
LUWUK, LUWUK POST.id – Pentingnya konservasi dan pelestarian satwa liar membuat kelompok pemerhati lingkungan, Prakarsa Konservasi Ekologi Regional Sulawesi (Progress) mengumpulkan puluhan anak muda dari penjuru Kabupaten Banggai untuk membahas, mendalami, berbagi ilmu serta pengalaman terkait kegiatan konservasi dan pelestarian lingkungan di Padang Bolaa, Desa Lenyek, Kecamatan Luwuk Utara (1-3/9).
“Penting bagi anak muda untuk menyiapkan kehidupan yang nyaman untuk masa tua mereka, itu juga termasuk tempat tinggal mereka, menjaga alam mereka agar tetap bisa dinikmati di masa tua,” ujar Ketua Progress, Anim Alyoihana.
Masih terkait alasan pelaksanaan kegiatan yang bertajuk “Ba Tenda: Bacarita Tentang Pemuda Dan Alam”, ia melanjutkan, beberapa tahun lagi anak muda yang akan mengambil peran dalam mengelola , atau menentukan kebijakan terkait pengelolaan sumber daya alam, diharapkan ketika saat itu tiba, mereka akan lebih bijaksana dan berpihak pada alam. Oleh karena itu, mereka melaksanakan camp ini sebagai bagian dari investasi pemikiran/ pengetahuan kepada anak muda mengenai konservasi.
Konservasi sendiri, menurut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 pada Pasal 1 angka 2, adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.
Perihal teknis kegiatan, wanita yang akrab disapa Anim itu menjelaskan, sebelum hari pelaksanaan, peserta mengirimkan short bio beserta tulisan pendek tentang apa keprihatinan mereka terhadap kelestarian alam Kabupaten Banggai dan apa cita-cita mereka dalam upaya melestarikannya.
Saat kegiatan dimulai, mereka secara bersama-sama menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, kemudian lanjut pada acara dialog mengenai Peran Lembaga Pemuda dalam Upaya Pelestarian Alam yang dibawakan oleh Wakil Ketua 1, Karang Taruna Banggai, Amlin Usman. Dalam dialog tersebut, masing-masing peserta memaparkan harapan serta peran yang mereka akan lakoni dalam upaya melakukan konservasi sembari melestarikan alam di masa depan. Kemudian, pada materi kedua, mereka belajar tentang Ekowisata Berbasis Konservasi yang disampaikan oleh Yuliska Labawo, SS. M.Par. Di Dialog yang ketiga, mereka diberi pendalaman mengenai Dana Desa dan Bumdes dala Upaya Konservasi oleh Tenaga Ahli Pendamping Desa, Malik dan Akhsan.
“Acara terakhir, 36 peserta tadi menyampaikan pesan-pesan konservasi melalui drama singkat atau puisi secara bergantian, baik dilakukan secara berkelompok maupun individu,” tutup Anim. (abd)
