![PENGUSAHA LOW PROFILE: Eddy Handoko, pengusaha perikanan yang merintis usahanya dari bawah. [Foto: Istimewa]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2020/10/EDDY-HANDOKO-02-247x300.jpg)
SEJAK pandemi Covid-19 menginfeksi seluruh Eropa, dan menyusul setelahnya mewabah di Amerika, ekonomi dunia benar-benar terancam.
Imbasnya pun terasa di Indonesia, bahkan hingga ke Luwuk. Salah satu yang sangat terdampak, adalah bisnis hasil kelautan dan perikanan.
Percakapan dengan Eddy Handoko, seorang pengusaha perikanan ini, berhasil membuka mata saya bahwa seluruh dunia ada dalam posisi bertahan.
— —-
Indotropic Fishery Luwuk, sebagai salah satu perusahaan perikanan di Indonesia, mulai menghentikan operasinya sejak bulan April lalu. Setelah pada Maret sebelumnya, tidak ada permintaan. Praktisnya perusahaan berhenti beroperasi, tepat sebulan sebelum penyakit yang disebabkan oleh virus korona baru SARS-CoV-2 menginfeksi daerah ini.
“Di Jawa dan Makassar sebagian besar stop. Saya tidak pernah menyangka. Saya stop operasi sejak bulan April lalu. Stop pembelian dan proses pengolahan,” tutur Eddy Handoko, Wakil Direktur Indotropic Fishery Luwuk, saat ditemui di kebunnya belum lama ini.
Ia terpaksa menghentikan operasi pabriknya karena pasar utama perusahaannya adalah Eropa dan Amerika, yakni Los Angeles, Panama, Malta, Prancis dan Slovakia. Pandemi ini menghantam ekonomi di Eropa dan Amerika. Olehnya, untuk memperkecil inflasi, negara di benua biru dan negaranya Donald Trump itu membatasi impor. “Semuanya. Termasuk bahan makanan. Apa yang dihasilkan negara masing-masing itu yang dihabiskan. Dan pembeli masih menyimpan ratusan ton. Negara-negara itu pun menunggu harga kembali stabil,” tuturnya.
Sebenarnya sejak kabar virus korona baru merata tersebar di seluruh dunia, ia sudah berhitung. Bersiap menghadapi dampak terburuk. Bagaimanapun tanpa operasi, pabriknya tetap akan mengeluarkan biaya. Penyebabnya, karena stok barang—hasil perikanan—masih sangat banyak, akibat ekspansi usaha yang dilakukannya setahun sebelumnya.
Ia pun menjabarkan salah satunya, stok di dalam cold storage yang tersedia di dua ruangan pabrik, jumlahnya masih ada sekira 100 ton. “Meski stop operasi, barang itu perlu didinginkan terus, olehnya ongkos bayar listrik hampir 30 juta sebulan,” paparnya.
Praktis, sejak bulan April itu, ia hanya menghabiskan stok hasil perikanan olahan. “Saya tidak melakukan pembelian lagi,” tuturnya. Tanda–tanda krisis itu, diketahuinya saat mengirimkan barang kepada pembeli di Panama. Sejauh ini, selama berbisnis dengan pembeli di negara yang memiliki terusan penghubung dua samudera itu, perusahaannya nyaris tidak pernah bermasalah.
Hingga kemudian, masalah itu tiba, kargo yang dikirim pada tanggal 15 Maret, dan tiba di sana pada bulan Mei mengalami kendala pembayaran. Padahal sebelumnya, setibanya di sana, pembayaran barang ekspor itu langsung cair 100 persen.
Tetapi kondisi Panama sudah memburuk akibat pandemi, pembelinya pun meminta proses pembayaran diubah dibagi menjadi 3 termin. Rincian pembayarannya, 15 persen di bulan Mei, 15 persen Juni, dan sisanya 70 persen bulan Juli. Ia pun cukup lega, karena 15 persen pertama beres, 15 persen kedua pun begitu. Tiba di bulan Juli, pembayaran 70 persen mandek. Bulan Agustus, pembeli di Panama akhirnya angkat tangan. “Tak sanggup membayar. Dibayar nanti barang sudah laku,” tuturnya.
Eddy memahami hal itu. Negara yang konon namanya diambil dari nama desa yang artinya ikan yang melimpah itu, benar-benar telah terpuruk karena pandemi.
Akhirnya diambil jalan lain, kata dia, barang di Panama itu dipindahkan, dan ditawarkan kepada pembeli di Los Angeles, Amerika Serikat. “Puji Tuhan. Mereka mau. Satu kontainer 40 feet,” paparnya.
Masalah belum selesai. Kemasan Panama berbeda dengan kemasan Los Angeles. “Terpaksa ganti karton, ganti stiker. Bersyukur pembeli mau kompromi, mereka yang ganti karton dan stiker,” ujarnya.
Yang membuatnya ngeri, adalah jalur masuk barang tersebut, dari Indonesia harus masuk melalui Panama. Padahal, ada kapal-kapal yang melayani pelayaran langsung Indonesia-Amerika.
“Apa tidak menimbulkan tanda tanya dari FDA, padahal ada kapal dari Indonesia langsung ke LA. Kenapa mampir ke Panama, akhirnya masuk FDA, diperiksa semuanya,” katanya.
Jika sebelumnya pemeriksaan barang ekspor dilakukan secara acak, di masa pandemi semua diperiksa. Setiap karton diwajibkan masuk jalur merah. “Dengan kondisi seperti itu, apa saya mau lanjut? Dengan kondisi sekarang stop, saya masih bisa hitung. Bayar listrik, bayar pajak, bunga bank, hitungannya pasti. Kalau mulai lagi, pasar belum jelas, numpuk barang sementara harga belum pasti. Ini sekarang harga pada titik nadir,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, puncak harga ada pada bulan Desember 2019 lalu. Contohnya, gurita ukuran besar dengan berat 2 kg lebih, bisa senilai Rp 70 ribu per kg. Sementara, kini di Luwuk, harganya turun hanya sekira Rp 24 ribu. Itu pun sudah lebih membaik, dibanding dua bulan lalu yang hanya sekira Rp 20 ribu.
Padahal, ia sudah ekspansi besar-besaran. Ekspansi itu dilakukan perusahaan setelah pada tahun 2018 lalu, omsetnya naik 100 persen dibanding tahun 2017. Ia pun bersiap-siap tancap gas. Ia memperluas ruang proses, menambah dua fasilitas pembekuan, cold strorage, menaikkan kapasitas trafo, lalu menambah dua genset untuk cadangan listrik jika terjadi pemadaman listrik.
Bukan itu saja, ia bahkan membangun fondasi untuk tangki nitrogen cair, yang nanti mengantisipasi pembekuan tiga ruangan jika tidak mampu. “Sudah dimuat di trailer dari Makassar, siangnya terima info dari pusat, jangan dulu dikirim. Untung tak dikirim. Kalau sampai sudah dimobilisasi ke Luwuk, peralatan itu nantinya menganggur dan akhirnya karatan,” ungkapnya.
Untuk persiapan ekspansi usaha itu, ia menghabiskan sekira Rp 10 miliar. Mulai dari ruang pembekuan, trafo, genset, ruang proses, semuanya direhabilitasi. “Tahun 2019 itu sudah benar-benar siap tancap gas,” tuturnya.
Ia sudah menghitung, nantinya dalam sehari kapasitas pembekuan dan pemrosesan gurita bisa mencapai 20 ton.
Tetapi, ia masih bersyukur bisa bertahan. Begitu pandemi mereda, ia sudah siap. Termasuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat dalam proses pengolahan hasil perikanan. Ia meyakini realitas saat ini, akan berlanjut sepanjang masa. Di mana negara-negara akan memperketat protokol kesehatan, termasuk harus bebas Covid-19. “Saya akan antisipasi dengan membangun laboratorium mini dalam pabrik,” paparnya.
Ia pun mengakui, dalam rentang waktu sejak bulan April itu, masih ada beberapa permintaan, sehingga ia sempat membuka pabrik selama sebulan untuk memproses cumi-cumi. “Puji syukur, selesai juga pekerjaan itu. Awal bulan September lalu, produknya sudah dikirim. Semoga lancar sampai di sana,” imbuhnya.
Meski pekerjaan sebulan itu tidak terlalu menguntungkan, namun tetap dilakukan untuk mengosongkan cold storage. “Kalau cold storage penuh, listrik jalan terus,” ujarnya.
Saat ini, kata dia, mulai ada permintaan meskipun belum banyak. Tetapi, dengan kapasitas pabrik yang mencapai 10 ton, sangat tidak ekonomis melayani permintaan satu-dua ton. “Kalau hanya satu ton, ibarat bus lintas provinsi, yang hanya terisi dua tiga orang. Tetap saja ongkosnya sama, solar dan uang jalan sopir, saya memilih tidak,” tuturnya.
Ia berharap pandemi segera pulih. Sebab, jika dipaksakan saat ini pun, momennya sudah tidak tepat.
Produk perikanan dari daerah ini, masuk Eropa untuk persiapan Natal dan Tahun Baru. Artinya awal Desember atau pertengahan sudah harus di sana. Kalau pun dikerjakan saat ini tidak lagi keburu, dengan asumsi pelayaran membutuhkan waktu dua bulan. “Sudah tidak keburu. Saya berharap pandemi bisa segera berakhir, dan ibarat seleksi alam, semoga kita semua akan mampu menjalaninya,” tuturnya.
Percakapan dan penjelasan Eddy Handoko, kembali meyakinkan saya bahwa sosok low profile ini adalah pengusaha yang cermat. Ia memasuki pasar dengan menguatkan kuda-kuda, tidak hanya berbekal nyali dan kemampuan manajerial yang baik tapi juga keteguhan hati.
Di akhir pertemuan, Eddy sempat berkata, semua adalah kehendak Tuhan. “Tapi begitulah, manusia hanya bisa berencana. Seperti kebanyakan orang, saya pun tidak pernah membayangkan kondisi tahun ini yang diliputi pandemi,” tuturnya, saat ditemui di kebunnya di Kelurahan Tombang Permai, Kecamatan Luwuk Selatan, belum lama. (ris)

![FOTO BOKS_EDDY HANDOKO BERKEBUN: Eddy Handoko, pengusaha perikanan di Luwuk, memilih berkebun di masa pandemi belum mereda. [Foto: Haris Ladici/Harian Luwuk Post]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2020/10/FOTO-BOKS_EDDY-HANDOKO.jpeg)