Tahap Pertama untuk Tenaga Kesehatan dan Pejabat Daerah
LUWUK, LUWUK POST-Setelah pemerintah pusat memulai vaksinasi Covid-19, hal yang sama bakal disusul daerah. Forum Koordinasi Pimpinan Daerah mendorong sosialisasi berskala luas agar rencana vaksinasi tak berkelindan dengan penolakan karena informasi bohong.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai, Dr. Anang S Otoluwa, mengatakan, vaksinasi Covid-19 untuk Kabupaten Banggai akan dilakukan pada termin kedua. Ia memperkirakan jatuh pada Februari 2021. “Sekitar bulan Februari. Belum ada kepastian tanggal, tapi saya prediksi pertengahan bulan (Februari),” tegasnya.
Ia mengakui, pihaknya belum menerima vaksin. Anang hanya mengonfirmasi bahwa pada tahap pertama vaksin, sebagian besar untuk tenaga kesehatan. Dengan rincian, sekitar 2.380 tenaga kesehatan serta 10 pejabat daerah, di antaranya bupati dan ketua DPRD.
Ia mengajak semua pemangku kepentingan di daerah untuk menyosialisasikan vaksinasi Covid-19 demi membangun kekebalan bersama, dan memutus rantai penularan. Langkah koordinasi telah ditempuh dengan menggelar rapat kerja bersama Kapolres Banggai terkait agenda sosialisasi vaksinasi. “Ini penting untuk men-counter isu-isu hoaks yang telanjur muncul soal vaksin,” paparnya.
Pada rapat koordinasi yang dipimpin Kapolres Banggai AKBP Satria Adrie Vibrianto dan didampingi Dandim 1308 Luwuk Banggai Letkol Infanteri Fanny Pantouw, itu, membahas mekanisme pelaksanaan vaksinasi dan upaya-upaya yang akan dilakukan agar masyarakat tetap menaati protokol kesehatan rantai penyebaran Covid–19 bisa diamputasi.
AKBP Satria menyatakan, meski dihadapkan dengan tugas penting dalam pencegahan dan penanganan Covid-19, yaitu pelaksanaan vaksinasi kepada masyarakat, tetapi masih ada saja informasi yang mengandung hoaks, memelintir pemerintah.
Dia menegaskan, program pemerintah ini harus terus berjalan dan didukung. Semua pihak dapat menyosialisasikan dam menjelaskan kepada masyarakat.
“Kami TNI-Polri akan siap mengawal karena kami benteng NKRI. Ini demi kesehatan masyarakat,” tandasnya.
Pemerintah daerah diharapkan dapat mempersiapkan dengan sebaik-baiknya program ini guna penanggulangan Covid-19. “Mari kita bersama sama untuk menunaikan tugas yang mulia ini, demi kemanusiaan,” tutur Satria.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengaku sempat pegal-pegal usai disuntik vaksin Covid-19, Rabu (13/1) pagi. Efek pegal-pegal itu dirasakan Jokowi dua jam usai disuntik.
“Ndak terasa apa-apa waktu suntik ya. Tapi setelah dua jam agak pegal dikit. Agak pegal dikit,” ujar Jokowi dalam video yang diunggah Sekretariat Presiden di Youtube, Rabu (13/1).
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelumnya menyatakan jika vaksin Covid-19 buatan perusahaan asal China, Sinovac menimbulkan efek samping ringan-sedang.
Efek samping vaksin tingkat sedang yang ditimbulkan antara lain nyeri otot, pembengkakan, sakit kepala hanya 0,1 persen.
Meski mengalami efek samping pegal-pegal, Jokowi berharap masyarakat bersedia untuk divaskin. Menurut dia, vaksinasi Covid-19 ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menyudahi pandemi.
“Mengenai waktunya kapan, ini kan semuanya harus bersabar karena kan diatur secara bertahap, dilakukan secara bertahap. Tapi yang pasti vaksin ini gratis,” ujar Jokowi.
“Dan ingat, walaupun sudah divaksin nantinya kita tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan, yang paling penting itu,” ungkap Jokowi, seperti dilansir CNNIndonesia.
Jokowi diketahui menerima dosis pertama vaksin Covid-19 buatan perusahaan asal China, Sinovac. Ia disuntik oleh Wakil Ketua Tim Dokter Kepresidenan, Abdul Muthalib di lengan kirinya.
Selain Jokowi, sejumlah menteri, petinggi lembaga negara, tokoh hingga pedagang juga menerima vaksin Sinovac.
Beberapa di antaranya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Panglima TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Idham Azis dan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Faqih.
Dua hari sebelum vaksinasi perdana Presiden Jokowi, izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 Sinovac dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan penerbitan izin dilakukan setelah evaluasi lembaganya menunjukkan efikasi atau tingkat kemanjuran vaksin Sinovac 65,3 persen.
Menurut Penny, vaksin buatan perusahaan asal China tersebut aman dan memiliki efek samping yang ringan hingga sedang.
Selain izin penggunaan darurat dari BPOM, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menyatakan vaksin Sinovac halal dan suci baik dari segi bahan maupun proses pembuatan. (ris/awi/dmi/psp)
