
Menurut keterangan Plt. Sekretaris Disdik Kabupaten Banggai, Muh. Iksan Budiono, SE, M.Si, penyusunan buku dilatarbelakangi belum adanya referensi bagi anak didik tentang seni lokal, makannya Dikbud menginisiasi kerja sama dengan Fakultas Seni Dan Desain UNM sebagai tim ahli pelaksana kerja penyusunan buku yang berjudul Seni Lokal Luwuk Banggai itu.
“Buku tersebut nantinya akan dibagikan ke semua sekolah yang ada di Kabupaten Banggai setelah selesai dinilai oleh saya sebagai ketua tim teknis dan Pak Lutfi Rahma, selaku Pejabat Pembuat Komitmen Disdik yang mengurus kerjasama swakelola, lalu akan dibahas lagi pada FGD tahap akhir di bulan September, kemudian diterbitkan,” imbuhnya.
Kegiatan FGD dihadiri oleh pegiat seni dan budayawan yang masih aktif berkarya dan mengelola kelompok kesenian di Banggai. Kehadiran mereka guna memberi masukan dan koreksi terkait isi dan esensi rancangan buku sebelum dicetak dan diterbitkan.
“Pembuatan buku merupakan salah satu upaya Pemerintah Daerah, dalam hal ini Disdik untuk mengembangkan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdik Banggai, Yusriani A Jangoh, SS, MM.
Dalam presentasinya, perwakilan Tim dari UNM, Doktor Karman,M.Sn memaparkan secara garis besar hasil temuan di lapangan terkait kesenian lokal (seni rupa, musik dan seni tari) yang ada di Kabupaten Banggai. Menurut mereka, Di Banggai, bentuk seni rupa yang mereka kumpulkan terdiri dari arsitektur tradisional, seni hias, kriya tekstil, kriya logam, kriya kayu, basung dan perahu. Selain menampilkan ragam seni rupa, dalam buku tersebut juga dijelaskan perihal nama, bentuk dan bahan, fungsi, masyarakat pengguna serta lokasi.
Tari di Kabupaten Banggai juga merupakan objek yang mereka teliti sebagai bahan penyusun buku. Terkait hal itu, salah satu ahli dari UNM, Doktor Jamila, M.Sn menjelaskan, tarian di Banggai terbagi dua, yaitu tari tradisional dan tari kreasi. Untuk tari tradisional yang kami temukan ada Tari Umusulen, Tari Tontila dan Tari Umapos. Sedangkan tari kreasi yaitu, Tari Molabot, Tari Mombau Hude, Tari Inau Opusulenta dan Tari Kalabosina Tontila.
“Tarian yang terdata adalah yang ditonton secara langsung oleh tim, atau dikirimkan video oleh narasumber, karena kalau tari harus dilihat keseluruhan gerak, musik, kostum, tata rias yang digunakan supaya bisa menarasikannya sebagai materi untuk buku. Makannya besok kami akan ke Balantak, kami akan melakukan riset terhadap Tari Putri Balantak,” sambungnya.
Salah satu pekerja seni yang hadir saat itu, Maryati YS. Tapo dalam sesi diskusi memberi masukan agar kriya bambu juga dimasukan dalam seni lokal Banggai, dan juga untuk arsitektur tradisional supaya bisa pula mengambil data pada bangunan suku lain yang ada di Banggai seperti suku Balantak dan Banggai. (abd)
