
SAYA sedang menyiapkan masakan, saat chat dari seorang adik singgah di gawai. Ia mengirim sebuah foto, tangkapan layar twit penyair favorit kami. Si penyair sedang “mempromosikan” buku puisi dua orang penyair Indonesia Timur.
Bermula dari kata “Indonesia Timur”, twit atau cuitan itu ramai dibicarakan di wag penulis (saya salah satu penghuni di wag itu). Sentimen negatif bermunculan dari cuitan itu, beberapa orang berpendapat penulis Timur jualan eksotisme semata, dan ditambah beberapa pendapat lain. Semuanya sah saja, pendapat memiliki kebenaran bagi yang meyakininya. Bagi saya, Indonesia Timur tidak hanya perkara “jualan” eksotisme semata: laut, padang-padang kering, tenun warna cerah, dan tradisi-tradisi yang tak akrab di banyak telinga. Tidak hanya persoalan eksotisme, Indonesia Timur merujuk pada banyak hal yang bersinonim dengan ketertinggalan. Itu pula yang membuat sebuah candaan hadir, “barangkali jika bagian barat sudah kiamat, maka Indonesia Timur baru akan merasakannya 20 tahun kemudian”. Sebuah candaan yang saya baca di sebuah artikel.
Ada banyak ketimpangan, hal-hal yang jika dijabarkan satu per satu, cukup membuat catatan ini menjadi sangat panjang. Sebagai seorang pembaca, saya merasa kepayahan dengan urusan mengakses buku. Buku-buku jauh, dompet saya tak cukup dekat dengan ongkos kirim. Dari dunia perbukuan saja, Indonesia Timur sudah bisa mengeluh. Saya tidak bicara soal jumlah penulis dari timur, meski secara sadar bisa saya katakan, jumlahnya memang masih kecil. Perbukuan adalah hal lain lagi, distribusinya hanya lancar di gerbang Indonesia Timur. Setelahnya, buku-buku terlihat sedikit susah payah menuju pintu-pintu rumah.
Toko buku yang hanya ada di ibu kota provinsi merupakan salah satu kendala. Distribusi perbukuan tidak seperti distribusi logistik pangan, dan sandang. Kau bisa menemukan mi instan produksi khas Korea di sebuah toko kecil di kota kabupaten, tetapi nihil hasil ketika kau hendak mencari buku puisi Aan Mansyur di kota yang sama. Buku tidak pernah menjadi salah satu kebutuhan pokok, itulah mungkin distribusinya tidak selancar mi instan, susu bubuk produksi Malaysia, atau coklat dari Eropa.
Belanja buku online adalah tantangan lainnya, ongkos kirim tidak pernah akrab dengan kantong saya (juga dengan beberapa kawan lain yang saya kenal). Indonesia Timur juga berarti keterbatasan dari akses, dan keterlambatan. Bayangkan perjalanan sebuah buku menuju pintu rumah kita: pesan di pusat negara, dikirim hari itu juga, dan tiba tujuh atau delapan hari kemudian. Kadang-kadang rute perjalanan itu sedikit lebih singkat, jika memesan atau membeli di Makassar, pintu gerbang Indonesia Timur. Riwayat perjalanan sebuah “keinginan” dari barat ke timur tidak hanya dalam hitungan hari atau satuan waktu. Lebih dari itu, ia melibatkan banyak hal. Saya yakin kita semua sering diserang perasaan tidak sabar, sambil sesekali mengecek nomor resi di website lacak kiriman.
Keterbatasan itu mengunci banyak hal, pun akses internet yang memegang peranan penting dalam pemenuhan informasi. Kota kabupaten dengan sinyal 4G yang terlihat di layar ponsel, adalah keterbatasan lainnya. Tidak semua bisa merasakan lancar jaya menikmati layanan internet. Belajar online memaksa anak-anak timur bergerak ke tempat-tempat yang sinyalnya tidak “goyang”.
Apa lagi yang ingin kita bicarakan tentang timur? Saya rasa hampir separuhnya atau sebagian besar adalah definisi tentang ketertinggalan dan keterbatasan. Oh, jika kau ingin menambahkan, satu lagi adalah ketidakhadiran “pusat” di banyak lini. Menurut saya, berangkat dari banyak ketidakhadiran ini, kemudian beberapa orang mengambil inisiatif—menjadi hadir. Salah satunya mungkin kehadiran MIWF (Makassar International Writers Festival) untuk kebudayaan. MIWF menghadirkan suara-suara dari timur, dan menggemakannya dari selatan Sulawesi. Sejak MIWF hadir, sebagai pembaca saya merasakan aura baru dalam perbukuan, deret nama penulis yang kemudian diisi oleh nama-nama dari timur, perempuan dan laki-laki. Olehnya itu pula, saya sebagai pembaca kemudian mengenal Aan Mansyur, membaca puisi-puisi Mario Lawi dan mengoleksi novel Faisal Oddang. Di deretan nama perempuan penulis dari timur, ada Erni Aladjai, Deasy Tirayoh, dan lainnya.
Nama-nama baru di deret nama penulis Indonesia, membawa kisah-kisah baru di antara kisah-kisah yang telanjur melekat dalam kepala kita. Ada Sawerigading menyeruak di antara kisah-kisah pop. Ada puisi-puisi biblikal Mario, di antara puisi-puisi rindu dan sepi. Ada yang kemudian terdengar, setelah sekian lama tidak didengar.
Lepas MIWF, kemudian FSB (Festival Sastra Banggai) memberanikan diri membawa suara-suara lainnya. Dari lengan timur Sulawesi, ia menggemakan bunyi—teluk, laut, kisah-kisah lain, dan segala yang tidak tampak. Seperti itulah “kehadiran” diusahakan manusia-manusia timur. Mungkin benar, FSB hanya bunyi kecil tetapi ia bersuara, meski lembut dan patah-patah seperti balita belajar bicara. Kesadaran merekam hal-hal sekitar: tradisi, peristiwa, pengalaman, perlahan mulai terbangun. Insting kreativitas “terjaga”, dan mulai bergerak dengan sadar, bahwa ada yang harus bersuara.
Akhirnya, timur bukan persoalan zona waktu saja. Matahari mungkin terbit lebih dulu dari sini, tetapi semua hal berjalan lebih pelan, lamban, dan terlalu lelah untuk dikejar. Tetapi selama napas masih padu, dan kesadaran untuk hadir terus menyala, Indonesia Timur tidak hanya sekadar sebuah eksotisme belaka. Ia ADA. (*)
