SPBU Kilo Lima dan Puluhan Warung di Depannya

Luwukpost.id -

 

SPBU KILO LIMA: Sejak dibangun, kehadiran SPBU Kilometer 5 turut membantu pergerakan ekonomi warga. [Foto: Haris Ladici/Harian Luwuk Post]
LUWUK, LUWUK POST–Kota Luwuk makin berkembang. Mobilitas penduduk makin tinggi. Jasa SPBU pun makin bertambah. Meski begitu, SPBU Kilo Lima tetap menawarkan kenyamanan bagi warga untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak. SPBU yang terletak di Luwuk Selatan ini, memang lebih besar dibanding SPBU dalam kota. Lahannya luas. Sarana pendukungnya cukup lengkap. Lokasinya di “gerbang” masuk dan keluar kota. Sangat strategis, aman dan bersih.

Ada toilet yang bersih dengan lahan parkir yang cukup luas. Ada juga tempat penggantian oli, dan toserba. SPBU tersebut dilengkapi enam buah pompa bahan bakar, masing-masing dengan dua unit nozel.

Pengendara bisa memilih. Tersedia premium, pertalite, pertamax, dexalite, solar hingga pertamax turbo yang bakal menyusul.

Tak hanya tertib dalam pelayanan, pengelola SPBU pun sadar giat pinasa. Ini ditandai dengan tersedianya tempat sampah di setiap pompa bahan bakar. Dengan begitu, pengendara yang mengisi BBM tidak membuang sampah sisa dus makanan, pembungkus rokok maupun tisu bekas pakai di lantai SPBU.

Sejak dibangun beberapa tahun silam, SPBU Kilo Lima telah membantu ekonomi puluhan warga. Lokasi depan SPBU yang sebelumnya hanya pesisir pantai, kini berjejer puluhan kios dan warung makan.

Salah seorang perempuan pemilik kios, mengaku membangun kios setelah SPBU itu dibangun.

Begitu pun Suwarno, pemilik warung makan. Ia menuturkan, di masa pandemi pendapatan warga turut menurun. Tetapi masih tetap ada pelanggan yang mampir makan. Terutama sopir truk bermuatan pasir dan batu dari Toili. “Kalau tak ada SPBU, sunyi tempat ini,” katanya, lantas tersenyum.

Ia mengatakan, pelanggan kebanyakan adalah pemilik maupun penumpang kendaraan yang mengisi BBM di SPBU.

Ia mengaku di masa pandemi, pendapatan berkurang, tetapi pelanggan tetap ada. “Baru setahun di sini, memutuskan bangun warung makan karena SPBU,” kata Suwarno.

Hal senada disampaikan oleh Abdul. Ia, mengaku masa pandemi berpengaruh terhadap pendapatan. Tetapi dengan adanya SPBU, masih ada pembeli yang mampir ke kios yang dibangun orang tuanya beberapa tahun lalu itu. Apalagi, pelayanan SPBU nyaris tanpa keluhan sehingga masih tetap disenangi pelanggan.

Hal serupa diungkap Rusmana, warga pasar Simpong, yang membangun warung di depan SPBU dua bulan terakhir. Masa pandemi pendapatan menurun. Beruntung kata dia, SPBU masih tetap diminati warga, sehingga wilayah ini tetap ramai. Usahanya pun ikut terdampak keramaian itu. Banyak warga yang mampir berbelanja di warungnya. “Pagi ramai, tapi tetap tertib, kalau siang memang agak sepi,” ujarnya.(ris)