
Film “Maliu” merupakan proyek kreatif yang digarap secara mandiri oleh anak muda Kabupaten Banggai. Mulai dari sutradara, penulis naskah , produser, kru teknis maupun aktor, semuanya berasal dari daerah Banggai dengan latar profesi yang berbeda-beda, ada yang masih berstatus pelajar, mahasiswa, ada pula yang merupakan pengusaha, wiraswasta bahkan bekerja di instansi pemerintah.
“Maliu” sendiri, menurut keterangan Suciansyah Nasution yang bertanggung jawab sebagai pimpinan produksi, merupakan film yang dikerjakan bersama antara Studio Aurora Project, Sanggar Teater Athena, dan Komunitas Luwuk Vidgram.
“Saat ini film memasuki tahapan pasca produksi untuk pematangan karya dan persiapan pemutaran, insyaAllah kami akan melakukan penayangan perdana tanggal 25 Januari 2022 di spot-spot yang akan diinfokan selanjutnya,” sambung pria yang akrab disapa Ucok itu.
Ikbal Maulana Aziz, sutradara film “Maliu”, dikesempatan wawancara dengan pewarta berujar, trailer ini sebagai penanda bahwa akan lahir sebuah film original anak daerah luwuk Banggai yang saling bekerjasama untuk melahirkan karya, dan juga sebagaimana fungsi dari trailer itu sendiri, yakni sebagai media promosi sebuah film sehingga para calon penonton telah mengetahui bahwa film ini akan segera dirilis.
“Diharapkan dengan adanya trailer dari film Maliu, kami dapat melihat seberapa besar antusias masyarakat, utamanya masyarakat Banggai dalam menyambut film ini, walaupun trailer belum bisa dijadikan tolak ukur kesuksesan sebuah film,” tambah Ketua Sanggar Teater Athena itu.
Ikbal melanjutkan, tahapan demi tahapan telah dilalui sebelum sampai ke pembuatan trailer. Proses paling pertama yang dilakukan adalah pemilihan naskah lalu kemudian dibedah dan diinterpretasikan seobjektif mungkin, setelah itu mereka mulai menyusun tim, open casting dan akhirnya dipilih para aktor yang akan memainkan tokoh-tokoh di film “Maliu”.
“Keseluruhan tahapan hingga pengambilan gambar dan editing telah berlangsung selama 1 tahun, apalagi di pertengahan terbentur situasi pandemi, tapi Alhamdulillah tinggal sebulan lagi kita bisa menyaksikan film Maliu,” beber Ikbal.
Perihal substansi dari film “Maliu”, Abdy Gunawan selaku pemilik ide cerita dan penulis skenario ikut memberikan komentar. Ia berujar, “Maliu” terdiri dari 54 scene, berdurasi sekitar 1 jam. Maliu atau Moliu adalah kata yang sering orang Luwuk, baik orang tua maupun anak muda gunakan untuk melarang seseorang melakukan sesuatu yang pamali atau tabu, jadi ia terpikir untuk menggali lebih dalam lalu mengangkatnya menjadi sebuah film. Naskahnya ditulis pakai dialek lokal sebagai ciri khas untuk memperkenalkan budaya kepada penonton Maliu di luar Banggai.
Di akhir wawancara, salah satu aktor “Maliu”, Budiman mengungkapkan, berkat kerjasama seluruh team, mereka bisa menyelesaikan film tersebut. Dari proses pembuatan film, Budiman banyak mendapatkan pengalaman perihal penggarapan film, berupa momen kebersamaan seluruh team di lokasi syuting, bagaimana proses latihan yang baik, dan yang terpenting mendapatkan ilmu yang selama ini belum pernah ia dapatkan.
“Saya mengajak teman-teman baik itu muda atau dewasa, mari kita sama-sama menyaksikan pemutaran film Maliu pada tanggal 25 januari 2022,” tutup dia. (abd)
