HARI sabtu, sebelum kembali menemui Senin yang mungkin tiba lebih awal esoknya, orang-orang memilih melepaskan penatnya. Beruntung, kota kecil ini ramah bagi penduduknya. Melepas penat tak perlu jauh dari rumah.
Haris Ladici, Harian Luwuk Post.
ANDA tinggal datang, memarkir kendaraan, menentukan tempat duduk, bersalin pakaian, lalu langsung menceburkan diri ke laut.
Ada delapan tangga dengan berbagai model, yang menjulur menyentuh permukaan air. Dua berupa tangga kayu di sisi kanan, dan enam tangga beton selebar satu sampai tiga meter, berjejer di sisi kiri.
Beberapa lainnya hanya berupa karang, tanpa beton.
Meskipun beberapa stan kuliner sudah berlantai beton dan menyita sebagian area pantai, tetapi tetap saja tidak melunturkan pesona pantai Kilo Lima.
Saat melompat ke dalamnya air, kaki langsung menyentuh pasir halus nan lembut. Di bagian lain pantai, menghampir pasir yang lebih kasar, yang sepertinya bisa untuk memperlancar peredaran darah jika diinjak.
Pantai Kilo Lima, pantai yang diapit pemukiman padat, tetapi tetap menawarkan air yang biru kehijauan yang jernih. Perpaduan warna hijau daun dan biru, semacam sepakat berbagi tempat. Hijau di bagian yang dangkal, dan semakin biru ke tengah lautan.
Jernihnya air, memantulkan apa saja yang menghampar di permukaannya. Pasir, karang, dan ikan-ikan kecil yang bergerombol.
—
Saat mengunjungi (lagi) pantai ini sabtu pagi, saya tetap tergoda turun dan berenang. Menutup layar ponsel, melupakan riuh perbicangan mengenai pembukaan Alfamidi, serta ramainya Tourgab Road to Pulo Dua.
Matahari cerah di akhir Agustus, laut yang tenang, seperti memanggil-manggil siapa pun untuk mandi dan berenang. Yang juga membuat pikiran sejenak reda dari keriuhan adalah bersihnya hamparan air laut.
Tak ada sampah mengapung di permukaan laut. Tak ada batang-batang pohon hanyutan dari sungai. Semakin menggoda untuk turun dan berenang. Hanya ada satu dua lembar daun ketapang kering yang terombang ambing di permukaan laut yang bergelombang.
Saya pikir ini anugerah besar bagi Luwuk. Pantai bersih di dekat rumah; pantai memesona di tengah kota.
Sejauh mata memandang, tak tampak air keruh seperti bekas tumpahan minyak menghampar di permukaan laut. Sungai Simpong, yang membelah kota di kejauhan, hingga kini tetap mengalirkan air jernih ke muara.
Selain sangat dekat, Pantai Kilo Lima juga sebuah lokasi rekreasi yang murah meriah. Saat perut mulai terasa lapar, ada sekira 15 gazebo menyajikan makanan ringan. Meski pilihannya terbatas, paling tidak selepas berenang, perut lapar segera terisi. Makanan yang tersedia, mulai cemilan hingga minuman siap dipesan. Pisang goreng, mi instan, teh dan kopi, bisa disantap sambil ngobrol dengan teman, kerabat ataupun relasi yang kebetulan bertemu di sana.
Bagi yang tak ingin mandi, pantai ini tetap saja menarik, untuk dipotret atau swafoto berlatar laut dan langit. Ah ya dan tentu saja untuk diposting di media sosial, dengan caption sederhana sekalipun. “Saya lagi di sini, kamu di mana?” (*)



![OL_AMIRUDIN TAMOREKA SILATURAHMI AT-FM DI BANGKEP: Bupati Rais D. Adam, Wakil Bupati Salim J. Tanasa, Ketua DPRD Rusdin Sinaling dan Sekreraris Daerah menyambut kedatangan ATFM di Bangkep, Senin (8/2/2021). [Foto: Rifan/Luwuk Post]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/OL_AMIRUDIN-TAMOREKA.jpg)
![ANUGERAH PWI PENGHARGAAN PWI: Bupati Banggai Herwin Yatim saat menerima Anugerah Kebudayaan PWI 2021 bersama 9 bupati/walikota pada puncak peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2021 di Jakarta, Selasa (9/2). [FOTO ISTIMEWA]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/ANUGERAH-PWI.jpeg)
![BNNP Sulteng PEMAPARAN TENTANG NARKOBA: Kepala BNNP Sulteng, Brigjen Pol. Monang Situmorang bersama Kapolres Banggai AKBP Satria Adrie Vibrianto saat menyambangi Mapolres Banggai, Selasa (9/2). [Foto: Istimewa]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/BNNP-Sulteng.jpeg)