Oleh: Ama Achmad
Penulis dan Pegiat Literasi
SAYA masih ingat sekali lagu “Semua Murid, Semua Guru”. Masih terngiang suara Tulus dan Andien yang renyah, dengan musik yang memandu tubuh untuk bergerak. “Aku bisa belajar dari ilmumu. Kamu bisa belajar dari yang kutahu. Belajar, bergerak, bermakna.”
Saya pernah mendapat pertanyaan: dari mana kau mengenal puisi? Saya spontan menjawab, saya mengenalnya dari guru bahasa Indonesia di sekolah dasar. Puisi Chairil Anwar itu, memantik saya untuk menulis. Jadi jika ada pertanyaan tentang guru favorit semasa sekolah, jawaban saya adalah guru bahasa Indonesia.
Setelah ibu dan ayah, guru barangkali adalah manusia yang memiliki jejak cukup tebal di garis takdir setiap manusia. Sekolah 13 tahun, dari taman kanak hingga sekolah menengah atas, ditambah masa lanjutan ke jenjang pendidikan tinggi. Daftar ini masih akan memanjang, jika ditambah dengan mentor-mentor di tempat kerja. Seperti itulah guru memberi penanda dalam hidup.
***
Barangkali hampir tiap negara memiliki hari spesial perayaan terhadap dedikasi guru.Di Indonesia sendiri, setiap tahunnya, tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tahun ini peringatan Hari Guru Nasional sedikit berbeda. Pandemi membatasi ruang gerak siapa pun, termasuk peringatan hari-hari penting di negeri ini. Dan tidak hanya tentang perayaan, pandemi juga meminta semua guru “memutar otak” dalam penyelenggaraan pendidikan. Para guru dituntut cepat beradaptasi dengan situasi, mulai dari belajar menggunakan media pembelajaran pengganti tatap muka, hingga melakukan kunjungan rumah untuk siswa yang tak memiliki ponsel. Kewajiban mentransfer pengetahuan kepada siswa, menuntut guru untuk tetap fit, jauh dari kata malas, dan harus senantiasa tanggap.
Pandemi dan perubahan pola pembelajaran menjadi tantangan luar biasa bagi guru. Mengingat tidak semua titik di negeri ini memiliki akses yang sama terhadap internet, masih ditambah lagi faktor dinamika keluarga, dan karakteristik anak didik yang berbeda.
Semangat “Semua Murid, Semua Guru”–gerakan yang diinisiasi Najeela Shihab sejak 2016—barangkali menjadi pilihan tepat untuk diterapkan di masa pandemi. Praktik baik gerakan ini adalah memfasiltasi integrasi, kolaborasi dan inovasi antar pemangku kepentingan pendidikan, yang tidak hanya melibatkan institusi resmi, tetapi juga komunitas. Saya pribadi meyakini, pentingnya kerja gotong royong untuk pendidikan. Ekosistem pendidikan yang ideal (sehat dan berkelanjutan), tidak akan terbentuk tanpa urun daya semua pihak.
Lahirnya komunitas-komunitas pendidikan di negeri, ini menjadi angin segar bagi kabar baik ekosistem pendidikan yang sehat dan berkelanjutan. Setidaknya tanggung jawab untuk mentransfer pengetahuan, tidak lagi menjadi tugas guru semata. Pendidikan tidak lagi hanya sekadar datang ke sekolah, atau yang saat pandemi dilakukan dengan aplikasi zoom, tetapi lebih luas lagi dan lebih beragam.
Beberapa tahun belakangan, kita membaca artikel dan buku tentang idealnya pendidikan di Finlandia. Dalam beberapa dekade terakhir, negeri itu berhasil mentransformasi sistem pendidikan di negaranya menjadi yang terbaik di seluruh dunia. Salah satu formula dalam sistem pendidikan Finlandia adalah, manajemen sumber daya manusia pendidikan. Pemenuhan kualifikasi guru di Finlandia cukup ketat. Kualifikasi akademik dasar bagi guru adalah master. Selama proses pendidikan, ada beberapa tahapan yang dilakukan untuk memenuhi kualifikasi ini. Setiap tahapan menekankan pentingnya komunikasi, kerja sama, dan kreativitas. Ditambah lagi, setiap guru diberi waktu 2 jam per minggu untuk peningkatan kapasitas dan pengembangan diri. Bagi saya, formula ini adalah hal penting yang membuat pendidikan di Finlandia mengagumkan.
Berkaca dari hal itu, rasanya menjadi perlu untuk memformulasi kembali situasi pendidikan di negeri ini. Tentu saja formulasi baru itu tetap mengacu pada kompleksitas keadaan sosial masyarakat negeri. Ini bisa dimulai dengan menyusun analisis komparatif sistem pendidikan, yakni perbandingan kondisi pendidikan di negeri ini dengan negara lainnya. Hal ini dimaksudkan agar Indonesia menemukan karakteristik pendidikan yang tepat.
Menanti hal itu terwujud, tentu saja dibutuhkan kepedulian setiap orang terdidik untuk “memberi diri” bagi ekosistem pendidikan yang sehat dan berkelanjutan. Di akar rumput, hal ini dikerjakan penuh oleh komunitas-komunitas. Tentu saja pendidikan yang dimaksud bukan hanya dari sisi formal (sekolah atau institusi resmi lainnya), tetapi juga pendidikan informal. Pendidikan berbasis komunitas ini tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Sejarah pendidikan di zaman kerajaan Hindu-Budha, mengenal pendidikan “Guru Kula” yang berkembang hingga masa kerajaan Islam. Pendidikan ini terpusat di rumah-rumah ibadah. Dilakukan oleh tokoh agama pada masa itu.
Ciri umum pendidikan berbasis komunitas, adalah dilaksanakan oleh sekumpulan orang, dengan tujuan bahwa nantinya pembelajaran dan pengembangan dalam komunitas akan mampu mengembangkan kapasitas kelompok sasaran program, dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Pendekatan pembelajaran dan pengembangan berbasis komunitas, telah diakui dunia secara signifikan mampu membawa pemahaman terkait aspek sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan politik lokal. Di sinilah kemudian “Semua Murid, Semua Guru” menjadi sangat relevan. Siapa saja adalah murid, siapa saja adalah guru. Dengan kolaborasi kuat, dan inovasi yang berbasis karakteristik, rasanya pelan-pelan kita akan ada dalam ekosistem pendidikan yang sehat dan berkelanjutan. Toh, kita tidak bisa sepenuhnya meniru formulasi negara lain, mengingat keragaman budaya negeri kita.
Selebihnya di peringatan Hari Guru Nasional–yang sekaligus Hari Ulang Tahun PGRI–yang tahun ini diperingati dengan senyap karena pandemi, saya hanya ingin mengajak semuanya mempertebal empati untuk urun daya dan memberi sumbangsih bagi pendidikan negeri.
***
Apakah kamu sudah menemui guru favoritmu dan mengucapkan “Selamat Hari Guru, Enci’?” (*)

![OL_AMIRUDIN TAMOREKA SILATURAHMI AT-FM DI BANGKEP: Bupati Rais D. Adam, Wakil Bupati Salim J. Tanasa, Ketua DPRD Rusdin Sinaling dan Sekreraris Daerah menyambut kedatangan ATFM di Bangkep, Senin (8/2/2021). [Foto: Rifan/Luwuk Post]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/OL_AMIRUDIN-TAMOREKA.jpg)
![ANUGERAH PWI PENGHARGAAN PWI: Bupati Banggai Herwin Yatim saat menerima Anugerah Kebudayaan PWI 2021 bersama 9 bupati/walikota pada puncak peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2021 di Jakarta, Selasa (9/2). [FOTO ISTIMEWA]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/ANUGERAH-PWI.jpeg)
![BNNP Sulteng PEMAPARAN TENTANG NARKOBA: Kepala BNNP Sulteng, Brigjen Pol. Monang Situmorang bersama Kapolres Banggai AKBP Satria Adrie Vibrianto saat menyambangi Mapolres Banggai, Selasa (9/2). [Foto: Istimewa]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/BNNP-Sulteng.jpeg)

![RDP BNNK RDP BNNK: Rapat dengar pendapat (RDP) Komisi III, DPRD Banggai, terkait hibah tanah untuk pembangunan kantor BNNK Banggai. [Foto: Istimewa]](https://luwukpost.id/wp-content/uploads/2021/02/RDP-BNNK.jpg)