Rektor Sutrisno K Djawa: Lulusan FEB Harus Jadi Kekuatan Baru Pembangunan Daerah

Luwukpost.id -

Pengukuhan 278 calon wisudawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unismuh Luwuk, yang terdiri atas mahasiswa Strata I dan Magister Management, berlangsung khidmat pada Kamis malam (20/11). Dalam kesempatan tersebut, Rektor Unismuh Luwuk, Dr. Sutrisno K. Djawa, menyampaikan sambutan yang sarat pesan moral, nilai spiritual, dan refleksi kepemimpinan.

Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada seluruh calon wisudawan, baik program sarjana maupun magister. Ia menegaskan bahwa momentum ini menjadi sejarah bagi Unismuh Luwuk karena merupakan yudisium pertama bagi Program Magister Manajemen.

Rektor juga menyampaikan terima kasih kepada Bupati Banggai yang sebelumnya memberikan dukungan melalui kuliah umum dan beasiswa bagi 61 ASN Kabupaten Banggai.

“Hari ini saya persembahkan lulusan pertama Magister Management ini sebagai bentuk kontribusi bagi daerah,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa seluruh mahasiswa yang dikukuhkan hari ini telah mengalami perubahan status sosial. Lulusan sarjana dan magister, menurutnya, tidak hanya memperoleh gelar, tetapi juga menaikkan derajat pengetahuan dan tanggung jawab sebagaimana ditegaskan dalam ajaran agama.

Rektor turut mengapresiasi dukungan orang tua, pasangan, dan keluarga yang telah mempercayakan putra-putrinya menempuh pendidikan di Unismuh Luwuk. Ia menegaskan bahwa universitas terus berkomitmen melakukan transformasi, termasuk pemenuhan visitasi program baru seperti Magister Agama Islam.

Dalam bagian penting sambutannya, Rektor menguraikan nilai-nilai kepemimpinan dengan mengangkat kisah Nabi Nuh sebagai analogi pemimpin visioner. Ia menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus mampu membaca tanda zaman, membuat keputusan sebelum krisis datang, serta membawa seluruh anggota organisasi berada dalam satu arah visi.

Menurutnya, pesan spiritual dari kisah tersebut mencakup empat aspek utama kepemimpinan:

visioner, komunikatif, integratif, serta berpegang pada spiritualitas dan etika. Ia juga mengingatkan bahwa di era disrupsi dan ketidakpastian global, pemimpin dituntut adaptif, terbuka pada perubahan, dan berpikir di luar kebiasaan.

Rektor menekankan pentingnya budaya kerja yang humanis, komunikasi efektif antar level birokrasi, serta integrasi antar bidang untuk menciptakan ekosistem organisasi yang sehat. Dalam dunia tanpa batas, ujarnya, nilai spiritual menjadi benteng moral bagi generasi muda dan pemimpin masa depan.

Ia menutup sambutan dengan menegaskan bahwa kepemimpinan masa kini harus transformasional—mampu berubah, berkolaborasi, dan memandu organisasi menghadapi ketidakpastian dengan strategi dan kasih sayang.

Acara pengukuhan ditutup dengan doa bersama dan prosesi seremonial sebelum para calon wisudawan melanjutkan ke tahapan wisuda resmi pada awal Desember. ***

Komentar