BANGGAI, LUWUK POST-Ruslan Tolani terus memikirkan agar kebudayaan di Kabupaten Banggai Laut bisa menopang industri pariwisata. Pantai putih yang bersih belum cukup untuk memamerkan daerah ini ke pelancong.
Kerajaan Banggai yang telah ditulis Empu Prapanca tahun Saka 1478 atau 1365 Masehi, kini masih menyisakan jejak-jejak. Salah satu bukti peradaban itu, Keraton Kerajaan Banggai yang kini masih berdiri.
Namun, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banggai Laut itu, mengakui Keraton Kerajaan Banggai akan ditata lagi. “Kami sudah bicara dengan perangkat adat, rencana penataannya sudah ada,” tuturnya, Senin (12/10).
Ruslan meyakinkan bahwa bangunan Keraton tidak akan disentuh rencana penataan. Sebab, desain penataan hanya meliputi halaman saja. “Kalau gedungnya tidak,” katanya.
Ia tak menampik bahwa isi dalam Keraton Kerajaan Banggai belum banyak. Masih memerlukan benda-benda peninggalan. “Di dalamnya pelan-pelan, mungkin replikanya,” tuturnya.
Pemerintah Kabupaten Banggai Laut tak menutup diri bilamana terdapat pihak-pihak yang ingin menyerahkan benda-benda peninggalan untuk ditempatkan di Keraton Kerajaan Banggai. “Itu lebih bagus lagi,” jelas dia.
Ia juga mengklarifikasi bahwa kantor yang ditempati saat ini bakal difungsikan sebagai museum. Pemerintah Kabupaten Banggai Laut bakal membangun kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. “Pak bupati (Wenny Bukamo) bilang lalu biar saja akan dibangunkan kantor,” katanya.
Ruslan menjawab hal ini atas sorotan yang dialamatkan. Publik menginginkan agar keaslian Rumah Jogugu tetap terjaga. Arsitektur modern diharapkan tak menyentuh bangunan ini.
Pengelolaan Pariwisata
Sejak menjadi daerah otonomi baru, sektor pariwisata yang belum memberikan kontribusi ke kas daerah. Itu karena terhambat peraturan daerah. Tahun ini, aturan itu telah disahkan.
“Nanti saya juga sosialisasikan itu karena mulai Januari 2021 kita sudah mulai ditargetkan pendapatan asli daerah,” jelas dia.
Rencananya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan akan fokus pada tiga destinasi sumber pendapatan asli daerah, yakni air terjun Matube di Desa Lampa, Kecamatan Banggai, Pantai Oyama, dan Banggai Lalongo.
Di Banggai Lalongo terdapat ritual adat Sasampe. Penjemputan Ubi Banggai dari Kabupaten Banggai Kepulauan. Banggai Lalongo yang terletak di Kelurahan Dodung, Kecamatan Banggai terdapat rumah adat.
Selain itu, jejak sejarah masih terdapat di Banggai Lalongo, salah satunya tempat pelantikan Tomundo atau raja. Kini sejumlah fasilitas tambahan sementara dibangun Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banggai Laut, salah satunya panggung kesenian. “Di Matube juga ada yang sementara dibangun itu,” jelas Ruslan.
Meski begitu, ia tak menampik masih terdapat sejumlah fasilitas pariwisata yang mengalami kerusakan seperti di Pulau Tolobundu, Kecamatan Bangkurung, Kabupaten Banggai Laut. Karena itu, ia mendorong kelompok sadar pariwisata di desa-desa agar merawat fasilitas yang telah dibangun.
Pemerintah Kabupaten Banggai Laut juga tak menutup diri dengan pelaku usaha yang ingin membantu pemerintah daerah mengelola destinasi pariwisata. Dengan begitu, tujuan memberikan pendapatan bagi daerah dan masyarakat bisa tercapai. (ali)

![BALUT KOTA TUA: Salah satu rumah arsitektur zaman dahulu di Kota Banggai, Kabupaten Banggai Laut. Beberapa bangunan peninggalan lama mulai dirobohkan, meski memiliki nilai sejarah. [Foto: Alisan/Harian Luwuk Post]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2020/10/BALUT.jpg)