PALU, LUWUK POST—Buaya muara teluk Palu saat ini berekspansi mencari habitat baru. Jumlahnya paling sedikit 200-an ekor.
Hal itu dikemukakan peneliti buaya Palu, Dr Fadli Y, dalam diskusi virtual yang difasilitasi Manajemen Libu Ntodea. Fadli menerangkan bahwa ekspansinya buaya muara ke pantai di kawasan teluk Palu ditengarai karena hewan tersebut membuat habitat baru, sebagai dampak dari terganggunya habitat aslinya di sekitar sungai palu.
“Saat kami mendampingi peneliti buaya dari Chechnya, ada delapan ekor buaya yang mereka temui di sekitar muara sungai palu, dengan panjang rata-rata 2 meter,” kata Fadli.
Fadli mengatakan, jika dijumlahkan satu ekor buaya bertelur sebanyak 80 butir, maka ada 640 anakan buaya yang lahir dan menambah populasi di sungai tersebut.
“Jika optimis 20 persen saja yang hidup maka terdapat 128 bayi buaya yang hidup di habitatnya. Ini hitungan pada tahun 2017 saat penelitian. Jika rata-rata pertahun 128 ekor dalam kurun waktu 4 tahun maka jumlahnya diatas 500 ekor,” kata Fadli.
Fadli mengatakan, buaya muara atau yang dikenal dengan sebutan ilmiahnya crocodylus propolus atau buaya air asin adalah jenis buaya yang terganas dari 23 jenis buaya yang ada di dunia. Jumlah telurnya mencapai 20 hingga 80 butir dengan berat mencapai 200 Kg dan panjang dapat mencapai 4 hingga 7 meter.
“Jenis buaya inilah yang saat ini hilir mudik di kawasan pantai teluk Palu hingga bermain jauh ke Pantoloan dan bermigrasi ke Desa Towale, Kabupaten Donggala. Terdapat 24 gigi di setiap rahangnya. Gigi-gigi tersebut bukan dipakai untuk mengunyah, tapi digunakan untuk merobek mangsa, kemudian ditelannya,” kata Fadli.
Sementara peneliti lain, Ma’ruf Saehana, yang meneliti perkembangan populasi buaya di sungai Palu tidak sependapat. Maruf menghitung jumlah populasi buaya tidak sebanyak itu dan angkanya dibawah ratusan ekor. Penelitiannya dibagi dalam empat segmen di kawasan sungai palu berdasarkan jarak titik jembatan yang ada.
Lebih lanjut Maruf berpendapat bahwa kehadiran buaya di pantai teluk Palu karena keadaan yang terpaksa. Sebab habitat mereka di sungai Palu sudah terganggu. Buaya-buaya tersebut membutuhkan habitat baru untuk menyesuaikan dengan suhu sekitarnya.
Arah buaya membentuk habitatnya ke arah atas Kabupaten Sigi tepatnya di sekitar Desa Pakuli dan sebagiannya berimigrasi ke kawasan Teluk Palu.
Hal ini memungkinkan, sebab disepanjang sungai ke arah Kabupaten Sigi juga telah dibangun tembok pencegah banjir. Secara alamiah habitat buaya-buaya tersebut terganggu. Ditambah lagi dengan hadirnya aktivitas penambang pasir di sekitar pinggiran sungai. (bas)
