22 Tahun Perjalanan Hulu Migas : Kontribusi Nyata untuk Negeri

Luwukpost.id -

Sektor hulu minyak dan gas bumi (Migas) terus menunjukkan kontribusinya terhadap penerimaan negara. Selama 22 tahun terakhir, penerimaan negara dari sektor ini tercatat mencapai Rp5.045 triliun, menjadikannya sebagai sumber pendapatan terbesar kedua setelah pajak.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Hudi D. Suryodipuro, dalam paparannya pada acara Media Gathering (Medghat), Pertamina EP Cepu, Regional Indonesia Timur, di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada Senin, 23 Juni 2025.

Menurutnya, industri Hulu Migas juga berperan strategis dalam mendukung pertumbuhan industri melalui peningkatan suplai gas ke pasar domestik.

“Industri hulu migas memberikan multiplier effect melalui kegiatan eksplorasi, pemboran, dan pengembangan proyek strategis,” ujar Hudi.

Beberapa proyek strategis nasional (PSN) yang telah berhasil onstream antara lain Proyek Jangkrik, Train-3 Tangguh, dan JTB. Di sisi lain, penemuan cadangan migas baru masih didominasi oleh gas.

Namun, dari sisi distribusi gas, tren menunjukkan dominasi ekspor. Sekitar 70 persen pasokan gas digunakan untuk pasar domestik.

Situasi global saat ini digambarkan dinamis dan menantang. SKK Migas mencatat beberapa faktor yang memengaruhi industri energi, seperti pertumbuhan ekonomi dunia yang diperkirakan di bawah 3 persen dan ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan, termasuk konflik Rusia-Ukraina serta perang dagang China-AS.

Selain itu, transisi energi dan isu perubahan iklim mendorong peningkatan permintaan gas serta pengembangan teknologi penangkapan karbon (CCS/CCUS). Kapasitas CCS global ditargetkan mencapai 1.000 juta ton CO₂ hingga 2035.

Investasi global di sektor energi juga mengalami peningkatan signifikan, khususnya untuk energi bersih. Data menunjukkan bahwa investasi clean energy melonjak dalam lima tahun terakhir, meski investasi hulu migas juga tetap stabil.

Dalam proyeksi ke depan, Indonesia diperkirakan akan mengalami lonjakan permintaan energi. Hingga 2050, permintaan energi nasional diperkirakan naik 139 persen, sementara kebutuhan listrik melonjak hingga 298 persen.

SKK Migas juga menekankan pentingnya memperkuat ketahanan energi nasional dengan menjaga pasokan, memperluas investasi, dan memperkuat sinergi antar-pemangku kepentingan untuk mendukung program ASTA CITA yang dicanangkan pemerintah. ***

Komentar