Judul Buku : Keterampilan Membaca Laut
Penulis : Ama Achmad
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2018
Tebal Halaman : 84 hlm
Oleh: Agung Saadjad

Baris pertama yang saya tulis ini adalah ekspresi paling sederhana ketika dipertemukan dengan “Keterampilan Membaca Laut” oleh penulisnya.
Kagum adalah ekspresi pertama ketika bertemu buku itu. Ama Achmad menambah daftar panjang kepenulisan di Banggai, dan menjadi salah satu dari sangat sedikit penulis perempuan di Sulawesi Tengah.
“Keterampilan Membaca Laut” kumpulan puisi ini, membuat saya tidak bisa berkomentar secara terperinci tentang bahasa dan tulisan penulis.
Ini adalah pengalaman membaca yang sangat aneh bagi saya. Tidak semudah memberi tanda centang atau menyilang, pada judul puisi mana yang disukai atau tidak disukai. Tidak seperti itu.
Keterampilan Membaca Laut adalah mesin kecil yang terbuat dari kata-kata, bahan baku dari kumpulan puisi ini adalah kekuatan kata-kata. Kadang-kadang berbunyi di telinga, kadang-kadang terlihat seperti alamat, seperti gambar, semua membawa saya berlayar jauh.
Mungkin banyak orang telah mengetahui bahwa setiap penulis, memasukkan dirinya ke dalam tulisannya. Setiap orang memiliki tempat, perang sendiri, kedamaian, rasa, pengalaman, perenungan, dan setiap orang mempunyai cara perginya sendiri.
Begitu juga dengan penulis yang memiliki puisinya sendiri. Menurut saya, secara keseluruhan Keterampilan Membaca Laut, semacam catatan penulis terhadap semua hal yang sudah saya sebutkan di atas.
Saya ingat ketika saya membaca beberapa puisi dalam buku, yang membuat saya bertanya-tanya apa sebenarnya maksud si penulis.
Tapi saya menyadari keindahan puisi terletak di sana, pada misterinya, dan memahami apa yang ada di luar pikiran awal saya ketika membacanya. Karena semua (puisi) mekar, mereka menjadi cantik, tetapi di balik itu semua, puisi menyimpan bayangannya.
Saya membayangkan Ayuthaya yang warna hijaunya jadi tidak ada, Aadame yang menumbuhkan musim lain, Tende yang meminjam suara-suara masa lalu, dan beberapa puisi lainnya yang membuat saya ingin bertemu si penyair.
Jujur saja kumpulan puisi ini menarik, tidak peduli apa yang menginspirasi saya untuk mengikuti keterampilan menulis Ama Achmad.
Satu kata mengikuti kata lain, selanjutnya kamu akan melihat puisi, dan sebuah buku di depanmu. Ini pekerjaan yang saya akan coba berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun, atau mungkin juga lebih lama dari kehidupan.
“Laut menyimpan separuh tubuhnya di ke dua matamu.
Aku mengambil sebagian untuk tiga judul puisi yang tak pernah selesai.
Semesta yang menyimpan kesedihan adalah tempat, di mana aku juga kau menuangkan banyak warna biru di setiap ingatan.
Di dalamnya kita sama-sama tenggelam”
Penggalan puisi Keterampilan Membaca Laut ini akan membuat kalian meletup-meletup. Lalu mengambil telepon genggam mencari akun si penulis, menghubunginya, membuat janji bertemu di sebuah kedai kopi favoritnya. Di sana Ama Achmad akan membawa kalian belayar, dengan keterampilannya membaca laut. (*)


