Dendam Para Pembunuh Aktivis

Luwukpost.id -

Karya, Abdy Gunawan

 

Malam semakin senyap kala Udin memasang tenda kelambu di kamarnya. Langit menghitam, awan tak nampak lagi putih seperti biasa, bahkan air yang terasa asin di lidah, turun perlahan membasahi atap rumah  Udin yang terbuat dari genteng berlubang itu. Sesekali air menetes tepat membasahi lantai rumah, kasur, buku-buku hingga tangan kanannya harus berusaha menghalangi rambut dari hujan yang berhasil lolos di sela-sela genteng yang lapuk, tua, bahkan kini menganga lebar.

Buku-buku menjadi hal pertama yang diselamatkan Udin saat hujan membasahi seluruh bagian rumahnya, lembaran-lembaran tulisannya menjadi harta paling berharga Udin untuk menyambung lidah serta hidupnya yang hanya sebatang kara itu. Istri belum jua punya, anak apa lagi. Dua orang kakak laki-laki telah berpulang mendahuluinya. Tertembak mati oleh peluru salah satu pasukan anti huru-hara pada saat demo menurunkan seorang penguasa di negeri ini.

“Jadi ceritanya begini–,” Udin menyuguhkan secangkir kopi panas yang telah bercampur dengan air Tuhan yang turun dari langit, menembus atapnya yang berlubang.

“Bagaimana denganmu, Sobat?” tanya seorang penulis yang ingin menyalin semua cerita tentang kakaknya menjadi sebuah biografi demi meraih nama, uang dan undangan-undangan bedah buku yang akan dia dapatkan saat buku aktivis 98-nya telah menjadi best seller di seluruh toko buku yang ada di Indonesia.

“Itu kopi terakhirku minggu ini. Aku akan kembali mengumpulkan uang dari tulisan-tulisanku yang hanya dihargai ribuan rupiah.”

“Sebenarnya apa yang kau tulis, Bung?” penulis antah berantah yang entah dari mana asalnya, telah ada sejam yang lalu di gubuk reyot milik Udin. Membujuk bak pelacur yang haus kemaluan agar Udin mau menceritakan kronologi penembakan kakaknya, seorang demonstran yang mati di ujung senapan Si Tangan Besi.

“Sudah lah! ini bukan apa-apa, hanya cerita pendek bertemakan misteri, itu saja yang bisa kulakukan,” Udin merapikan kursi kayu miliknya dan mencoba memikirkan kembali bagaimana ia dapat memulai cerita mengenai kakaknya.

Sesekali Udin terdiam, diikuti ratusan liter air mata yang mengalir dalam tangis tanpa suara itu, “Aku masih kecil, masih sangat kecil. Waktu itu aku pulang dari sekolah dasar, hendak memberikan sebungkus nasi kuning kepada kakakku yang tak lemahnya bertempur melawan aparat.”

“Aparat? Kakak mu bertempur melawan aparat?” potong penulis yang sedari tadi belum menyebutkan nama, hanya pena ditangan kanannya yang ia putar terus menerus saat Udin bercerita panjang lebar.

“Aku tahu, aku bahkan belum menamatkan SD saat itu, tapi bung–,” Udin menunjuk matanya yang besar kecokelat-cokelatan, dan kian memerah akibat emosi yang meluap-luap, “mata ini tak akan lupa bagaiaman peluru meledakan kepala kakakku.”

“Bhuuuk! Bhuuuk! Aku kira begitulah bunyinya.”

“Iya iya benar! Anda seakan paham betul seluk-beluk aksi demonstrasi, dari wajah anda, saya rasa anda juga adalah seorang aktivis ’98, dan sekali lagi kau belum menyebutkan siapa namamu ?” Udin memberi isyarat kepada pria yang mengaku sebagai seorang penulis itu agar mau memberikan sedikit tegukan saja kepada Udin sehingga tenggorokannya tidak terlalu kering.

“Merana sekali hidupmu, kawan! Kau bahkan berkorban demi tamu.”

“Sejak kaka sekarat di tengah jalan, dan mati,” Udin kembali dilanda kesedihan mendalam, kini lengan kanannya ia tempelkan di mata agar orang lain tidak dapat melihat betapa derasnya air mata seorang pria kesepian yang hanya ditemani kertas-kertas tak bernilai jual, “tidak ada lagi yang menafkahiku.”

“Bisa kau ulangi bagian tadi? Aku ingin membuat cerita yang mendetail tentang itu.”

“Bagian yang mana?” tanya pria dua puluh tahunan itu sembari menahan isak yang

tak kunjung reda.

“Bagian ketika kakakmu mati di jalanan.”

“Pistol yang—“

“Pisau kawan!”

“Bukan! Aku sendiri yang melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, prajurit itu  membunuh kakakku menggunakan pistol.”

Penulis itu menutup buku catatan mini miliknya dan diletakan kembali di saku celana. Ia berdiri, mengamati gubuk reyot yang penuh dengan buku-buku itu, kemudian menoleh kembali ke arah Udin, “Jadi kau melihat semuanya ya?”

“Iya! Kau datang ke orang yang tepat, aku bisa memberikan gambaran kejadian ketika itu secara terperinci.”

“huuust! Pelan-pelan, Udin ! Jangan terburu-buru! Katakan bagaimana ciri-ciri tentara itu.”

“Dia tinggi, punya lesung pipit, aku melihatnya saat ia tersenyum,” Udin mencoret-coret dengan sangat tidak simetris wajah si pelaku yang masih bersemayam di kepalanya.

“Tersenyum, dasar binatang! Masih sempat-sempatnya ia tersenyum saat genting seperti itu.”

“Percayalah padaku, Bung!” kata Udin memohon, “Aku melihat ia menembak kakakku hingga kepalanya tidak lagi berbentuk, melihat betapa kejam ia mengencingi bangkai kakakku, dan terkutuklah ia! Ia tersenyum sebelum meludahi wajah kakak yang telah hilang dua bola mata indahnya.”

“Tersenyum seperti ini maksudmu?”

Gemetar seluruh badan Udin. Berulang kali ia mengganti arah pandangannya dari si Penulis dan sketsa yang barusan ia gambar. Begitu mirip, tak terbantahkan lagi, orang yang membunuh sadis kakaknya itu, hingga sang kakak tak lagi mampu menyuarakan keadilan kini berdiri tepat di hadapannya. Masih dengan seringai yang sama, seringai bahagia seorang aparat yang berhasil menang melawan para cendekiawan.

“Sudah kubilang pakai pisau bodoh! Logika macam apa yang mengatakan kau dapat mencongkel mata menggunakan pistol,” orang itu hanya tertawa melihat Udin yang telah terbaring berlumuran darah akibat puluhan luka tusuk yang berhasil mengoyak paru-paruhnya, “dasar bodoh, miskin, tapi masih saja berusaha memperjuangkan keadilan, untung saja aku mengetahuinya, jadi sudah ku gerek penulis yang kau suruh datang.”

“Arrrrrrrkh, ta ta pi kau tentara?” suara Udin keluar bersamaan dengan air mancur darah yang mengalir dari nadi lehernya.

“Tentara? bukan hahaha, saya hanya tukang jual organ yang diizinkan memakai seragam saat itu.” (*)