SETIAP sekitar 10 detik, satu orang di dunia meninggal karena napasnya pelan-pelan “tercuri” oleh sebuah penyakit paru kronis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, lebih dari 3,5 juta orang meninggal akibat Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) hanya dalam satu tahun, atau sekitar 5% dari seluruh kematian di dunia.
Di Indonesia, masalah ini bukan hal sepele. Pedoman nasional yang dirilis Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) tahun 2023 memperkirakan sekitar 4,8 juta orang Indonesia hidup dengan PPOK, dengan prevalensi sekitar 5,6%, dan jumlahnya diperkirakan terus meningkat seiring tingginya angka perokok dan kualitas udara yang belum ideal di banyak kota.
APA ITU PPOK?
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit paru jangka panjang yang menyebabkan aliran udara di saluran napas terhambat. Secara sederhana, paru-paru menjadi “sempit” dan kurang elastis, sehingga udara sulit keluar-masuk dengan baik.
PPOK berkembang perlahan selama bertahun-tahun. Banyak penderitanya baru menyadari ketika sudah mengalami sesak berat, sehingga pengobatan menjadi lebih sulit.
Dua bentuk utama PPOK adalah:
* Bronkitis kronik: batuk berdahak yang menetap dan kambuh-
kambuhan.
* Emfisema: kerusakan kantung udara di paru-paru sehingga
pertukaran oksigen tidak optimal.
Seberapa Besar Masalahnya?
WHO melaporkan bahwa pada tahun 2021, PPOK menjadi penyebab kematian ke-4 di dunia yang mana sekitar 3,5 juta kematian.
Laporan sebelumnya juga menyebut bahwa pada 2019, angka kematian karena PPOK meningkat menjadi sekitar 3,23 juta kematian setiap tahun.
Angka ini tidak berhenti pada level global saja. Di Indonesia:
* Dokumen PDPI 2023 memperkirakan 4,8 juta penderita PPOK dengan prevalensi sekitar 5,6%.
* Analisis data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi tertinggi di Papua (sekitar 7%), sedangkan yang terendah di Bali (sekitar 2,5%) dan Jawa Tengah (sekitar 3%).
Yang perlu digaris bawahi, lebih dari 80% kematian akibat PPOK terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, kategori yang juga mencakup Indonesia.
BUKAN SEKADAR BATUK
PEROKOK
Di banyak lingkungan, merokok masih dianggap bagian dari gaya hidup: teman ngopi, pengusir kantuk, atau “pelepas stres”. Padahal, merokok adalah faktor risiko utama PPOK. Asap rokok yang dihirup bertahun-tahun merusak saluran napas dan jaringan paru.s
Hal yang sering terlupa:
* Bukan hanya perokok aktif yang berisiko, tetapi juga perokok pasif: istri, anak, atau rekan kerja yang setiap hari menghirup asap rokok orang lain.
* Paparan polusi di tempat kerja (debu, asap bahan kimia), polusi jalan raya, serta asap dapur dari kayu bakar atau arang di ruangan tertutup, ikut memperbesar risiko.
Akibatnya, banyak orang mengira keluhan mereka hanya “masuk angin”, “kurang olahraga”, atau “salah cuaca”, padahal paru-paru mereka perlahan mengalami kerusakan kronis
GEJALA YANG SERING
DIABAIKAN
PPOK bukan penyakit yang datang tiba-tiba. Ia pelan-pelan menggerogoti paru-paru, sementara penderitanya beradaptasi dan menganggap sesak napas sebagai sesuatu yang “biasa”.
Gejala yang perlu diwaspadai:
* Batuk kronik yang tak kunjung hilang, terutama di pagi hari
* Dahak berulang, kadang kental dan sulit dikeluarkan
* Napas pendek (sesak) saat berjalan cepat, naik tangga, atau melakukan aktivitas yang dulu terasa ringan
* Rasa berat atau sesak di dada
* Mudah lelah, tidak kuat beraktivitas seperti dulu Jika gejala-gejala ini muncul pada seseorang:
* berusia di atas 35–40 tahun, dan
* punya riwayat merokok atau terpapar asap/polusi dalam jangka panjang, maka PPOK patut dicurigai dan perlu diperiksakan.
MENGAPA PPOK BERBAHAYA?
Jika diabaikan, PPOK dapat menyebabkan:
* Serangan sesak berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit
* Infeksi paru berulang
* Sulit melakukan aktivitas sehari-hari: berjalan sebentar saja sudah terengah-engah
* Ketergantungan pada oksigen
* Risiko kematian dini yang meningkat Selain beban kesehatan, PPOK juga menimbulkan beban ekonomi: biaya kontrol, obat, rawat inap, hingga hilangnya produktivitas kerja.
BISA DICEGAH, BISA
DIKENDALIKAN
Kabar baiknya, PPOK sangat bisa dicegah, dan bila terdiagnosis lebih awal, dapat dikendalikan.
1. Berhenti merokok:
langkah pertama yang paling penting Tidak ada obat atau alat medis secanggih apa pun yang bisa menandingi manfaat berhenti merokok. Kerusakan paru yang sudah terjadi tidak akan kembali seperti semula, tetapi kerusakan dapat diperlambat secara signifikan.
Konseling, terapi pengganti nikotin, dan dukungan keluarga sangat membantu keberhasilan berhenti merokok.
2. Kurangi paparan asap dan polusi
* Hindari berada di sekitar orang yang merokok (perokok pasif).
* Perbaiki ventilasi di dapur, terutama bila masih memakai kayu bakar atau minyak tanah.
* Gunakan masker di lingkungan kerja yang penuh debu atau asap.
3. Jangan tunda periksa
Jika batuk berdahak dan sesak napas sudah mengganggu aktivitas, jangan hanya mengandalkan
obat warung. Dokter dapat menyarankan pemeriksaan fungsi paru (spirometri) untuk menilai
seberapa berat gangguan aliran napas.
4. Patuh pada pengobatan
Penderita PPOK umumnya mendapatkan obat hirup (inhaler) untuk melebarkan saluran napas,
serta obat lain sesuai kebutuhan. Penggunaan obat harus:
* rutin,
* dengan teknik yang benar,
* dan tidak hanya dipakai saat kambuh.
5. Tetap aktif bergerak
Olahraga ringan teratur seperti berjalan kaki, senam napas, atau latihan sederhana dari tenaga
kesehatan dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan efisiensi napas. Di beberapa rumah sakit tersedia program rehabilitasi paru khusus penderita PPOK.
Peran Keluarga: Jangan Bilang “Ah, Cuma Batuk”
Keluarga dan lingkungan
sekitar memegang peran kunci:
* Jangan meremehkan batuk kronik pada orang tua, pasangan, atau anggota keluarga yang merokok.
* Ajak mereka memeriksakan diri, bukan sekadar membeli obat batuk.
* Beri dukungan ketika mereka berusaha berhenti merokok, jangan justru menggodanya.
Mengubah kebiasaan memang tidak mudah. Namun, jauh lebih sulit menjalani hari-hari dengan tabung oksigen di samping tempat tidur.
MENJAGA PARU, MENJAGA MASA DEPAN
Paru-paru adalah “mesin” yang bekerja tanpa henti sejak kita lahir, tetapi sering baru diingat ketika mulai bermasalah. PPOK mengingatkan kita bahwa gaya hidup hari ini menentukan kualitas napas di masa depan.
Sebelum batuk kronik dan sesak napas menjadi “teman tetap” sepanjang hidup, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri:
“Apa yang sudah saya lakukan hari ini untuk menjaga paru-paru saya?” Karena pada akhirnya, napas yang lega adalah salah satu bentuk kenyamanan paling sederhana dan itu layak kita jaga.

Komentar