Membangun Kepercayaan Lewat Lebah

Luwukpost.id -

Ketika pertama kali Pertamina EP Donggi Matindok Field (DMF) Zona 13 datang ke Dusun Kokolomboi, tak ada sambutan meriah. Tidak juga pintu yang dibuka lebar.

“Masuk ke adat Togong Tanga itu tak pernah mudah,” ujar Sofiana, pendamping program Kokolomboi Lestari, dalam acara Media Gathering (Medghat) Pertamina EP Cepu, Regional Indonesia Timur, di Hotel Claro, Makasar, Sulawesi Selatan, yang dilaksanakan selama dua hari, Senin-Selasa, 23-24 Juni 2025.

“Kami datang sebagai perusahaan, dan itu membuat mereka bertanya-tanya: Apa yang akan kalian ambil dari kami?” tambahnya.

Kecurigaan bukan tanpa sebab. Selama puluhan tahun, hutan menjadi satu-satunya sumber hidup bagi masyarakat Togong Tanga. Mereka berburu Tarsius Peleng dan Walik Banggai, menebang pohon, memindahkan ladang demi bertahan hidup. Dalam gelapnya akses infrastruktur dan minimnya pelayanan dasar, hutan adalah pasar, dapur, dan apotek dalam satu waktu.

Tapi itu juga jalan buntu. Satwa langka terancam punah, lahan menjadi kritis, dan pendapatan tak kunjung berubah.

Pertamina EP DMF tak datang membawa solusi instan. Mereka memilih rute yang lambat tapi konsisten, pendekatan ekologi, sosial-ekonomi, dan kultural. Mereka tidak menyuruh, tapi mendampingi. Tidak menjanjikan perubahan, tapi mengajak menyusun langkah. Salah satu pintu masuknya, lebah.

“Dulu, untuk mengambil madu, warga memanjat pohon dan merusak tebing. Sekarang mereka membuat rumah lebah dari batang palem. Tak ada pohon yang ditebang, tak ada tanah yang diganggu,” kata Sofi.

Budidaya madu ini kemudian menjelma sumber penghidupan baru. Sepuluh petani di sekitar Taman Kehati Kokolomboi kini memanen 800 hingga 1.200 liter madu per tahun.

Jumlah itu terus meningkat, berkat keterlibatan 245 petani lain dari luar kawasan yang tergabung dalam kelompok binaan. Produksi madu tembus 8.400 liter per tahun, dijual secara daring maupun ke luar daerah.

“Hutan tetap berdiri, madu tetap bisa dinikmati,” ucap Sofiana, lirih.

Perjalanan ke Kokolomboi bukan hanya tentang jarak. Dari pusat Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, butuh lebih dari 120 kilometer. Sisanya adalah tanjakan, tikungan tajam, dan semak lebat yang menjulur ke jalan.

Di sinilah masyarakat adat Togong Tanga menetap. Mereka bukan menolak perubahan. Hanya saja, sejarah membuat mereka belajar, kepercayaan bukan sesuatu yang bisa dibeli atau dijanjikan.

“Di awal, program ini hanya menjangkau satu desa. Tapi ketika mereka melihat hasilnya, desa-desa lain mulai membuka diri. Mereka ingin belajar,” ujar Sofiana.

Kini, Taman Kehati Kokolomboi bukan hanya laboratorium konservasi. Tapi juga destinasi ekowisata. Tercatat 453 wisatawan domestik dan lebih dari 60 wisatawan mancanegara telah datang. Mereka membayar jasa lokal Rp60.000 untuk warga Indonesia, Rp200.000 untuk tamu asing yang langsung menjadi pendapatan warga.

Perubahan tak hanya terjadi di lapangan, tapi juga dalam angka. Empat hektare lahan berhasil direstorasi. Populasi Tarsius Peleng naik dari 17 menjadi 46 ekor. Gagak Banggai, yang sempat hanya tinggal satu, kini sudah delapan.

Sebanyak 2.500 bibit flora endemik ditanam. Emisi karbon berkurang 0,0838 ton CO₂eq/tahun. Indeks keanekaragaman hayati naik 18 persen. Pendapatan petani madu melonjak 1.002 persen. Pendapatan dari ekowisata naik 298 persen.

 

Simpul Emas: Mengikat Masa Depan

Pada tahun 2024, Pertamina EP DMF meluncurkan program lanjutan : Simpul Emas. Fokusnya adalah pengolahan madu dan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. Tapi lebih dari itu, Simpul Emas adalah cara mengikat ulang hubungan antara alam, manusia, dan keberlanjutan.

Konservasi diperluas hingga 279 hektare. Indeks kehati fauna meningkat 14,6 persen. Limbah biosulfur dimanfaatkan hingga 7 ton per tahun. Bahkan limbah ban dan batang palem pun digunakan demi mengurangi jejak karbon.

Program ini bukan tentang angka semata. Tapi tentang transformasi, dari ketergantungan menjadi keberdayaan. Dari eksploitasi menjadi konservasi.

Komentar