Ukurannya cukup besar, memiliki ciri khas bulu yang mencolok berwarna hitam dan kepalanya percis memakai konde alias berjambul, ditemui pun sudah sangat susah.
Namanya burung maleo atau disebut Macrocephalon Maleo, salah satu spesies endemik yang terancam punah ini, hanya dapat ditemui di Pulau Sulawesi atau pulau-pulau kecil. Di Kabupaten Banggai bersaudara, Maleo menjadi burung khas daerah yang kemudian menjadi penguatan persaudaraan.
Di wilayah Kecamatan Batui, setiap tahun ada tradisi yang masih terus lestari, namanya “Molabot Tumpe”. Masyarakat begitu antusias menyambut tradisi ini, karena dianggap prosesi yang sakral.
Endemik ini kemudian mendapat perhatian dari perusahaan raksasa PT DS-LNG, yang bermukim di wilayah Kecamatan Batui, Banggai, Provinsi Sulteng. Tidak hanya fokus dalam pengelolaan Migas, tetapi juga ikut melestarikannya.
Sebelum membuka penangkaran konservasi, PT DS-LNG sendiri terlebih dahulu melakukan penelitian, hingga belajar tentang kehidupan endemik burung Maleo, kurang lebih dua tahun mengelilingi berbagai tempat yang terdapat spesies tersebut.

Pada tahun 2013 barulah PT DS-LNG mendirikan sebuah penangkaran konservasi burung Maleo, tempatnya berada di luar area kilang, berada di bagian pesisir pantai. Suasananya sejuk, banyak pohon rindang, terdapat dua jenis pohon kaumama. Luasnya 1 Hektare dan tertata rapi, ada dua bangunan, satu aula terbuka ala outdoor dan satunya lagi rumah panggung modern.
Dibuka untuk siapa saja alias umum, tujuannya menjadi kawasan edukasi dan pelestarian burung Maleo berbasis masyarakat. Tak jarang pula sering dikunjungi pelajar, peneliti dan masyarakat setempat maupun luar.
Setiap pengunjung akan dipandu langsung oleh bidang Teknik Maleo, Mustar Hasan (60), beliau disapa om Tar, kemudian ada bidang staf Enviro, Asri Ayu Ramdhani (24), gadis muda ini termasuk salah satu yang memiliki banyak pengetahuan tentang endemik tersebut.
Para pengunjung akan dibawa berkeliling dan melihat secara langsung burung Maleo, berbagai macam bentuk penangkaran ditemui, ada yang kotak memanjang dan ada pula yang berbentuk kubah.
Teknik konservasi yang dilakukan PT DS-LNG yaitu dengan cara atau metode Ex Situ, di mana pelestarian ini dilakukan dengan mengambil flora dan fauna dari habitat aslinya, lalu dipelihara di tempat yang aman dan sesuai dengan ekologinya.

Pelestarian yang dilakukan juga bekerja sama dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA pusat. Sehingganya, setiap telur dan burung Maleo yang ditemukan baik dari hasil sitaan maupun alam, dititipkan di penangkaran milik PT DS-LNG untuk pengembangbiakan.
Saat ini, di penangkaran konservasi milik PT DS-LNG terdapat 22 ekor burung Maleo, umurnya sekitar 11-15 tahun, namun, mereka tidak lagi dilepasliarkan, sebab sudah tergolong atau diistilahkan menopause, maksudnya tingkat reproduksinya yang terbilang menurun.
Itulah sebabnya sebagian burung Maleo tersebut, tetap berada di penangkaran konservasi milik PT DS-LNG. Disamping itu, telah mendapat izin dari BKSDA untuk dijadikan sebagai bahan edukasi masyarakat.
Langkah upaya dalam melestarikan serta menambah populasi juga berhasil dilakukan PT DS-LNG, dari hasil perkawinan pernah melahirkan bibit unggul generasi fillial I (FI). Hal ini membuktikan secara penelitian, bahwa burung Maleo dapat melakukan pengembangbiakan lewat penangkaran.
Tak heran, PT DS-LNG pernah mendapat penghargaan sebagai satu-satunya di dunia yang melakukan metode pengembangbiakan Ex Situ terhadap burung endemik Maleo, dari United Nations Environment Programme (UNEP) badan PBB yang bertugas mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas terkait lingkungan hidup.

Sampai dengan saat ini, tercatat ada 127 ekor burung Maleo telah dilepasliarkan pada habitat aslinya, waktu pelepasan sejak umur 1-2 bulan, ini dilakukan di kawasan suaka margasatwa Bakiriang. Setiap kali pelepasan, PT DS-LNG turut melibatkan berbagai pihak, termasuk BKSDA dan masyarakat hingga tokoh adat setempat.
Proses penetasan juga dilakukan melalui inkubator, rata-rata suhu yang digunakan sekitar 33 derajat, sehingga panasnya tetap terjaga, artinya dari 10 telur, proses penetasan bisa mencapai 70-80 persen dibandingkan penetasan secara alami.
Berbeda dengan cara penetasan alami, burung Maleo hanya mengandalkan suhu panas yang berasal dari tanah dan kondisi cuaca, ini diprediksi dibawa 50-30 persen. Namun ada cara unik burung Maleo ketika ingin bertelur, ia menggunakan jambulnya sebagai alat pendeteksi untuk mengukur suhu panas tanah.
Saat musim bertelur, burung Maleo sendiri hanya bisa mengeluarkan satu telur, setelah itu, ia akan kembali bertelur dengan jarak waktu 30 hari. Kalau reproduksinya bagus maka bisa mengeluarkan 6 butir telur selama setahun.
Cara burung Maleo bertelur itu hanya bisa dilakukan pada saat musim panas, perkiraannya dari bulan 8 sampai ke bulan 4. Setiap proses perkawinan, tim konservasi DS-LNG akan memantau perilaku burung Maleo itu sendiri.

Jika gerak geriknya saling berbawaan, maka dianggap sepasang serasi. Kalau menentukan jantan cukup melihat ukuran badannya dan jambulnya yang besar. Begitupun sebaliknya jika kecil berrti ia betina.
Inovasi DS-LNG menghadirkan burung Maleo lewat konservasi penangkaran, tentunya memberikan kebanggaan dan angin segar terhadap masyarakat Batui.
Kabarnya seluruh elemen masyarakat menyambut baik atas apa yang dilakukan pihak DS-LNG, khususnya bagi tokoh masyarakat adat. Disamping dalam upaya melestarikan untuk menambah populasinya yang terancam, masyarakat sampai kalangan anak-anak dapat berkunjung dan belajar hingga bisa melihat secara langsung burung endemik tersebut.
DS-LNG juga sedang melakukan proses penetasan melalui inkubator, saat ini terdapat 16 butir, tapi 5 di antaranya tidak berpotensi menetas, dikarenakan kualitasnya, kemungkinan ketika dibawa oleh BKSDA menuju penangkaran DS-LNG, kondisi telur berpengaruh akibat guncangan.
Namun demikian, upaya pelestarian ini terus dilakukan DS-LNG untuk menambah populasi nya, khususnya di Kabupaten Banggai, dengan harapan agar kelak anak cucu bisa melihat dan meneruskan apa yang dilakukan sebelumnya, sehingga dapat ditemui di alam atau pada habitatnya.
Selamat Hari Maleo Sedunia. ***
