PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) menegaskan komitmennya terhadap perlindungan lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Hal ini disampaikan Corporate Communication Manager DSLNG, Adhika Paramanandana, dalam kegiatan pelatihan Jurnalistik menulis menyelematkan alam, yang digelar oleh AMSI Sulteng, di Hotel Santika, kota Palu, Kamis, 8 Januari 2026.
Adhika menyebut sekitar 60 persen area di sekitar fasilitas LNG Donggi Senoro tidak tersentuh aktivitas industri dan tetap terjaga seperti kondisi awal sebelum proyek berjalan.
Menurutnya, aktivitas operasional DSLNG hanya difokuskan pada area pesisir yang menjadi jantung kegiatan produksi LNG.
“Kami hanya mengelola area yang memang dibutuhkan untuk operasi. Selebihnya tetap dibiarkan alami,” ujarnya.
DSLNG mengusung konsep kawasan industri terpadu, di mana fasilitas produksi, dermaga, hingga kawasan hunian karyawan berada dalam satu ekosistem. Pola ini, kata Adhika, mendorong perusahaan untuk menjaga kualitas udara, air, dan lingkungan karena karyawan tinggal langsung di sekitar area operasi.
Sebagai perusahaan single LNG train, yang disebut sebagai yang terkecil di Indonesia, DSLNG menerapkan standar operasional dan lingkungan yang ketat. Setiap potensi pelanggaran baku mutu, terutama emisi dan limbah, berisiko menghentikan seluruh proses produksi.
Perusahaan juga dilengkapi sensor lingkungan di berbagai titik, yang terhubung langsung dengan Kementerian Lingkungan Hidup.
“Jika ada kebocoran sekecil apa pun, sistem akan langsung melaporkan,” jelas Adhika.
Dalam pengelolaan lingkungan, DSLNG mengacu pada standar internasional ISO 14001, mencakup pengelolaan emisi udara, limbah cair, limbah B3, hingga pemantauan keanekaragaman hayati laut. ***

Komentar