Mengajak 10 Pemuda, Berkebun dan Menanam Buah
“SATU bulan ini, saya di kebun,” jawabnya, ketika saya meminta izin untuk bertemu. Ia lantas mengirimkan kordinat lokasinya yang terletak tak jauh dari gardu sutet PLTG, via Google Map. Saya tidak kesulitan menemuinya di lokasi kebunnya, karena tiga pekan lalu lokasi dekat fasilitas PLN itu pernah saya kunjungi.
Haris Ladici, Harian Luwuk Post
—
SAYA memarkir kendaraan bermotor yang roda bannya sudah penuh lumpur, di depan pintu pagar besi yang cukup lebar dan bisa dimasuki oleh kendaraan roda empat. Tak lama kemudian, lelaki yang mengenakan jaket parasut warna biru, menutupi kaus berwarna kuning itu pun melambaikan tangan. “Masukkan saja sepeda motor ke dalam. Pintunya saya tutup agar kambing tak bisa masuk,” tuturnya, menyambut kedatangan saya.
Ia membawa saya melewati pondok kayu dengan mobil truk di belakangnya. Agak ke tengah kebun itu, disediakan tempat duduk untuk berkumpul. Tersedia kursi dari kayu bulat dan batang-batang kayu. Sangat alami. Siang dengan udara terik pun menjadi terasa adem. Saya serasa berada di kampung, melihat pohon-pohon kelapa, merasakan semilir angin, tanpa diganggu bising kendaraan.
Eddy Handoko, pengusaha di sektor perikanan itu memang tengah beraktivitas di kebun. Sejak dua bulan terakhir ini, ia membuka kebun di jalan tak beraspal menuju gardu Sutet. Siang itu tampilannya, tampak santai. Eddy mengenakan fedora hitam, sandal jepit, dan kacamata penghalang sinar matahari. Sekilas, saya melihat penampakan almarhum Bob Sadino, pengusaha kaya dan eksentrik itu.
Di lokasi cukup luas, yang ditumbuhi jejeran pohon kelapa itu, Edi memuaskan hobi berkebunnya. Ia menanam apa saja yang bisa ditanam di tanah yang sudah dibersihkan. Tak hanya itu, ia juga memelihara ayam dan berencana membangun sarang walet. Ia mengaku, menghabiskan biaya yang lumayan untuk berkebun. Dari pembersihan lahan sampai penanaman buah-buahan. “Satu setengah bulan baru bersih,” ujarnya.
Di lahan seluas 1,4 hektare, yang dibelinya beberapa tahun lalu itu, ia menanam bermacam buah-buahan. Ia menanam mangga, jambu kristal, alpukat, dan rambutan Binjai Super. “Bibitnya dari Mangkutana, bagus-bagus buahnya, besar-besar,” katanya.
Ia juga memesan bibit duku manis dari Manado, yang akan tiba pekan ini. Tak hanya itu, ragam buah-buahan itu masih ditambah dengan buah naga, singkong, jagung, dan pepaya California. “Semua full buah-buahan,” katanya tersenyum.
Bibit-bibit buah-buahan itu, beberapa adalah pemberian kawannya. Seperti tanaman alpukat mentega, yang bibitnya merupakan pemberian temannya, Agus Sandagang. Bibit alpukat aligator itu, ia peroleh dari penjual buah langganannya. “Pak Eddy, saya ada bibit, titip tanam. Kalau sudah berbuah, saya beli lagi dari Pak Eddy. Waduh senang saya, terima kasih,” tuturnya lantas tertawa.
Ia menanam singkong, yang bibitnya diberikan oleh mantan guru bahasa Inggris anaknya, yang berasal dari Kamumu. Ia juga menanam pisang, rambutan, dan sekira 10 pohon sirsak, yang bibitnya merupakan pemberian mantan karyawannya di Bone, Sulawesi Selatan.
“Semua sudah selesai tanam. Tinggal perawatan, membersihkan gulma dan melakukan pemupukan. Ah ya, pupuk kandang diberi oleh seorang teman, saya bayar tapi ia tidak mau. Saya akhirnya menyadari, bahwa hidup di Luwuk merupakan sebuah kelebihan dan anugerah yang luar biasa. Di kota ini teman benar-benar sebagai teman, mungkin tidak akan ditemukan di tempat lain,” imbuhnya.
Ia juga merencanakan membangun rumah Manado di lokasi itu. Rumah kayu tinggi itu, desainnya memang terasa cocok dengan lokasi kebun. Ia berharap, empat atau lima tahun mendatang lokasi itu akan jadi rumah yang lengkap dengan kebun buah, dan menjadi hunian yang nyaman menyongsong masa tua.
“Saya sudah duluan di sini, kalau nantinya tempat ini menjadi ramai,” urainya, merujuk pada objek vital nasional yang dibangun di lokasi dekat lereng bukit, di Kelurahan Tombang Permai, Luwuk Selatan itu.
Ia mengaku, baru saja memahami bahwa menjadi petani pun tidak mudah, butuh kesabaran dan ketelatenan. Salah satunya, berharap hujan di musim agak kering. Olehnya, ia pun menyetok air dalam tandon, untuk keperluan menyiram tanaman. Selama enam bulan ke depan, buah-buahan yang baru saja ditanam itu, membutuhkan penyiraman yang teratur. Di lain waktu, ia juga membersihkan benalu di pagar pohon kayu jawa. Agar pohon itu tumbuh, memagari kebun, dan tidak mati karena benalu. “Sebelah sana subur, sebelah sini sering mati, jadi benalunya terus dibersihkan,” tuturnya.
Beberapa karyawan diminta memangkas tanaman liar. Ia meminta izin tetangga untuk memangkas pohon kopi-kopi, agar pemandangan dari kebunnya luas ke depan. Tanaman-tanaman itu, cukup menghalangi pandangan arah ke laut.
Lokasinya itu akan jadi hunian yang bagus, salah satunya ketersediaan listrik, karena berdekatan dengan fasilitas PLN, maupun air bersih karena wilayah itu dikabarkan menjadi lokasi pengembangan sumber air PDAM. Di pojok lahannya yang berlatar laut Maahas, ia akan membangun sarang burung walet tiga tingkat.
Ia memutuskan membuka kebun untuk memanfaatkan waktu luang. Pabrik atau usaha perikanannya lesu, tak lagi ekonomis dioperasikan pada masa pandemi ini. Dari 150 karyawan aktif di pabrik itu, kini tinggal 40 orang terdaftar resmi, lainnya memilih undur diri.
“Apa boleh buat. Saya pesan, kalau pandemi sudah reda, mereka akan saya panggil lagi,” tutur Pimpinan Indotropic Fishery Luwuk, ini.
Ia membantu surat-surat yang diperlukan oleh karyawan yang memilih berhenti. Baginya karyawan adalah ujung tombak untuk usaha sektor perikanannya itu. “Sudah dibuatkan semua, mau bagaimana lagi, sudah pulang kampung. Kasihan,” imbuhnya.
Sekira 10 orang karyawannya yang masih lajang, diajaknya untuk membuka kebun. Semuanya mau, menanam buah-buahan, sayur dan memelihara peliharaan.
“Saya ajak mereka, ayo kita berkebun. Kalau tak ada uang, 3-4 tahun mendatang, ambil buahnya dan jual,” tuturnya.
Sebulan terakhir ini, ia benar-benar tidak lagi beraktivitas di pabrik, meskipun setiap hari tetap memonitor laporan. (*)

![EDDY HANDOKO PENGUSAHA LOW PROFILE: Eddy Handoko, pengusaha perikanan yang merintis usahanya dari bawah. [Foto: Istimewa]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2020/10/EDDY-HANDOKO-02.jpg)