmu yang kami dapatkan, termasuk bagaimana menyelamatkan hutan, yang tadinya gundul, kami tanam kembali, begitupun soal satwa endemik yang kemudian dilindungi,” ucapnya.
Dengan cara tersebut, Labi bersama masyarakat Kokolomboi lainnya kemudian memahami betapa pentingnya hutan, dari apa yang telah mereka lakukan, banyak memberikan dampak perubahan.
Ternyata dengan cara menjaga atau melindungi satu jenis satwa endemik saja, itu bisa menjamu atau memberi banyak makan orang, terlebih untuk memenuhi kebutuhan pendapatan sehari-hari.
Hal itu dikarenakan banyaknya pengunjung wisatawan dalam negeri maupun mancanegara, yang mulai berdatangan untuk melihat secara langsung satwa langkah, secara tidak langsung ini dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi khususnya pada masyarakat Kokolomboi.
Hingga sampai dengan saat ini, Labi pun bersama masyarakat Kokolomboi turut merasakan manfaat dari pelestarian alam, baginya, bahwa ternyata hutan tidak hanya melindungi satwa endemik, tetapi dapat menyediakan pakan bagi lebah.
Program budi daya madu ini kemudian dijadikan dorongan mata pencaharian peningkatan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat, dari yang sebelumnya menjual kayu hasil hutan dan berburu satwa.
“Sampai saat ini atas sinergi dan kerjasama dengan Pertamina EP DMF, yang telah banyak membantu dari segi pemasaran, kemudian pembuatan jenis-jenis sarang, disitu kami merasa sangat terbantu sekali. Dan masyarakat Kokolomboi hari ini, juga telah merasakan hasil kerjasama perusahaan hingga memiliki pengalaman-pengalaman khusus yang bisa mereka jual kepada orang lain,” pungkas Labi.
Berdasarkan data kunjungan yang dikelola oleh Pengelola Taman Kehati Kokolomboi, tercatat sebanyak 453 wisatawan domestik dan lebih dari 60 wisatawan mancanegara dari 22 negara, yang memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat sekitar, sebagai penyedia jasa lingkungan dengan ketentuan tamu domestik sebesar Rp60.000/orang/hari dan tamu asing Rp200.000/orang/hari.

Assisstant Manager Relations Regional 4 Subholding Upstream Pertamina, Widya Gustiani, menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat Kokolomboi atas kerjasamanya yang terus menjalankan berbagai program bersama Pertamina EP DMF sampai dengan saat ini.
“Alhamdulillah banyak apresiasi, banyak publikasi, serta banyak perhatian dan penghargaan yang begitu besar dari pemerintah hingga daerah-daerah luar,” kata Widya.
Widya mengatakan bahwa Dusun Kokolomboi saat ini telah menjadi contoh positif bagi banyak Desa-Desa lainnya dalam konservasi maupun pengembangan ekonominya.
“Sehingga ini berdampak positif bagi kita semua,” tukasnya.
Melihat pencapaian masyarakat Kokolomboi, Widya pun mengungkapkan harapannya tentang sinergi kerjasama antara perusahaan Pertamina EP DMF dapat berjalan dan terjalin terus menerus.
Lalu Widya juga mengajak masyarakat Kokolomboi agar terus maju bersama-sama dalam membangun kesejahteraan ekonomi hingga tercipta generasi-generasi penerus di tanah Kokolomboi.
“Dengan begitu Kokolomboi terus maju dan bersinar dengan program-program terbaiknya,” tutupnya.
Sementara itu, informasi lainnya, Dusun Kokolomboi sendiri telah banyak menerima penghargaan dari berbagai program yang dilakukan, di antaranya ada 4 penghargaan nasional, pertama, tentang Lembaga Adat Togong Tanga, kemudian, Proklim Lestari berhasil meraih juara terbaik se-Indonesia dan penghargaan Proper Emas dari Pertamina sebanyak dua kali. ***

Komentar