Wakili GmnI Banggai Ikuti KTM, Presiden Mahasiswa Untika Bertandang ke Tobelo

Luwukpost.id -
Presma Untika Luwuk, Rifat Hakim (tengah) berfoto bersama Ketua Umum, Zulkifli Dain dan Bendahara DPC GmnI Banggai, Renita Cahyani sebelum keberangkatan. [Foto: Istimewa]

 

LUWUK, LUWUK POST.id – Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Tompotika (Untika) Luwuk, Rifat Hakim menjadi delegasi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) Kabupaten Banggai dalam kegiatan Kaderisasi Tingkat Menengah (KTM) di Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Provinsi Maluku Utara (Malut) yang digelar selama seminggu (25/11-2/12).

“Kewajiban kader adalah menempuh pendidikan lanjutan yang dilaksanakan secara nasional agar bisa lebih mendalami pancalogi GmnI sendiri, yaitu Ideologi, Revolusi, Organisasi, Studi dan Integrasi, selain itu, KTM juga menjadi syarat ketika akan meningkatkan jenjang karir di organisasi,” ujar Ketua DPC GmnI Banggai, Zulkifli Dain.

Perihal KTM sendiri, ia menjelaskan, KTM merupakan jenjang lanjutan setelah Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD). Agar bisa mengikuti tingkatan kaderisasi tersebut, calon peserta harus benar-benar mempersiapkan diri, karena ada beberapa tes yang harus dilalui, salah satunya membuat materi dan menguraikan problematika dewasa ini dalam bentuk makalah.

“Kaderisasi itu nafas organisasi! Hal itulah yang sering saya tanamkan kepada para kader GmnI, karena kaderisasi merupakan suatu proses untuk meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan, sehingganya diharapkan, kader-kader GmnI Banggai dapat menjadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan yang bisa berkontribusi langsung untuk pembangunan daerah, bangsa dan negara,” tegas dia.

Ditanyai perihal agenda KTM yang telah dijalani di Tobelo, Rifat Hakim, melalui panggilan telepon mengungkapkan, ia tiba di Malut pada tanggal 24 November, kemudian menginap di Kota Ternate, lalu keesokan harinya, Rifat menempuh perjalanan ke Halut selama kurang lebih 4 jam.

“Pukul 5 sore, pembukaan kegiatan dirangkaikan dengan dialog publik, sekarang kita masih istirahat dan besok akan melaksanakan kegiatan sesuai jadwal yang ditentukan panitia pelaksana,” sambung Rifat.

Terkait kaitan antara identitasnya sebagai seorang Marhaenis (sebutan umum untuk kader GmnI) dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan lembaga kemahasiswaan, Rifat menuturkan, GmnI adalah organisasi yang berasaskan, antara lain nasionalisme, sehingga sebagai mahasiswa khususnya di untika, penting untuk memiliki rasa kecintaan dan juga kesadaran sebagai suatu bangsa yang mempunyai kebudayaan yang melekat pada identitas bangsa tanpa membeda-bedakankan suku, ras, agama dan bahkan status sosial.

“Selain penanaman nilai-nilai kebangsaan yang diperoleh ketika menjadi kader GmnI, pengetahuan tentang skil-skil dasar organisasi saya juga bertambah, sehingga menjadi lebih matang ketika bergelut di organisasi intra kampus,” tambah Rifat. (abd)