Tak Cukup Jadi Sarjana, Rektor Unismuh Minta Alumni Punya Integritas dan Akhlak Mulia

Luwukpost.id -

Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk, Dr. Sutrisno K. Djawa, menyampaikan sambutan penuh pesan moral dan refleksi kebangsaan dalam acara malam ramah tamah dan pelepasan alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Pemerintahan (FISIP) tahun akademik 2024/2025, yang digelar di Hotel Santika Luwuk, Sabtu malam (29/30).

Dalam sambutannya, Rektor menekankan bahwa momentum kelulusan adalah perubahan status sekaligus tanggung jawab baru bagi para alumni. Dengan gaya santai, ia mengimbau lulusan untuk bangga dengan gelar yang telah diperoleh.

“Status Anda sudah berubah. Itu kebanggaan. Masih banyak saudara-saudara kita yang tidak mendapat kesempatan menjadi sarjana,” ucapnya.

Rektor kemudian mengutip pidato Albert Einstein di Princeton Theological Seminary tahun 1941 tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama. Ia menegaskan bahwa keduanya harus berjalan beriringan, terutama menghadapi era post-truth ketika informasi dapat dimanipulasi menjadi ‘kebenaran’.

“Ilmu tanpa agama itu lumpuh, dan agama tanpa ilmu itu buta. Ini satu-satunya pegangan kita di era post-truth,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa disrupsi digital membuat masyarakat dibanjiri informasi, sehingga nilai-nilai religius harus menjadi benteng utama. Rektor juga memaparkan keunggulan perguruan tinggi Muhammadiyah yang mengusung Catur Dharma, termasuk pendidikan Al-Islam Kemuhammadiyahan sebagai pilar pembentuk karakter.

Menurutnya, Muhammadiyah memiliki sifat terbuka bagi semua kalangan, termasuk pemeluk agama lain, dan telah memberi kontribusi besar dalam pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial.

“Islam Muhammadiyah itu rahmatan lil alamin. Tidak pro kiri dan tidak pro kanan. Yang penting adalah nilai kemanusiaan,” ucapnya.

Selain itu, ia mengingatkan para alumni bahwa Indonesia segera memasuki era bonus demografi 2030. Karena itu, para lulusan diminta menyiapkan diri dengan tiga hal utama: integritas, kompetensi, dan kemampuan kolaborasi.

“Integritas itu paling penting. Kalau kita dipercaya orang, insyaallah banyak pintu yang terbuka. Lalu kompetensi dan kemampuan bekerja sama harus terus diasah,” jelasnya.

Ia juga menyinggung pentingnya akhlak, merujuk QS. An-Nahl ayat 125 tentang ajakan dengan hikmah dan tutur yang baik. Menurutnya, ilmu harus berdampak bagi masyarakat, bukan sekadar gelar.

“Kalau tidak ada guna bagi masyarakat, itu sama saja dengan binatang ternak,” ujarnya dalam penutup yang bernada humor. ***

Komentar