Istri Untuk Galih

Luwukpost.id -

Karya, Abdy Gunawan

 

Namanya Galih, hitam dengan janggut lebat yang menghiasi dagunya yang lancip. Pemuda kurus yang tak kenal mati, siap tempur bahkan selalu berakhir dengan lebam di sekujur tubuh. Seperti biasa, Galih tak ubahnya melirik setiap perawan montok yang lalu-lalang di pasar siang itu. Ia hendak memilih gadis mana yang siap dipersunting olehnya. Mesti yang tahan hidup susah bersama pria miskin yang hanya bermodalkan uang hasil palak itu.

Galih bukannya siap membangun rumah tangga, atau buru-buru menjalin ikatan di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun. Akan tetapi, nafsu kuda miliknya telah lepas dari kandang, siap memangsa siapapun yang bersedia hidup satu atap dengannya.

“Aku ingin menikah.”

“Hahahaha,” teman-teman Galih sesama preman hanya bisa tertawa mendengar pernyataan Galih barusan, “Mau dikasih makan apa istrimu? Uang haram?” canda salah satu sahabatnya yang bernama Toyib.

Toyib setia menemani kawan karibnya itu dalam penantian panjang mencari pendamping hidup. Pasar ke pasar telah mereka telusuri, mulai dari tante-tante janda hingga gadis berseragam SMA tak satupun mau kepada Galih. Alasan mereka selalu saja sama, miskin dan kumal. Dua kata yang jelas menggambarkan kepribadian seorang Galih.

“Aku yakin, pasti ada wanita yang hanya menginginkan ini,” kata Galih sembari menunjuk ke arah kemaluannya.

Toyib hanya tertawa kecil, setengah ditutup-tutupi agar tidak membuat rekannya itu tersinggung. Kasihan juga, jika melihat nasip Galih yang kebelet nikah. Jujur saja, walaupun dekil dan papah, Galih adalah satu dari ribuan laki-laki yang berani memilih menikah daripada hanya menghabiskan waktu dalam hubungan yang disebut pacaran.

“Tenanglah Galih, aku punya ide yang bagus untukmu, di kota S ada seorang perawan cantik nan kaya yang sedang mencari suami, sudah banyak yang menemuinya, tapi tak satupun diterima. Cobalah peruntunganmu di sana Galih!”

“Terimakasih Toyib, kamu memang sahabatku yang paling kece.”

“Iya iya, sama-sama, tapi ingat! Kalau sudah kaya, jangan lupakan aku!” itulah kata-kata terakhir Toyib kepada Galih sebelum mereka berdua memasuki gerbong kereta.

Setelah sehari perjalanan, tibalah Galih di kota S, kota yang sama yang dikatakan Toyib. Ia menanyakan perihal keberadaan tante Mirna, tante cantik yang digadang-gadang sebagai perawan cantik nan kaya itu.

“Apa keperluanmu bertemu tante mirna?” Tanya seorang pemilik warteg kepada Galih yang sedang menikmati nasi uduk kesukaannya.

“Aku datang untuk menikahinya,” jawab Galih singkat.

Pemilik warteg tersebut dibuat kaget dengan pernyataan Galih barusan. Setelah diam kurang lebih selama dua puluh detik, Ibu itu pun berteriak, memanggil nama seseorang, “mirna ! mirna ! kesini nak !” seorang gadis udik dengan penampilan lusuh berdiri dihadap Galih.

“Ini anak tante. tante tahu kamu anak baik-baik, kalau berkenan kamu boleh menikahinya.

“hahaha dia?” Galih memandang jijik tubuh mirna, yang dibalas tatapan penuh kagum dari balik kornea mirna, “Aku terlalu tampan untuk anakmu yang buruk rupa itu” ucap Galih sambil tersenyum angkuh di depan cermin.

Pelanggan lain diam seribu bahasa. Bingung juga benci akibat perkataan Galih terhadap mirna barusan. Ditambah lagi, menurut mereka tidak pantas seorang laki-laki dekil, bahkan jauh lebih dekil dari mirna sendiri, berkata demikian.

“Simpan saja anakmu itu, mungkin pria buta banyak yang ingin melamarnya,” marah sudah orang-orang dibuat Galih ketika mendengar pernyataannya barusan. Sangat jarang di kota ini orang seperti Galih. Sudah rela seorang ibu agar anaknya dipersunting cuma-cuma begitu, Galih malah dengan angkuh menolak.

Kota S menjadi tempat bagi Galih dan Toyib melebarkan sayap demi mencari informasi tentang keberadaan Tante mirna. Tante yang menurut informasi dari Toyib, merupakan wanita yang cantik dan kaya. Ditambah lagi, sedang haus akan belaian lelaki muda. Hal itulah yang membuat Galih tak sedikitpun padam semangatnya, walaupun matahari tak hentinya membakar kulit keduanya yang sudah dari asalnya hitam.

Galih dan Toyib tiba di sebuah toko perhiasan dimana pemiliknya yang sedang melayani pembeli saat itu merupakan seorang wanita cantik, putih, tinggi dan berwajah oriental bak seorang member girlband asal korea selatan.

“Permisi, Kak!”

“Iya?” jawab wanita tersebut dengan pandangan meremehkan ke arah Galih dan Tayib, karena aneh dua orang pria kusam, dengan kaos kumal serta wajah pas-pasan saat ini berada di dalam toko perhiasan. Aneh pikir wanita itu.

“Wow bohay sob!” bisik Toyib di telinga Galih yang bau dan berdebu itu. Mata Toyib yang lebar laksana mulut harimau lapar yang siap menerkam belahan dada yang mengintip manja dibalik tanktop ketat wanita itu.

“Kak kenal tante mirna? Apakah kau tahu dimana ia tinggal?” tanya Galih tanpa melirik sedikitpun tubuh atau wajah wanita yang bak model itu.

“Apa perlu kalian mencari wanita itu?” wajah wanita mendadak pucat hingga make-upnya yang tebalpun tertutupi oleh wajah putih tanpa rona akibat takut yang entah kenapa.

Kakinya yang gemetar tertangkap pandangan Toyib yang dari tadi terus menjelajah ke setiap inci tubuh wanita yang ditaksir baru berusia sekitar tiga puluhan tahun.

“Apakah kau masih bujang?” tanya wanita itu kepada  Galih yang masih memandang biasa-biasa saja wanita itu.

“Iya dan aku berniat mencari seorang Istri, di sini di kota S ini,” jawab Galih angkuh dengan langkah mundur tanda mereka akan segera meninggalkan tokoh tersebut.

“Maka menikahlah dengan!”

Kaget Toyib luar biasa. Memikirkan nasib beruntung sahabatnya itu ketika diajak kawin oleh seorang wanita cantik lagi indah tubuhnya. Siapapun bahkan dirinya sendiri akan bersedia mengawini wanita secantik itu. Sudah kaya, cantik dan yang paling penting, mau diperistri oleh pria miskin nan udik sekelas Galih.

Pikir Toyib pencarian mereka akan berakhir saat ini. Temannya yang sudah kebelet nikah itu akan segera menyandang predikat sebagai seorang suami.

“Ah, tidak! Buat apa menikmati air putih jika aku bisa mendapatkan kopi harum nan nikmat itu. Tante mirna yang sempurna. Yang sama sepertiku. Haus akan belaian seorang pendamping”.

Toyib lantas bingung sekaligus marah dengan pernyataan Galih barusan. Apa gerangan pria yang bak predator air tawar yang memangsa makhluk apapun yang berenang di kali. Kini sahabatnya yang serba kekurangan itu pun, baik dari segi harta dan tahta menolak mentah-mentah Wanita cantik pemilik tokoh yang membuat dirinya sendiri yang sudah menikah itu pun tergoda.

“Apa-apaan kau ini Toyib ?” bentak Toyib yang sukses membuat galih spontan menutup hidung guna menghindari bau tidak sedap dari mulut Galih. Tapi apa daya sahabat yang serba ‘iya’ itu. Ia hanya tertunduk sedih atas rezeki Tuhan yang dicampakan Galih begitu saja dan mengikuti kesombongan sahabatnya.

Setelah Galih dan Toyib hanya seperti biji rambutan jika dilihat dari kejauhan. Wanita tadi pun berlutut sambil memejamkan matanya yang terus meneteskan air mata kekecewaan, “Tuhan lindungilah kedua anak muda itu.”

Sudah hampir sore. Wajah bengis Galih telah membuat sahabat nya pun merinding dalam bayang Galih yang kian menghitam. Tak pantas lagi Toyib menyapa sahabatnya yang sumbringa padahal hanya mengejar sesuatu yang nyata-nyatanya fana. Tidak ada tante mirna, tidak ada perawan tua kaya nan cantik yang seperti yang ia janjikan. Hanya deretan klausa agar Galih mau melebarkan sayap, membuka mata untuk mencari kekasih di surga yang berbeda. Ya, di kota S. Replika kayangan yang mengalir sungai tempat para perawan tulen bermain air. Siap dipersunting lelaki manapun bahkan seorang kumal seperti Galih. Sudah sukses ia menipu dengan dalih seorang perawan kaya agar Galih mau kemari, toh sama saja, sudah belasan dada montok yang ditelantarkan.

“Hey kenapa kau tidak mau dinikahi oleh wanita sesempurna wanita tadi ?

“Tante mirna! Tante mirna!” nafas kuda serta mata Iblis Galih menghentikan kaki kurus Toyib yang tepat mengikutinya di belakang. Hampir saja Toyib melayangkan tinju besarnya tepat di hidung pesek galih, tapi niat itu dia urungkan demi persahabatan yang sejak SMA terjalin itu.

“Dia kaya!”

“Tante mirna lebih kaya!”

“Dia cantik!”

“Tante mirna lebih cantik!” Galih sekali lagi menggelengkan kepala. Dengan cibirannya yang menjijikan ia tetap menomor satukan Tante khayalan itu dalam imajinya yang sempit.

“Apa sebenarnya yang kau cari?”

“Seorang istri”

“Maka lihat sekelilingmu!”

Galih memandang kota yang kini mulai sepi oleh warga yang lalu lalang. Tapi otaknya yang tumpul masih dapat menyimpulkan satu fakta yang kini ia sadari. Lebih dari setengah penduduk di kota S adalah wanita.

“Aku tidak peduli!”

“Pada apa?”

“Semua wanita!”

“Kau? sebatang kara yang tak tahu diuntung!”

“Tante Mirna!”

“Sudah kukatakan, aku mengarangnya” pukulan tangan kiri Toyib memadu kasih dengan pipi kanan Galih yang berubah warna. Jadi merah di antara panu yang memenuhi wajah.

“Tante Mirna!” teriakan Galih yang kedua diberi hadi tendangan ala kungfu master oleh Toyib. Tanpa rasa kasihan, tanpa niat untuk berhenti, pukulan demi pukulan terjadi dalam bisu antara Galih dan Toyib.

“Kau berbohong?”

“Iya memang aku berbohong, aku mengarang semuanya.”

“Tidak! lihat itu!” Galih menunjukkan nama pemilik rumah yang terpampang jelas di pagar tembok sebuah rumah mewah. Toyib heran setengah gila, membaca tulisan, ‘Ny. Mirna’ di pagar rumah tersebut. Belum sempat mereka menafsirkan kebetulan yang terjadi detik ini, sebuah mobil ford kuning lewat di depan mereka. Tapi bukan itu yang membuat celana mereka sesak, melainkan wajah halus bak jus lemon yang kita minum di siang hari yang panas, satu kata, menyegarkan.

Putih dengan pakaian yang merangsang birahi, sukses membuat Galih melongo hingga bibir bawah dan bibir atasnya tidak bertemu selama lima menit.

“Itu maumu? wanita seperti itu? Tante Mirna?”

“Galih! Galih!” Panggil Toyib yang sama sekali tidak ditanggapi sahabatnya itu.

“Galih!” Toyib memutuskan menoleh kebelakang karena Galih tidak kunjung menjawab panggilannya. Terlihat Galih sedang berdiri. Di tengah jalan, diam, menatap kosong ke arah Toyib yang kebingungan.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Toyib ketakutan saat melihat sahabat nya diteriaki oleh pengendara yang hampir saja meremukan tulang Galih oleh roda mobil mereka.

“Untuk apa mengejar tante Mirna, jika aku bisa mendapatkan bidadari di surga,” Senyuman licik Galih diakhiri oleh hantaman keras bumper sebuah minibus yang membuat tubuhnya terpental dengan isi otak berserakan di mana-mana. Membuat aspal yang tadinya hitam pekat, kini merah dan bau amis. (*)