Dua Pekan 164 Kasus Positif Baru

Luwukpost.id -

LUWUK, LUWUK POST—Kasus Covid-19 di Kabupaten Banggai meningkat sangat cepat. Belum dua pekan setelah tahun baru 2021, kasus terkonfirmasi positif mencapai 610 kasus sebagaimana laporan Satgas Covid-19 pada 12 Januari.

Padahal, 1 Januari 2021, Satgas Covid Kabupaten Banggai baru melaporkan sejumlah 446 kasus. Artinya dalam waktu 12 hari saja, tercatat ada penambahan 164 kasus terkonfirmasi positif.

Peningkatan kasus Covid-19 ini, merupakan yang tertinggi sejak kasus Covid-19 pertama kali diketahui menginfeksi tiga warga Kabupaten Banggai, sebagaimana diumumkan Bupati Banggai Dr. Herwin Yatim dan  Kadis Kesehatan Dr. Anang Otoluwa,  dalam konferensi pers, Kamis (14/5/2020).

Memasuki tahun baru, angka kasus positif cenderung tidak terkendali. Pasalnya, 1 Juli 2020, jumlah terkonfirmasi positif baru sekira 15 kasus. Dengan rincian, 9 dirawat di rumah sakit, dan 6 dinyatakan sembuh.

Sementara pada 19 Agustus 2020, kasus terkonfirmasi bertambah menjadi 31 kasus (12 isolasi mandiri, 18 sembuh dan 1 meninggal).

Belakangan, tren kasus terkonfirmasi positif dalam sebulan terakhir sangat mengkhawatirkan. Sebagai perbandingan, tanggal 9 Desember 2020, Satgas Covid Kabupaten Banggai melaporkan 278 kasus terkonfirmasi positif. Dari jumlah tersebut, 199 kasus sembuh dan 18 pasien meninggal dunia.

Namun, dalam sebulan kasus tersebut meningkat menjadi 100 persen lebih, dengan penambahan kasus meninggal 8 orang. Data Satgas Penanganan Covid Kabupaten Banggai pada 12 Januari 2021 menyebutkan, kasus konfirmasi sebanyak 610 orang. Dengan rincian 50 kasus baru (5 dirawat di RS, 45 isolasi mandiri),  108  kasus lama (1 dirawat di RS, 107 isolasi mandiri),  426 sembuh dan 26 meninggal.

Rektor Unismuh Luwuk, Sutrisno K Djawa, menilai masifnya perkembangan infeksi Covid-19 ini, diakibatkan penerapan protokol kesehatan masih kurang ketat.  Ia melihat, hal ini terjadi karena kurangnya kerja sama antar semua stakeholder di daerah.

“Dibutuhkan mobilisasi semua kekuatan di daerah untuk mendisiplinkan prokes, memutus rantai penularan,” paparnya.

Selain itu, ia melihat penelusuran kasus berupa tiga T, (tracing,testing,treatment) masih sangat kurang.

Amatan Luwuk Post, testing yang digelar pemerintah daerah masih membutuhkan waktu lama, karena hasil sampel masih harus dikirim ke Laboratorium Kesehatan Palu. Sementara penelusuran kasus, dilakukan dengan tidak terukur. Juga tidak adanya kunjungan rumah oleh petugas satgas, untuk memastikan kontak erat pasien terkonfirmasi positif.

Begitu pun perawatan terhadap kasus terkonfirmasi,  tidak ada pendampingan dari Satgas Covid-19. Alih-alih memberikan penjelasan terhadap apa yang mesti dilakukan, satgas cenderung mengarahkan kasus terkonfirmasi positif untuk melakukan isolasi mandiri yang diduga juga tidak diawasi dengan ketat.

Masifnya Covid-19 Tidak Terkait Pilkada

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai, Dr. Anang S Otoluwa, mengatakan, pihaknya sudah melacak dan mempelajari pola penularan virus korona di Kabupaten Banggai.

“Kami sudah melacak kasus–kasus positif Covid-19, tidak ada pola tertentu, tidak ada pola penularan semisal dari pilkada. Sebab penyelenggara pilkada juga tidak ada yang terkonfirmasi,” katanya membantah indikasi klaster pilkada, Rabu (13/1).

Ia mengakui, penyebaran Covid-19 yang meledak dalam sebulan terakhir atau pascapilkada Banggai. Tetapi, kata dia, itu terjadi karena penyebaran sebelumnya sudah merata. “Penularan komunitas sudah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

Ia juga menanggapi upaya 3T yang belum maksimal. Kata dia, puskesmas sudah melakukan pendataan sebelum melakukan pemeriksaan cepat (rapid test).

Setiap tracing yang dilakukan puskesmas dilanjutkan dengan pemeriksaan rapid antibodi. Kalau semisal ditemukan ada kasus reaktif, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan antigen. “Kalau ada temuan kasus reaktif di pemeriksaan antigen, akan dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR,” ujarnya.

Dijelaskan juga, bahwa pemeriksaan PCR dilakukan kepada kasus–kasus yang bergejala dan reaktif dalam pemeriksaan sebelumnya, baik itu antibodi maupun antigen. “Karena itu positif rate di Luwuk, juga termasuk tinggi,” paparnya.

Ia mengakui, Kabupaten Banggai termasuk yang menunjukkan tren peningkatan kasus. “Puncak kasus memang saat ini. Dan ini merata hampir di seluruh Indonesia. Sehingga muncul asumsi, hal ini terjadi karena liburan atau pariwisata dilonggarkan, itu secara nasional. Tetapi di Kabupaten Banggai, berdasarkan pengamatan dan pelacakan yang kami lakukan, tidak ada pola tertentu seperti itu,” paparnya. (ris)