Lintasan Lari sebelum Persibal Berdandan

Luwukpost.id -

SAYA suka lari. Olahraga paling murah dengan hasil yang luar biasa. Dengan lari saya melatih diri untuk fokus. Fokus hanya pada ayunan kaki sendiri di garis lintasan. Di garis lintasan yang diulang-ulang itu. 15 kali putaran untuk jarak sekira 5 km.

Haris Ladici, Luwuk Post

SEBELUM kehadiran stadion Persibal, saya menggunakan jalur Keles-Bukit Teletubbies atau ruas jalan dalam kota sebagai lintasan. Start dari RTH. Finishnya pun di taman yang menghadap Teluk Lalong itu. Beberapa rute pilihan yang berjarak 5-6 kilometer, adalah jalur Kantor Harian Luwuk Post-Bimoli–GOR Kilongan, lalu memutar lewat Jalur Dua belakang Rumah Sakit Luwuk, sebelum akhirnya finish di kantor redaksi harian dengan tagline Pertama dan Terbesar di Kawasan Sulawesi Timur ini.

Kedua rute itu menurut saya lumayan untuk lari pada sore hari. Menjelang magrib, seusai rapat redaksi.

Biasanya, jika tak sempat pada sore hari. Saya akan berusaha lari pada malam hari. Selepas deadline jam 11-12 malam. Rute yang saya rasa paling aman adalah kantor Luwuk Post-Tugu Adipura. Jalannya relatif menurun. Tidak menanjak. Juga cenderung sepi dari lalu lalang kendaraan.

Tetapi,  lintasan lari yang memberi pencapaian jarak dan waktu sesuai dengan umur adalah ruas jalan RE Martadinata.

Saya mengakrabi ruas jalan “Boulevard Kota Luwuk” ini, sebagai lintasan lari setelah mengantar anak-anak ke sekolah, atau sore hari sebelum menjemput mereka pulang.

Pagi hari dan satu jam sebelum magrib. Saat angin di pesisir pantai itu tidak lagi berembus kencang.

Di ruas jalan RE Martadinata, sangat mudah menetapkan target 5 km 30 menit. Cukup enam kali memutar di ruas jalan dari tugu GMT, hingga Tugu BRI di depan Restoran Pawon Djawa. Bahkan, jika angin laut tak bertiup kencang dan badan tidak gigil karena keringat, target 5 km 25 menit pun bisa dicapai.

Tetapi itu dulu. Sebelum Lapangan Persibal direhabilitasi. Selain tribun penonton dibenahi, di Lapangan Persibal kini disediakan lintasan lari. Belum serupa lintasan lari di GOR Nani Wartabone Gorontalo yang terasa empuk. Tapi, setidaknya lintasan larinya sudah dibeton dan tidak bolong-bolong seperti ruas jalan RE Martadinata.

Dulunya, lapangan olahraga itu terlihat tidak terurus. Penuh rumput liar, dengan pagar rusak sana sini, bahkan nyaris rubuh. Dulunya Persibal menarik perhatian hanya pada momen-momen tertentu. Semisal, pilkada yang digelar lima tahun sekali. Lapangan yang berada di tengah kota itu menjadi pilihan lokasi kampanye. Tempat para kandidat adu gagasan dan unjuk jumlah massa.

Kini stadion itu menjadi kebanggaan warga kota. Anak-anak, sampai orang tua menjadikan stadion yang dinamai dengan nama mantan bupati kesayangan warga Banggai ini, sebagai lokasi favorit untuk berolahraga.

Lokasinya yang dekat lereng gunung, memang baik untuk aktivitas seperti ini. Angin tidak bertiup kencang. Badan yang mandi keringat tidak akan menggigil karena tiupan angin kencang, seperti halnya di lintasan jalan RE Martadinata.

Meski begitu, beberapa kali mencoba lintasan ini, target 5 km dalam 30 menit makin sulit dicapai. Bukan karena saya tak fokus pada ayunan kaki. Bukan pula karena keramaian di lintasan. Bukan juga karena tiupan angin yang menggigilkan badan. Semua masih karena Covid-19. Lari sambil mengenakan masker.

Akhirnya, Persibal telah berdandan, dan memberi ruang aman olahraga bagi semua usia. Tidak hanya aman, tetapi juga cukup nyaman. Seterusnya kita tinggal menunggu waktu, kapan akan kembali berolahraga tanpa masker. (*)