
Pasalnya, dari sekian banyak kursi yang disediakan Sekretariat DPRD dalam rapat istimewa itu, sebagian besarnya tampak kosong, dan hanya sebagian kecil yang terisi.
“Coba kita lihat yang hadir di belakang, kayak tidak ada beban. Padahal kita bicara Ranperda, yang ini bicara kemaslahatan untuk kita. Tapi coba lihat yang hadir,” kata Mustakim seraya menunjuk kea rah kursi udangan eksekutif yang kosong.
Mustakim menjelaskan, saat ini sudah harus ada perubahan pola pikir di lingkup pemerintahan daerah. Sebab jika tidak, maka kondisi daerah akan stagnan, alias tidak mengalami perubahan.
Mustakim kemudian memperkirakan hal itu berkaitan dengan akan berakhirnya masa jabatan Bupati. Padahal, kata dia, ketiadaan Bupati tidak harus mempengaruhi semangat dan kinerja eksekutif.
“Aapakah ini dipengaruhi oleh karena Bupati dan Wakil Bupati tinggal beberapa hari. Itu tetap tidak ada pengaruhnya. Mau runtuh ini daerah, eksekutif tetap harus jalan,” cetus Mustakim.
Karena itu kepada Pimpinan DPRD, dia meminta agar hal dicatat sebagai hal penting. Ia juga meminta agar undangan tidak hanya dikirim melalui Grup Whatsapp.
“iya. Karena kayaknya mereka tidak percaya bahwa undangan itu, Sekda atau Bupati yang kasi masuk di grup. Mereka harus diundang lebih terhormat lagi. Harus di antar dengan piring pakai mas baru mereka yakin mereka diundang,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Ketua DPRD menjelaskan, dalam pelaksanaan kebijakan, DPRD mempunyai tanggung jawab yang sama dengan eksekutif. Maka dengan itu, perlu dilakukan evaluasi.
Sehingga dalam kesempatan tersebut, Ketua DPRD memerintahkan Sekretaris DPRD untuk membuat daftar hadir untuk Rapat Paripurna selanjutnya, terutama buat kepala OPD.
“Tiga kali tidak menghadiri paripurna, maka kita akan rekomendasikan harus diganti,” tegas Rusdin.
Sebagai penyelenggara pemerintahan, DPRD, sebut dia, harus mempunyai sikap tegas. Ini bukan sebagai bentuk keegoisan atas kewenangan, tetap itu merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan. (Rif)
