SALAKAN, LUWUK POST-Ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah untuk menyediakan fasilitas dan sarana air bersih. Sebab, sampai saat ini, masyarakat masih ada yang kurang mendapatkan akses air bersih yang memadai. Sebagaimana sebagian warga Desa Kalumbatan, Kecamatan Totikum Selatan, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) masih memanfaatkan air kuala (sungai) desa Kanali untuk dikonsumsi.
Meski mayoritas warga sudah memanfaatkan air pipa untuk konsumsi dan keperluan lainnya, namun sebagian warga masih banyak yang terpaksa menggunakan air kuala baik untuk diminum, memasak, mandi, maupun untuk mencuci.
Amatan koran ini pada minggu (24/1/2020), kondisi air kuala tersebut tampak berwarna kuning dan keruh. Hal itu diakibatkan karena air yang keluar dari mata air tersebut cukup kencang. Sehingga pasir yang bercampur tanah aluvial di dasar kuala dangkal itu terangkat kepermukaan.
Pipa air bersih yang telah diinstalasi hanya menjangkau beberapa rumah warga yang tinggal di laut dekat bibir pantai. Namun sistem pengaliran air dilakukan secara bergantian yakni menggunakan sistem waktu untuk beberapa dusun.
Karena debit air yang keluar dari pipa itu sangat kecil untuk dialirkan ke seluruh rumah warga secara bersamaan.
“Biasanya jam tujuh sampai jam dua belas siang untuk dusun satu, sepuluh, sampai sembilan. Kemudian, dari jam dua belas sampai jam enam sore menjelang magrib untuk dusun delapan, lima, dan enam. Sedangkan untuk dusun empat dari jam satu malam sampai subuh,” sebut Muammar warga desa setempat.
Sementara itu, sebagian besar warga yang berumah di laut tidak terjangkau instalasi pipa. Sehingga mereka terpaksa memanfaatkan air kuala untuk berbagai keperluan harian. Pengangkutan air kuala pun harus dilakukan dengan menggunakan perahu ke kuala tersebut.
Muammar menambahkan, kondisi itu dialami terutama oleh warga yang tinggal di bagian dusun enam, tujuh, dan, beberapa Kepala Keluarga di dusun sembilan dan sepuluh.
“Sebenarnya dulu itu, entah 2000 berapa saya sudah agak lupa, instalasi pipa sampai di dusun tujuh. Tapi lama-kelamaan debit airnya kurang, sehingga aliran airnya tidak sampai ke dua dusun itu,” tutur Muammar.
Winter Latta, mantan Ketua BPD setempat mengharapkan agar anggaran yang telah diperjuangkan pemerintah desa saat ini bisa direalisasikan tahun ini, baik yang bersumber dari APBD Kabupaten maupun Provinsi. Sehingga warga tidak harus mengangkut air kuala keruh menggunakan perahu.
“Kondisi itu sangat memprihatinkan. Begitu juga untuk kebutuhan air bersih bagi saudara-saudara kita yang ada di bagian Bulagi sana. Semoga tahun ini bisa terealisasi,” tutupnya. (tr-01)
