DAYA tawar cengkeh telah diuji dalam beberapa dekade. Menjadi urat nadi kehidupan petani, tetapi harga kian tak pasti. Belakangan terus merosot di pasaran.
Alisan, Harian Luwuk Post
JALAN dengan lebar tak lebih dari 3 meter itu, tertutup dari cahaya matahari. Pohon cengkeh berdiri rimbun di sisi kiri dan kanan bak berjalan di sebuah terowongan yang entah di mana ujungnya. Kala pukul 16.30 terlihat seperti pukul 17.45. Gelap.
Di jalan yang berkelok-kelok itu, petani hilir mudik mengangkut buah cengkeh yang baru saja selesai dipetik sehari penuh. Namun, Ahmad P. Rajab masih belum juga beranjak pulang, meski mentari menuju ke peraduan. “Masih bikin tangga,” kata dia kepada Harian Luwuk Post, Jumat (21/8) petang.
Membuat tangga dari bambu bukan pekerjaan baru bagi Ahmad. Sudah sekitar 37 tahun, ia menggeluti pekerjaan sebagai petani. Memanen cengkeh berikut mendirikan tangga setiap kali panen setahun sekali. Ia salah satu dari petani yang merasakan mekar kuncupnya harga cengkeh.
Mantan Kepala Desa Monsongan, Kecamatan Banggai Tengah itu, sejak tahun 1982 telah bergelut dengan cengkeh. “Pada tahun 1982 itu panas panjang, sampai kebakaran,” tuturnya di pondoknya yang dibangun di bawah rindangnya pohon cengkeh.
Setelah kemarau panjang itu, Ahmad memilih menuju Manado, Sulawesi Utara. Pulangnya, ia membawa lebih dari10 ribu biji cengkeh untuk disemaikan, sebelum ditanam. “Saya panggil sepupu saya empat orang untuk semaikan, setelah satu tahun baru berikan kepada warga Monsongan,” tuturnya.
Bibit-bibit itu ia berikan secara cuma-cuma kepada warga. Pendorongnya karena harganya yang mahal dan tak mudah diperoleh. Tahun 1983 penanaman dimulai setelah masa disemaikan selesai. “Berikan saja begitu sama keluarga juga,” katanya.
Saat itu, katanya, harga cengkeh di Kota Manado telah mencapai Rp15 ribu per kilogram. Setelah cengkehnya tumbuh, pada 1993 harga cengkeh malah anjlok tak terduga. Saat itu, masih terdapat Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang dibentuk tahun 1990 di zaman pemerintahan Soeharto. “Di zaman 1990-an pernah turun sampai Rp2.500 dari Rp25 ribu,” tuturnya.
Di tengah turunnya harga cengkeh, Ahmad bersama sekitar 20 warga Banggai Laut lainnya memilih menjual cengkeh ke Kendari, Sulawesi Tenggara dengan berlayar. Seingatnya, KM Cahaya Endang mengantarkan mereka. “Wih dikejar-kejar di tengah laut karena diistilahkan menyelundup,” ujar dia terkekeh mengingat masa lalu.
Pada tahun 1998-1999, katanya, harga cengkeh sedikit membaik. Di pasaran telah dibanderol dengan harga Rp35 ribu per kilogram. “Ya setelah reformasi. Pecah reformasi 98 kebetulan saya menjabat (kepala desa) setelah terpilih. Baru dua bulan menjabat jatuhlah reformasi,” katanya.
Kemudian tahun 2000, harga cengkeh kembali mekar. Bahkan hingga menembus Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. “Ini baru mulai remaja-remaja, sekitar 2 ton lebih. Alhamdulilah saya masih beli taksi (mobil),” tuturnya sambil menunjuk cengkeh yang kini juga berbuah lebat.
Informasi yang dihimpun Harian Luwuk Post dari berbagai sumber, kenaikan harga cengkeh tahun 2000 itu mampu membangkitkan kembali optimisme petani setelah gempa bumi melanda. Memorak-morandakan rumah dan berbagai fasilitas publik.
Mekar harga cengkeh tak berhenti di era Presiden Habibie dan Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga menyentuh Rp150 ribu per kilogram. “Kemudian turun Rp100 ribu,” papar dia.
Saat ini, pantauan Harian Luwuk Post harga cengkeh di Kabupaten Banggai Laut tersisa Rp47 ribu hingga Rp48 ribu per kilogram. “Saya berpikir jangan-jangan ini kembali seperti dulu, balik kanan,” tandasnya.
Harga saat ini jika dilihat kembali, masih tinggi harga di era tahun 2000 yang mencapai Rp70 ribu per kilogram. Padahal, dalam perjalanan dua dekade ini ongkos petik hingga sembilan bahan pokok terus mengalami kenaikan. “Ini kalau sewa petik Rp4.000 satu liter bagi dua, kalau dilihat kalah tuan cengkeh,” tutur petani cengkeh lainnya di Desa Monsongan, Arman Abuka.
Arman salah satu petani yang pernah menikmati tingginya harga cengkeh hingga Rp220 ribu per kilogram di zaman Yudhoyono tahun 2006. Saat itu, ketika buah cengkeh di Desa Monsongan menurun, ia memilih menjadi pemetik. “Satu liter Rp20 ribu waktu itu jadi pemetik,” katanya.
Namun, harga yang meroket itu tak bertahan lama. Menurut Ahmad P. Rajab bahkan hanya berlangsung seminggu. “Iya tapi tidak lama, langsung turun,” tuturnya.
Dengan harga yang tak sampai lagi Rp50 ribu per kilogram, papar Ahmad, hanya sekitar Rp2.000 hingga Rp2.500 per liter. “Kalau ada warga-warga saya, rencana saya sudah bagi dua ini,” kata tokoh masyarakat di Kabupaten Banggai Laut itu. (*)




![OL_AMIRUDIN TAMOREKA SILATURAHMI AT-FM DI BANGKEP: Bupati Rais D. Adam, Wakil Bupati Salim J. Tanasa, Ketua DPRD Rusdin Sinaling dan Sekreraris Daerah menyambut kedatangan ATFM di Bangkep, Senin (8/2/2021). [Foto: Rifan/Luwuk Post]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/OL_AMIRUDIN-TAMOREKA.jpg)
![ANUGERAH PWI PENGHARGAAN PWI: Bupati Banggai Herwin Yatim saat menerima Anugerah Kebudayaan PWI 2021 bersama 9 bupati/walikota pada puncak peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2021 di Jakarta, Selasa (9/2). [FOTO ISTIMEWA]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/ANUGERAH-PWI.jpeg)